• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jeritan Petani di Negeri Merdeka yang Terluka

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
December 25, 2025
in Feature, Komunitas
0
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA

Beberapa tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan hasil Survei Pertanian Terintegrasi terakhir yang dilakukan pada 2021. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS mengungkapkan fakta mencengangkan: 72,19 persen petani di Indonesia adalah petani skala kecil, dengan rata-rata pendapatan bersih hanya Rp5,23 juta per tahun, atau sekitar Rp435.833 per bulan. Jika dirata-ratakan, penghasilan mereka hanya Rp14.527 per hari.

Angka ini jelas berada jauh di bawah garis kemiskinan, yang menurut BPS berada pada kisaran Rp535.547 per bulan, atau sekitar Rp17.851 per hari. Sementara itu, petani skala besar menikmati pendapatan bersih rata-rata Rp22,98 juta per tahun, atau Rp1,9 juta per bulan—setara Rp63.000 per hari.

Data ini sejatinya bukan hal baru. Sejak lama, petani gurem dan buruh tani hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, terperangkap dalam lingkaran setan kemiskinan yang nyaris tak berujung.

Dengan gambaran demikian, sudah sepantasnya pemerintah memberikan perhatian serius dan berkelanjutan terhadap nasib petani. Pemerintah tidak boleh abai, apalagi bersikap seolah-olah masalah petani adalah persoalan rutin yang akan selesai dengan sendirinya. Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan nyata oleh petani dan keluarganya, bukan hanya tercermin dalam pidato dan dokumen kebijakan.

Nelangsanya kehidupan petani telah menjadi pengetahuan kolektif bangsa ini. Hampir 80 tahun pembangunan berjalan, di satu sisi memang membawa perubahan, namun di sisi lain meninggalkan luka mendalam bagi petani. Mereka kerap bertanya: ada yang keliru dengan strategi pembangunan yang ditempuh selama ini? Mengapa pembangunan justru menciptakan jurang yang semakin lebar antara mereka yang diuntungkan dan mereka yang dikorbankan?

Yang diuntungkan kerap disebut sebagai penikmat pembangunan, sementara yang dirugikan tak berlebihan jika disebut korban pembangunan. Ironisnya, keduanya hidup berdampingan seolah tanpa konflik. Padahal pertanyaan mendasarnya tak pernah benar-benar dijawab: mengapa pembangunan menghasilkan pemenang dan korban sekaligus?

Para penikmat pembangunan jumlahnya sangat sedikit, namun hidupnya mencolok. Mereka tampak melayang di atas awan kemewahan: jas dan dasi setiap hari, mobil mewah sekelas Alphard bernilai miliaran rupiah, gaya hidup sofistikatif yang kerap memancing decak kagum sekaligus ironi.

Di sisi lain, ada jutaan petani yang hidupnya sungguh memilukan. Dengan penghasilan Rp14 ribu per hari, apa yang bisa mereka lakukan? Jika berkeluarga, uang sebesar itu nyaris hanya cukup untuk menyambung hidup, bukan untuk hidup layak. Untuk bertahan, mereka terpaksa mencari tambahan penghasilan sebagai buruh—tetap dalam lingkar kemiskinan yang sama.

Hidup petani sangat jauh dari kemewahan. Harapan mereka hanya bertumpu pada hasil panen padi yang ditunggu sekitar 100 hari sejak tanam hingga panen. Di rumah mereka tak pernah terparkir Rubicon, tak ada seperangkat alat golf ratusan juta rupiah, apalagi motor gede sekelas Harley Davidson.

Yang ada hanyalah cangkul, topi caping, dan baju hitam kebesaran petani. Di lemari mereka tak tersimpan emas batangan, tak ada paspor untuk bepergian ke luar negeri, bahkan buku tabungan dan kartu kredit pun sering kali tak dimiliki. Di ruang tengah, nyaris bisa dipastikan tidak ada televisi 60 inci.

Begitulah wajah sebagian besar petani Indonesia—sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk sebuah bangsa merdeka. Banyak pengamat menyebut, petani belum hidup layak dan sejahtera. Padahal, tanpa petani, kehidupan kota akan lumpuh. Petanilah yang memproduksi beras, makanan pokok mayoritas rakyat. Karena itu, mereka kerap disebut Pahlawan Pangan.

Namun sayangnya, penghormatan kepada petani sering berhenti pada istilah dan seremoni. Perlindungan dan pembelaan terhadap petani tak cukup hanya di atas kertas regulasi. Sepuluh tahun lalu, lahir UU No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Sayangnya, undang-undang ini lebih sering tampil sebagai hiasan hukum, ketimbang hadir dalam realitas kehidupan petani. Nasib petani seperti jalan di tempat, bahkan kian terpinggirkan dari arus utama pembangunan.

Jargon Petani Bangkit Mengubah Nasib masih terdengar kosong. Petani membutuhkan jaminan nyata dari negara—jaminan bahwa mereka tidak selamanya menjadi korban pembangunan. Mereka ingin berpindah posisi, dari korban menjadi penikmat pembangunan, dan merasakan buah kemerdekaan yang hampir 80 tahun dirayakan bangsa ini.

Pertanyaan kuncinya: jaminan seperti apa yang dibutuhkan petani? Harapan paling mendasar adalah adanya kepastian bahwa menjadi petani tidak identik dengan kemiskinan. Negara harus mampu menjamin bahwa siapa pun yang memilih jalan hidup sebagai petani, akan hidup sejahtera dan bermartabat.

Di sinilah pemerintah perlu bercermin pada kemauan politiknya sendiri. Ada dua persoalan klasik yang tak kunjung tuntas: kelangkaan pupuk saat musim tanam, dan anjloknya harga gabah saat panen. Dua masalah ini berulang setiap tahun, seolah menjadi ritual penderitaan petani.

Namun patut dicatat, di era Pemerintahan Presiden Prabowo, dua persoalan tersebut mulai direspons secara lebih konkret. Pupuk bersubsidi ditingkatkan hingga 9,5 juta ton, dan kebijakan satu harga gabah diterapkan untuk melindungi petani saat panen. Hasilnya cukup menggembirakan: produksi beras meningkat, harga gabah lebih stabil, dan petani mulai tersenyum.

Kini persoalannya semakin terang. Wajah petani Indonesia masih membutuhkan banyak polesan kebijakan yang berpihak. Petani membutuhkan program yang benar-benar mampu mengubah nasib, bukan sekadar menenangkan perasaan. Kita berharap pemerintah terus mengambil langkah terbaik, agar petani tidak hanya menjadi simbol ketahanan pangan, tetapi menjadi warga negara yang sejahtera dan bahagia di tanahnya sendiri.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Periksa Sudirman Said, Pertaruhan Profesionalitas Kejagung

Next Post

Vonis Ijazah Jokowi–Gibran: Keadilan yang Tersandera Hakim Satu Atap

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI
Komunitas

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Next Post
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Vonis Ijazah Jokowi–Gibran: Keadilan yang Tersandera Hakim Satu Atap

Memuliakan Sahabat Orang Tua: Wasiat Nabi dan Jalan Menuju Surga

Memuliakan Sahabat Orang Tua: Wasiat Nabi dan Jalan Menuju Surga

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...