• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jalan Sunyi Penentuan Nasib Sendiri bagi Israel-Palestina

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
February 18, 2023
in Feature
0
Dalam file gambar ini, aktivis Muslim Indonesia memegang plakat dan mengibarkan bendera nasional Palestina saat protes terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem al-Quds yang diduduki sebagai ibu kota Israel. (Photo EPA)

Dalam file gambar ini, aktivis Muslim Indonesia memegang plakat dan mengibarkan bendera nasional Palestina saat protes terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem al-Quds yang diduduki sebagai ibu kota Israel. (Photo EPA)

Share on FacebookShare on Twitter



Jakarta – Eskalasi konflik yang terjadi minggu ini di Israel dan Palestina memperlihatkan kegagalan dalam mengembangkan proses perdamaian langkah demi langkah berdasarkan kepercayaan, pemahaman, dan pengakuan bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk hidup, dan hidup secara merdeka dan aman. Mungkin masih relevan untuk memulai tulisan singkat ini dengan mengutip pemikiran seorang filosof Stoa, Seneca: homo sacra res homini.

Sudah banyak pemimpin negara dan komunitas internasional, dengan interesnya masing-masing, menyerukan agar konflik dan kekerasan yang menyelimuti Israel-Palestina selama bertahun-tahun tersebut dapatnya dihentikan. Tanpa terkecuali representasi dari negara kita dalam beberapa waktu berselang turut ambil bagian lagi dalam upaya yang serupa itu. Sebagai mana rilis di laman resmi PUIC (30/1/2023), di Konferensi Persatuan Parlemen Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ke-17 di Aljazair, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan pidato terkait dengan soal isu Palestina dan partisipasi perempuan bagi negara-negara Islam.

Terlepas dari efektivitasnya, usaha-usaha resmi seperti itu (baca: governmental agents) mungkin tetap perlu dilakukan. Lebih lagi dalam konteks Indonesia, secara historis bangsa kita memiliki hubungan yang sangat monumental dengan Palestina, di mana jamak diketahui bahwa Palestina merupakan negara pertama di dunia yang mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto.

Sementara dengan Israel, negara kita memiliki hubungan bilateral yang cukup baik meskipun tidak punya hubungan diplomatik resmi. Negara kita memiliki hubungan tidak resmi yang meliputi hubungan dagang, pariwisata, dan keamanan. Pada 2012, Indonesia sepakat menaikkan status hubungannya dengan Israel dan membuka konsulat kehormatan di Ramallah yang dipimpin seorang diplomat sederajat duta besar.

Diplomat tersebut juga bertugas secara tidak resmi sebagai perwakilan Indonesia saat membina hubungan dengan Israel. Tetapi, karena permasalahan politik di kedua belah pihak (Israel-Palestina) perjanjian ini tidak pernah terwujud dan sampai sekarang tidak ada perwakilan Indonesia di Israel atau Otoritas Palestina. Pertanyaannya kemudian, mengapa upaya-upaya dari komunitas internasional serupa itu acap gagal?

Bias Kepentingan

Dalam pembacaan saya, ada compounding factors yang bias kepentingan negara atau agen internasionalnya masing-masing yang wujudnya dapat berupa kepentingan ekonomi bahkan kepentingan agama. Selagi upaya-upaya yang dilakukan oleh representasi negara atau agen internasionalnya tersebut tidak mengutamakan hak hidup dari kedua warga negara tersebut (Israel-Palestina), jalan terjal tak ada habisnya sepanjang menuju perdamaian dan penentuan nasib sendiri bagi keduanya.

Oleh karenanya, perlu ada agen perubahan (agent of change) yang progresif bergerak dari dalam komunitas mereka sendiri. Agen tersebut mesti berdiri di atas hak semua orang dan masyarakat untuk hidup dengan penentuan nasib sendiri, keamanan, dan perdamaian. Agen tersebut mesti mendukung hak rakyat Palestina untuk membentuk negara mereka sendiri dan hidup bebas dalam demokrasi mereka sendiri.

Jika agen itu adalah kita, kita mesti menentang tindakan provokatif berkelanjutan dari negara Israel yang mengizinkan pemukiman di Tepi Barat dan penolakan untuk mengizinkan Gaza membangun akses mereka sendiri ke seluruh dunia yang memungkinkan perdagangan dan pembangunan.

Kita juga mesti mendukung warga Israel untuk dapat hidup damai dan bebas dari masalah keamanan. Karena pasti ada rasa sakit yang signifikan bagi semua keluarga yang terlibat dalam konflik tersebut, di mana orang yang dicintai telah terbunuh, terluka, dan trauma.

Kalau kita amati, konflik antar generasi yang menyelimuti kedua negara tersebut telah menghasilkan budaya kebenaran, hak dan korban yang tersebar luas bersama dengan sistem pertahanan dan perawatan diri. Budaya-budaya ini acap memperkuat persatuan di pihak masing-masing, tetapi gagal menciptakan kondisi untuk bergerak menuju perdamaian. Lalu, agen macam apa yang dapat mengemban tugas mulia tersebut?

Kesadaran Komunikasi

Dalam bayangan saya, agen tersebut mestilah non-governmental agent; suatu organisasi kemanusiaan non pemerintah yang bekerja secara profetik dalam pembangunan perdamaian dan penyelesaian konflik. Tetapi sejatinya dari mana pun datangnya anggota agen tersebut mesti memiliki kesadaran komunikasi deliberatif bahwa kepemimpinan diperlukan dari dalam pihak masing-masing untuk membangun budaya baru berdasarkan visi setiap orang yang hidup dengan perdamaian, keamanan, kebebasan yang setara, untuk generasi ini dan mendatang (Habermas, 1981).

Kepemimpinan seperti itu bisa datang dari berbagai tingkatan, termasuk politisi, kelompok masyarakat sipil, komunitas, dan tentu profesi-profesi relevan. Ada banyak contoh ketika masyarakat sipil mampu memajukan visi baru, berdampak positif pada proses politik dan mengarah pada perdamaian. Perkembangan seperti itu perlu datang dari dalam komunitas yang terlibat dalam konflik itu sendiri.

Memang momentum seperti ini tidak kemudian semuanya menjadi mudah. Tetapi setidaknya ada jalan sunyi; sunyi dari bias kepentingan pihak eksternal, dalam menuju perdamaian dan penentuan nasib sendiri bagi keduanya.

Sebagai catatan penutup perlu ditegaskan, siklus kekerasan, perampasan tanah, kontrol, provokasi, dan pembalasan yang berkelanjutan kemungkinan besar akan mengutuk generasi berikutnya untuk juga hidup dengan perang dan tragedi. Agen perubahan tersebut mesti menyediakan dirinya untuk berbagi pengalaman literatif dan memberikan dukungan kepada organisasi lokal yang bekerja untuk membangun proses perdamaian berdasarkan visi kesetaraan, kebebasan dan perdamaian.

Mohammad Suud, Dosen Kewarganegaraan di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya.

Dikutip dari detik.com, Jumat 17 Februari 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sambo Dipidana Mati, Semua “Happy”

Next Post

Takut Dengan Koalisi Perubahan, PDIP Tutup “Pintu Rapat – Rapat”

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”
Feature

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

April 24, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi
Feature

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
Next Post
PDIP Bisa Terisolir, 8 Parpol DPR Kumpul Hari Ini Bahas Sistem Pemilu

Takut Dengan Koalisi Perubahan, PDIP Tutup "Pintu Rapat - Rapat"

Manusia Indonesia Masuk Dalam 10 Besar Manusia Terpendek di Dunia Akibat Stunting?

Manusia Indonesia Masuk Dalam 10 Besar Manusia Terpendek di Dunia Akibat Stunting?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

April 24, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

April 24, 2026

Perang, Kepentingan Global, dan Harapan Kemerdekaan Palestina

April 24, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

April 24, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist