MAKASSAR – FusilatNews – Upaya menghapus kesenjangan digital bagi penyandang disabilitas netra terus menunjukkan langkah nyata. Yayasan Gammara Inklusi bersama Komunitas Kita-Kita Tonji resmi meluncurkan program pelatihan teknologi tatap muka bertajuk Tek Off (Tekno Kita Offline) di Makassar, Sabtu (1/8), sebagai ikhtiar memperkuat kemandirian tunanetra dalam memanfaatkan teknologi digital.
Pelaksanaan perdana program tersebut diikuti tujuh peserta penyandang disabilitas netra. Materi awal difokuskan pada penggunaan aplikasi dompet digital (e-wallet), mulai dari pengenalan fitur keamanan, aksesibilitas, hingga praktik melakukan transaksi secara mandiri dan aman.
Program ini menjadi jawaban atas kebutuhan pembelajaran teknologi yang lebih aplikatif bagi penyandang tunanetra, di tengah semakin pesatnya transformasi digital di berbagai sektor kehidupan.
Berawal dari Semangat “Tunanetra Bisa Tonji”
Tek Off merupakan pengembangan dari program Tekno Kita, kelas pembelajaran teknologi yang sebelumnya diselenggarakan secara daring oleh Komunitas Kita-Kita Tonji.
Komunitas yang berdiri sejak 5 Februari 2017 itu telah menjadi ruang silaturahmi sekaligus pemberdayaan bagi penyandang tunanetra di Makassar dan sekitarnya. Selama lebih dari sembilan tahun, komunitas ini aktif membangun jejaring bersama penyandang disabilitas, keluarga, dan berbagai mitra dengan mengusung slogan “Tunanetra Bisa Tonji!”
Meski pembelajaran daring dinilai mampu menjangkau lebih banyak peserta, berbagai kendala teknis dalam penggunaan perangkat sering kali sulit diselesaikan hanya melalui komunikasi virtual. Karena itu, Tek Off dihadirkan sebagai pelengkap, bukan pengganti, kelas online.
Penggagas kegiatan sekaligus perwakilan Komunitas Kita-Kita Tonji, M. Sony Sandra, menjelaskan bahwa model pembelajaran tatap muka memungkinkan setiap kendala teknis pada perangkat peserta dapat diselesaikan secara langsung.
“Melalui metode offline ini, setiap permasalahan pada perangkat peserta bisa langsung diidentifikasi dan ditangani oleh instruktur maupun rekan-rekan lain yang memiliki pemahaman teknis. Untuk angkatan pertama ini diikuti tujuh peserta, dan kami rencanakan berjalan dua kali dalam sebulan,” ujar Sony.
Selama proses pembelajaran berlangsung, materi juga tetap dibagikan kepada anggota komunitas yang tidak hadir melalui rekaman audio, sehingga mereka tetap dapat mengikuti jalannya pelatihan dari lokasi masing-masing.
Pelatihan dipandu oleh Fajrin Syam sebagai instruktur utama, didukung sejumlah asisten instruktur yang berasal dari kalangan peserta sendiri dengan menerapkan konsep peer-to-peer learning, yakni pembelajaran antar sesama penyandang disabilitas.
Teknologi Menjadi “Mata Kedua”
Yayasan Gammara Inklusi menilai penguasaan teknologi kini menjadi kebutuhan mendasar bagi penyandang tunanetra agar mampu hidup lebih mandiri dan produktif.
Sebagai lembaga yang bergerak di lima bidang utama yang dirangkum dalam konsep PASTE (Pendidikan, Agama, Sosial, Teknologi, dan Ekonomi), Gammara Inklusi memandang teknologi sebagai instrumen pemberdayaan yang mampu mengurangi ketergantungan penyandang disabilitas kepada orang lain.
“Pengetahuan teknologi dapat mengurangi ketergantungan kita kepada orang lain. Bahkan saat ini, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi aksesibel di ponsel pintar bisa diibaratkan sebagai ‘mata kedua’ bagi tunanetra. Kita bisa menyelesaikan banyak tugas secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada bantuan orang awas,” ungkap perwakilan Yayasan Gammara Inklusi.
Praktik Langsung Dinilai Lebih Efektif
Peserta pelatihan menyambut positif hadirnya kelas tatap muka tersebut. Salah seorang peserta, Fera Rappeasi, mengaku metode praktik langsung jauh lebih mudah dipahami dibandingkan dengan pembelajaran melalui grup daring.
“Bagi kami, praktik langsung sambil mendengarkan penjelasan itu jauh lebih efektif. Kalau di kelas online, respons atas pertanyaan kita sering kali tertunda atau tertimbun. Lewat tatap muka, proses tanya-jawab berlangsung cepat dan pendampingannya lebih personal,” kata Fera.
Membangun Inklusi Digital
Melalui Tek Off, Yayasan Gammara Inklusi dan Komunitas Kita-Kita Tonji berharap semakin banyak penyandang disabilitas netra yang memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi digital secara aman dan mandiri.
Program ini juga diharapkan menjadi tonggak penguatan inklusi digital di Sulawesi Selatan sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk layanan keuangan digital, kecerdasan buatan, dan berbagai aplikasi yang mendukung kehidupan sehari-hari. Dengan aksesibilitas yang tepat, penyandang disabilitas mampu menjadi bagian aktif dalam ekosistem digital yang terus berkembang.






















