Menurut perkiraan terbaru, populasi Vietnam pada tahun 2021 adalah sekitar 98,7 juta jiwa. Ia merupakan salah satu negara dengan populasi yang cukup besar di Asia Tenggara, dan pertumbuhan populasi di negara tersebut telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Sementara Indonesia, populasi pada tahun 2021 adalah sekitar 276 juta jiwa.
Bila jumlah populasi itu, disebut sebagai “consumers”, maka sejatinya Indonesia akan menjadi target Negara untuk berinvestasi yang lebih menarik dan berpeluang untung jauh lebih besar.
Tetapi mengapa apple lebih tertarik berinvestasi di Negara Vietnam daripada di Indonesia?
Apple diketahui berinvestasi senilai Rp 1,6 triliun di Indonesia. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan investasi Apple di dua negara tetangga, Singapura dan Vietnam.
Apple mengumumkan investasi di Vietnam senilai US$15,84 miliar atau Rp 256 triliun. Perusahaan juga telah menciptakan 200 ribu pekerjaan di negara tersebut.
Sementara di Singapura, Apple mengucurkan dana Rp 4 triliun untuk memperluas kampus regional dan kantor.
“Banyak orang yang enggak paham kalau investasi manufaktur Vietnam itu tax holiday 50 tahun. Kita mau enggak? Itu Vietnam kasih insentifnya agak bombastis, tapi kan semua negara punya kepentingan,” jelas Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie di kantor Kementerian Kominfo, Jumat (19/4/2024).
Apa yang dimaksud dengan Kebijakan Vietnam Pro Business?
Kebijakan “pro-business” di Vietnam mengacu pada serangkaian langkah dan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif dan mendukung pertumbuhan sektor swasta serta investasi asing. Beberapa contoh kebijakan pro-bisnis yang diterapkan oleh Vietnam meliputi:
- Reformasi Struktural: Pemerintah Vietnam telah melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan meningkatkan daya saing. Ini termasuk reformasi sektor perbankan, perbaikan regulasi, dan penyederhanaan proses bisnis.
- Pelonggaran Regulasi: Vietnam telah melakukan pelonggaran regulasi untuk mengurangi birokrasi dan mempercepat proses perizinan usaha. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mempermudah berbisnis bagi perusahaan lokal maupun asing.
- Insentif Pajak: Pemerintah Vietnam memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi di sektor-sektor strategis atau di daerah-daerah tertentu. Hal ini bertujuan untuk mendorong investasi asing dan pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah yang membutuhkan.
- Dukungan Infrastruktur: Pemerintah Vietnam telah menginvestasikan dalam pengembangan infrastruktur, termasuk jaringan transportasi dan teknologi informasi, untuk mendukung kegiatan bisnis dan investasi.
Apa yang dimaksud Pro-Gibran?
Ada beberapa alasan mengapa investor asing mungkin enggan berinvestasi di Indonesia. Beberapa faktor yang mungkin memengaruhi keputusan ini termasuk:
- Ketidakpastian Politik: Ketidakpastian politik seringkali menjadi alasan utama yang membuat investor ragu untuk berinvestasi. Perubahan kebijakan yang tiba-tiba atau situasi politik yang tidak stabil dapat menciptakan risiko bagi investasi jangka panjang.
- Regulasi yang Tidak Jelas: Regulasi yang kompleks atau tidak jelas dapat menjadi hambatan bagi investor asing. Ketidakpastian dalam hukum atau prosedur perizinan yang rumit dapat menghambat proses investasi dan meningkatkan risiko bisnis.
- Masalah Infrastruktur: Infrastruktur yang kurang berkembang atau tidak memadai juga dapat menjadi alasan bagi investor asing untuk enggan berinvestasi. Keterbatasan infrastruktur seperti jaringan transportasi yang buruk atau pasokan listrik yang tidak stabil dapat menghambat operasi bisnis.
- Korupsi dan Ketidakadilan: Masalah korupsi dan ketidakadilan dalam sistem hukum juga dapat menjadi hambatan bagi investor asing. Investor sering kali menghindari negara-negara di mana korupsi merajalela atau di mana mereka tidak yakin bahwa hak mereka akan dilindungi oleh hukum.
- Persaingan Global: Persaingan dengan negara-negara lain yang menawarkan insentif investasi yang lebih menarik juga dapat membuat investor enggan berinvestasi di Indonesia. Negara-negara lain mungkin menawarkan kondisi bisnis yang lebih menguntungkan atau lingkungan investasi yang lebih stabil.
Semua faktor ini dapat berdampak pada keputusan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Untuk menarik investasi asing, pemerintah perlu mengatasi masalah-masalah ini dan menciptakan lingkungan bisnis yang lebih ramah bagi investor.
Sebagai Case study, terjadi pada Elon Musk. Mengapa ia memutuskan untuk berinvestasi di Malaysia, daripada di Indonesia?
Akademisi dan praktisi bisnis, Rhenald Kasali mengungkapkan beberapa alasan Elon Musk mantap berinvestasi di Malaysia. Salah satu alasan utamanya adalah komitmen kuat Malaysia terhadap energi terbarukan.
“Mengapa Malaysia yang dipilih, jawabannya karena Malaysia menawarkan sejumlah hal yang sudah pasti adalah mereka mau menggunakan energi terbarukan. Kesiapan Malaysia dalam merangkul dan menggunakan sumber energi terbarukan sangat sejalan dengan misi Tesla untuk mempercepat transisi dunia menuju energi berkelanjutan,” jelas Rhenald, dikutip dari kanal Youtube-nya pada Kamis (10/8/2023).
























