Pertanyaan yang sangat mendasar adalah, agenda diplomasi Jokowi dengan Putin itu, apa? Lalu apakah misi perdmaiannya akan berhasil? Itulah, diskursus para pemerhati didalam negeri kita, menyoroti muhibah perdamaian Jokowi ke Ukraina dan Rusia.
Ada dua issue yang menjadi persoalan Perang Rusia dan Ukraina. Pertama persoalan politik, yang menyebabkan mengapa Putin memutuskan untuk memborbardir Ukraina habis-habisan. Tak mau mendengar nasihat kiri kanan. Tidak mau juga memikirkan lebih jauh dampak-dampaknya. Inilah, yang menyulitkan siapapun untuk bisa mempengaruhi Putin, supaya bisa membujuknya agar luluh bisa menyetop penyerbuan ke Ukraina. Nampaknya ini persoalan harga diri negara dan bangsanya
Bila aspek issue Politik yang disampaikan, Jokowi tidak akan berhasil, dapat mempengaruhi Presiden Putin, mengurangi syahwat memborbardir Ukraina. Malah, sebaliknya. Simbul tidak terpengaruh oleh langkah diplomasi Jokowi tersebut, Putin meningkatkan serangan ke Ukraina, seusai menerima Jokowi.
Seperti yang dilaporkan Kompas, sbb : Rusia dilaporkan telah meningkatkan serangan membabi buta di Ukraina pada Kamis (30/6/2022). Faktanya ini terjadi setelah Presiden RI Joko Widodo berkunjung ke negara itu dan diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Madrid, Spanyol pada Rabu (29/6/2022).
Namun, peningkatan serangan Rusia itu tidak terjadi di Kota Irpin, Ukraina utara yang baru dikunjungi Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana, maupun di Ibu Kota Kyiv sebagai lokasi pertemuan antara Presiden RI Presiden Ukraina Volodymyr Z
Dari Issue Ekonomi, sebenarnya Jokowi bisa bicara banyak soal ini, karena ini dampak lain, yang justru dirasakan langsung oleh sejumlah negara-negara, yang justru tidak terkait dengan kepentingan Rusia di Ukraina. Tetapi boikot negara-negara G7 dan Nato kepada Rusia, ini bisa juga menjadi pertimbangan dan ganjalan dari Putin, sehingga harus berkeras kepala untuk terus melumpuhkan Ukraina, sampai tujuannya tercapai.
Jadi persoalan dapat berhasil menghentikan Perang Rusia vs Ukraina, jauh dari perkiraan banyak pihak. Tetapi hanya ada, pada tingkat berharap-harap saja.
Sayang sekali Moeldoko, menjelaskan hal tersebut dalam versi lain, sehingga seolah-olah tidak membaca, bahwa negara-negara G7 dan NATO, dalam berbagai ihtiar-ikhtiar yang dilakukannya, adalah dalam rangka menekan dan mengakhiri perang tersebut. Tetapi Moeldoko mengenyampingkan hal tersebut dengan, menyatakan sbb :
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan Indonesia memilih untuk aktif bergerak mengupayakan perdamaian dunia melalui misi damai Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia, ketika negara lain lebih memilih diam atau memihak.
“Ini momentum yang sangat baik bagi bangsa untuk membangun pride (kebanggaan) nasional. Di saat negara lain memilih untuk diam atau memihak, tapi Indonesia memilih untuk aktif bergerak mengusahakan perdamaian,” kata Moeldoko yang dikutip dari keterangan tertulis Kantor Staf Presiden, hari ini.
Moeldoko mengatakan kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia menjadi momentum untuk menumbuhkan kebanggaan nasional. Hal itu karena kehadiran Presiden Jokowi bukan sebagai juru runding, melainkan membawa misi perdamaian dan kemanusiaan.
“Presiden juga memberikan contoh pada masyarakat tentang pentingnya menyuarakan hal-hal baik tentang kemanusiaan,” kata dia.
Presidensi G20 Indonesia di Bali dijadwalkan berlangsung pada 15-16 November 2022. Acara tersebut akan menjadi puncak dari proses dan usaha intensif seluruh alur kerja presidensi G20. Mulai dari pertemuan tingkat menteri, kelompok kerja, dan engangement group yang dilakukan selama satu tahun penuh.
Presidensi G20 Indonesia menjadwalkan lebih dari 180 rangkaian kegiatan utama, termasuk Pertemuan Engagement Groups, Pertemuan Working Groups, Pertemuan Tingkat Deputies/Sherpa, Pertemuan Tingkat Menteri, hingga Pertemuan Tingkat Kepala Negara (KTT) di Bali.
Bukan mustahil juga Putin berfikir, jangan-jangan di G20, kompak dibawah komando Biden mereka bakal membully Rusia. Biden telah menyatakan supaya Putin excluded dalam summit G20 nanti.
























