• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Joko Tingkir “Ngombe” Dawet

fusilat by fusilat
August 19, 2022
in Feature
0
Joko Tingkir “Ngombe” Dawet

Sejumlah menteri dan hadirin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berjoget saat penyanyi cilik Farel Prayoga tampil menyanyikan lagu Ojo Dibadingke di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8/2022).(YouTube.com/Sekretariat Presiden)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Toto TIS Suparto | Editor Buku Lepas | Ghostwritter Editor Buku

Joko Tingkir ngombe dawet Jo dipikir, marai mumet Ngopek jamur nggone Mbah Wage Pantang mundur, terus nyambut gawe

ITULAH penggalan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet ( Joko Tingkir Minum Dawet/Cendol) yang lagi viral. Belakangan lagu ini dinyanyikan beberapa penyanyi, di antaranya Yeni Inka. Di akun YouTube Yeni Inka, lagu itu sudah ditonton lebih 19 juta kali. Artinya, lagu ini memang populer.

Saking populernya lagu itu, Presiden Joko Widodo lantas request kepada penyanyi cilik Farel Prayoga untuk menyanyikan lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8/2022). Momen itu terjadi sesaat setelah Farel selesai melantunkan Ojok Bandingke. Presiden Joko Widodo, dari tempat duduknya, berteriak meminta Farel menyanyikan lagi itu. “Joko Tingkir…,” kata Presiden Jokowi dari kejauhan sembari tertawa.

Farel mungkin tak mendengar permintaan itu. Karenna penyanyi cilik itu kembali melantunkan lagu sebelumnya. Joko Tingkir tak mengumandang, Joko Widodo cuma tersenyum. Untunglah lagu Joko Tingkir tak mengumandang di Istana. Kalau saja Joko Tingkir dinyanyikan di Istana, warganet bakal heboh. Sebab, lagu ini sedang mengundang polemik.

Analis lirik lagu bilang begini:  Joko Tingkir menceritakan kegelisahan anak rantau yang sedang mempersiapkan masa depannya. Namun, perlu diketahui Joko Tingkir adalah tokoh ksatria yang tak kenal putus asa. Pengarang lirik lagu menyampaikan kemungkinan membuat figur Joko Tingkir sebagai simbol semangat ksatria pada zaman dahulu dalam memperjuangkan masa depan tanpa mengeluh dan apa adanya.

Jadi, Joko Tingkir merupakan representasi ksatria. Pihak lain berpandangan beda. KH Ahmad Muwafiq, misalkan, mengatakan Joko Tingkir adalah tokoh sejarah. Joko Tingkir merupakan nenek moyang para ulama di Pulau Jawa. Joko Tingkir merupakan sultan di Pajang yang menurunkan Pangeran Benowo. Joko Tingkir adalah sosok yang mulia, yang tidak seharusnya dipakai sebagai bahan bercandaan. Sebelumnya, keberatan itu juga disampaikan ulama, MUI Jawa Timur, tokoh masyarakat, warga Lamongan dan anggota dewan.

Ruang publik

Belum ada klarifikasi dari pencipta lagu, apakah dia tahu sosok Joko Tingkir yang ada dalam sejarah atau tidak. Tetapi ini menjadi pelajaran berharga bagi kaum profesional. Sebagai penulis, saya memetik pelajaran berharga dari polemik ini. Setidaknya tatkala akan masuk ke ruang publik, bagi saya, musti melakukan perenungan.

Dalam polemik itu, apakah tokoh Joko Tingkir layak ngombe (minum) dawet? Dengan melihat ketokohan Joko Tingkir, minum dawet berkonotasi hanya orang biasa. Alasan perenungan sederhana. Di ruang publik “aku” sudah menjadi “kita”.

Di sinilah tempat, dimana orang berpikir sebagai warga negara, dan sebagai bagian dari masyarakat. Ruang publik, sebagaimana dinyatakan Jürgen Habermas, adalah tempat berbagai sudut pandang berjumpa dan mencari dasar yang adil serta rasional untuk hidup bersama. Ruang publik adalah ruang profesionalisme. Orang dilihat dalam konteks kinerjanya sebagai seorang profesional, entah sebagai pengusaha atau pelayan masyarakat maupun pencipta lagu.

Di ruang inilah kompetensi menjadi sangat penting. Di sini pula perlu mengasah cara berpikir terpilah. Mana yang layak untuk ruang publik, mana yang cukup di ruang privat. Mana yang sekadar “aku” dan mana yang “kita”. Kemauan memilah ini diyakini tidak akan menimbulkan kekacauan, kehebohan hingga polemik.

Polemik ini juga menggiring saya kepada keniscayaan berpikir distingtif. Merujuk pada beberapa filsuf, berpikir distingtif ini berpikir dengan pembedaan yang tepat. Katanya, kalau kita mau berpikir distingtif maka akan tahu beda antara ruang privat dan ruang publik. Barangkali selama ini di ruang privat, bisa di rumah dan kamar, kita bisa berbuat semaunya. Namun, di dalam ruang bersama, ada orang lain yang hidup bersama kita. Ada orang yang memiliki kepentingan berbeda. Ada yang menganggap ksatria, ada pula yang menghormati sebagai ulama besar. Di mana bersikap? Rasa-rasanya lebih cocok mengutamakan kepentingan publik.

Kepantasan

Sesungguhnya dalam hal lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet ada ajaran untuk bekerja keras. Sayangnya, iktikad baik menasihati publik, ternoda penempatan sosok Joko Tingkir tersebut. Ibarat berita, Joko Tingkir punya clickbait tinggi, tetapi sayangnya berbuah polemik. Rasanya tak pantas tokoh Joko Tingkir dijadikan figur dalam lagu ini.

Pertanyaan-pertanyaan ini kiranya patut kita renungkan: apakah pantas Joko Tingkir berkoplo ria? Apakah pantas tokoh ulama dijadikan figur dalam nada bersenang-senang? Mengapa perlu mengukur kepantasan? Sebab, kepantasan merupakan bagian dari keutamaan hidup manusia. Buktinya filsuf Stoa di masa Yunani Kuno menekankan kepantasan sebagai ciri utama orang bijaksana. Kita selayaknya hidup dengan kepantasan yaitu menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar kita, tanpa hanyut di dalamnya. Misalkan, di sekitar kita banyak warga miskin, pantaskah kita bermewah-mewah? Kalau ada empati, tentu akan hidup sepantasnya. Empati mendorong solidaritas, yakni hidup dengan niat membantu orang-orang di sekitar kita yang belum mampu mencapai taraf hidup yang layak bagi kemanusiaan.

Dikutip Kompas.com Kamis, 18 Agustus 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Satu Ibadah Dua Niat | Ustadz Dr. Aam Amiruddin, M.Si 

Next Post

Viral Bisnis Perjudian Jaringan Ferdy Sambo, Polri Angkat Suara

fusilat

fusilat

Related Posts

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus
Feature

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS
Feature

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers
Crime

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Next Post
Viral Bisnis Perjudian Jaringan Ferdy Sambo, Polri Angkat Suara

Viral Bisnis Perjudian Jaringan Ferdy Sambo, Polri Angkat Suara

Terkait Dugaan Laporan Palsu, Pihak Brigadir J Akan Polisikan Istri Sambo

Terkait Dugaan Laporan Palsu, Pihak Brigadir J Akan Polisikan Istri Sambo

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026
Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

April 27, 2026
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist