• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jejak Tionghoa di Ranah Minang

Redaktur Senior 01 by Redaktur Senior 01
January 23, 2023
in Feature, Science & Cultural
0
Tahun Kelinci Air, Tahun Baru Imlek 2023
Share on FacebookShare on Twitter

Akulturasi masyarakat Tionghoa dan Minangkabau menghasilkan budaya baru dan menambah khasanah kekayaan tradisi di Ranah Minang.

Keberadaan orang Tionghoa di Padang, ibu kota Provinsi Sumatra Barat, terkait erat dengan fenomena keluarnya mereka dari tanah kelahiran untuk berdagang ke seluruh dunia sejak berabad silam, salah satunya menuju Nusantara. Luasnya persebaran mereka tidak semata-mata membuatnya tetap menjadi etnis homogen. Proses akulturasi selama ratusan tahun juga telah melahirkan karakteristik unik dari orang Tionghoa di Nusantara, khususnya di Kota Padang.

Etnis Tionghoa perlahan mulai terintegrasi dengan kehidupan masyarakat Padang bersama suku Minangkabau, Jawa, Batak, Nias, Melayu, Sunda, dan Mentawai. Mayoritas masyarakat Tionghoa di kota seluas 695 kilometer persegi itu adalah sebagai pedagang.

Mereka banyak terkonsentrasi di kawasan Pondok, pesisir Padang dekat muara Batang Arau, sungai yang membelah kota dengan Gunung Padang di Kecamatan Padang Selatan. Wilayah pesisir menjadi favorit etnis ini ketika menjejakkan kaki di suatu wilayah untuk tujuan berniaga sebelum menyebar ke wilayah yang lebih jauh di daratan Sumbar.

Sejarawan Mardanas Safwan, dalam Sejarah Kota Padang, menyebutkan bahwa masyarakat Tionghoa sudah berdiam di Kampung Pondok selama delapan generasi dan jumlahnya telah berkembang menjadi sekitar 20.000 jiwa pada 2021, seperti dilansir dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Padang. Kendati tidak diketahui pasti kapan mereka mendarat di Ranah Minang, antropolog Belanda Fredericus Colombijn berkata lain.

Colombijn menduga, orang-orang Tionghoa masuk ke Padang dan daerah lainnya di Sumbar hampir bersamaan dengan tibanya bangsa Belanda. Yaitu, ketika organisasi dagang Hindia Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendirikan markasnya di Padang pada abad 17 atau sekitar tahun 1664. Demikian ia ungkapkan di Patches of Padang: The History of an Indonesian Town in the Twentieth Century and the Use of Urban Space.

Kedatangan pertama etnis Tionghoa ke pantai barat di Minangkabau diperkirakan melalui pantai barat Sumatra. Seorang Indonesianis asal Inggris, Christine Dobbin, ketika meneliti budaya Minangkabau pada awal 1980-an menemukan bukti bahwa sesungguhnya orang-orang Tionghoa yang kini bermukim di Padang awalnya bermigrasi dari Pariaman dan sebagian lainnya dari tanah Jawa pada era 1630-an. Dalam penelitiannya, Dobbin mengetahui, kapal-kapal dagang saudagar Tionghoa itu bersandar di Pariaman sejak awal abad 17.

“Kapal-kapal dagang etnis Tionghoa merapat di Pariaman termasuk dari agen dagang mereka di Banten untuk mencari rempah dan garam. Mereka dilaporkan sudah membangun usaha di Pariaman sejak 1633,” tulis Dobbin dalam Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy Central Sumatra 1784-1847.  

Kesamaan sifat dan kebiasaan seperti etos berdagang, cepat beradaptasi dengan kehidupan lokal, serta kemiripan latar sosial budaya membuat etnis Tionghoa mudah diterima oleh penduduk asli Padang, yaitu suku Minangkabau. Pada sisi lain, menurut dosen sejarah Universitas Negeri Padang, Erniwati, semakin bertambahnya jumlah penduduk etnis Tionghoa dari masa ke masa awalnya turut disebabkan oleh kondisi alam. Itu terjadi ketika ada perubahan siklus muson setiap enam bulan.

Dalam bukunya Asap Hio di Ranah Minang: Komunitas Tionghoa di Sumatra Barat, Erniwati menyebut, setelah siklus muson berbalik arah ke daratan Asia, maka saudagar-saudagar Tionghoa akan balik ke negaranya. Tak sedikit pula dari etnis Tionghoa yang akhirnya memutuskan menetap dan melakukan kawin campur dengan masyarakat setempat. Mereka kemudian membentuk sebuah identitas lokal baru yang unik dan di kemudian hari memperkaya khasanah budaya Minangkabau.

Dalam berkomunikasi, mereka banyak menyisipkan kosa kata bahasa ibu ke dalam bahasa tutur masyarakat lokal dan menghasilkan bahasa Minang Pondok. Contohnya cidang atau cici gadang untuk menyebut perempuan lebih tua. Cici artinya kakak perempuan dan gadang dalam bahasa Minang adalah besar.

Ada lagi batok dalam dialek Tionghoa yang berarti batuk, meski orang Minang melafalkannya sebagai batuak. Begitu pula ketika air diucapkan sebagai aek oleh para penutur Minang Pondok ketika masyarakat Minangkabau menyebutnya sebagai aia. 

Tak hanya masyarakat Minangkabau yang dapat menerima orang-orang Tionghoa ke dalam kehidupan di Ranah Minang. Hal serupa juga telah membawa masyarakat Tionghoa khususnya kelompok pedagangnya kehadirannya disambut kolonial Belanda.

Mereka mendapatkan beberapa kemudahan di sektor perniagaan dan menciptakan ekosistem dagang yang lebih maju di pantai barat dan tengah Sumatra. Itu ditandai dengan mulai derasnya kedatangan kapal-kapal dagang dari Persia dan India selaku relasi usaha pedagang Tionghoa Padang.  

Dobbin menulis, pada 1829, empat saudagar Tionghoa Minang seperti Li Heng, Li ma-chiao, Li Shing, dan Hu A-chiao muncul sebagai orang-orang terkaya karena kesuksesan mengekspor kopi asal Minangkabau ke Amerika dan daratan Eropa. Belanda juga mulai mengangkat patih dari kelompok Tionghoa untuk membantu mengatur perniagaan dan memungut pajak. Itu dilandasi oleh kemahiran patih-patih ini dalam berniaga dan menguasai beladiri kungfu.

Tujuan Wisata

Kolonial Belanda juga menetapkan Kampung Pondok sebagai permukiman khusus etnis Tionghoa di Padang lewat kebijakan wijkenstelsel yaitu Besluit van den Gouverneur van Sumatra’s Westkust nomor 758 tanggal 30 Oktober 1884. Hasilnya, Kampung Pondok menjadi pusat kegiatan etnis Tionghoa terbesar di Sumbar yang tecermin dari keberadaan Kelenteng See Hien Kiong, Pasar Tanah Kongsi, serta berbagai organisasi perkumpulan.

Dalam perkembangannya, hanya ada dua perkumpulan besar yang masih bertahan hingga kini, yakni Himpunan Tjinta Teman/Hok Tek Tong (HTT) dan Himpunan Bersatu Teguh/Heng Beng Tong (HBT). Pada masa sekarang ini, kawasan Pondok telah menjelma menjadi ikon baru wisata budaya di Kota Padang.

Perwujudan akulturasi masyarakat Tionghoa dan Minangkabau di Kampung Pondok yang telah terjalin berabad silam ditunjukkan lewat beragam kegiatan. Misalnya dalam menyambut Tahun Baru Imlek seperti adanya Pasar Malam Imlek, Festival Cap Go Meh, dan Festival Bakcang Ayam Lamang Baluo.

Seperti dikutip dari Info Publik, ketika membuka Pasar Malam Imlek, Rabu (11//2023), Wali Kota Hendri Septa menyebutkan, kegiatan tersebut untuk membuktikan sinergi tiap etnis di Padang dalam membangun negeri. Selain menjadi kegiatan tetap Dinas Pariwisata Sumbar, Pasar Malam Imlek adalah pembuka dari sekitar 46 event pariwisata di Kota Padang sepanjang 2023 untuk menyambut Visit Beautiful West Sumatra 2023.

Tokoh masyarakat Tionghoa Padang, Albert Hendra Lukman seperti diwartakan Antara menuturkan, rangkaian kegiatan tadi merupakan bagian dari perayaan Imlek yang kembali dilakukan secara terbuka setelah absen selama tiga tahun karena pandemi. Puncaknya akan terjadi pada 5 Februari 2023 ketika diadakan pawai besar-besaran berupa atraksi barongsai, reog dan kesenian Minang dari Jembatan Siti Nurbaya Batang Arau menuju Kota Tua.

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo dan Cak Imin Resmikan Sekber Gerindra-PKB untuk Pemilu 2024, Lawan Anies dan Airlangga

Next Post

Merayakan Imlek dengan Empati

Redaktur Senior 01

Redaktur Senior 01

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Tahun Kelinci Air, Tahun Baru Imlek 2023

Merayakan Imlek dengan Empati

PBB : 2022 tahun paling mematikan sejak 2005 bagi warga Palestina sebagaimana 19 tewas oleh pasukan Israel sejak 22 November

Lindungi Korban: Catatan Awal Tahun Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist