Fusilatnews – Seperti riuh perkara ijazah yang tak pernah diselesaikan secara terang, kini muncul kisah baru yang tak kalah sunyi penjelasan: dua kapal mewah bernama Iriana dan JKW1 yang diduga milik mantan Presiden Joko Widodo dan istrinya, Iriana. Nama-nama kapal itu terlalu jelas untuk dianggap kebetulan. JKW1 adalah inisial yang hanya satu orang di republik ini yang pantas menyandangnya. Iriana, tak perlu ditebak lebih jauh.
Namun seperti dalam kasus ijazah, Jokowi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak membantah. Tidak mengiyakan. Tidak menjelaskan. Seolah lupa bahwa rakyat masih berhak menuntut keterbukaan, bahkan setelah seorang pemimpin melepas jabatannya. Justru karena ia mantan presiden, publik berharap lebih: kejujuran, keteladanan, dan keberanian menghadapi kritik. Tapi yang muncul adalah diam, dan dari diam itu lahirlah general opinion.
Sudah menjadi semacam pola. Ketika isu ijazah asli mencuat dan mengguncang ruang publik, Jokowi juga memilih bungkam. Tidak sekalipun ia menunjukkan dokumen aslinya ke publik secara langsung. Semua diserahkan ke orang lain. Ia sendiri tetap bergeming, seperti tak pernah merasa punya utang penjelasan. Kini, kapal-kapal itu mengikuti jejak yang sama: hadir dalam kecurigaan, absen dalam klarifikasi.
Masalahnya bukan semata soal kapal. Ini tentang gaya berkuasa yang tak mau diinterogasi. Tentang bagaimana seorang pemimpin bisa menumpuk warisan kemewahan di tengah citra kesederhanaan yang selama ini dijual sebagai identitas politik. Bila benar kapal-kapal itu miliknya, publik berhak tahu darimana dana sebesar itu berasal. Bila bukan, lalu siapa yang punya? Dan mengapa nama-nama itu digunakan?
Diamnya Jokowi justru menyuburkan prasangka. Di negeri ini, transparansi tak pernah lahir dari kerelaan penguasa, tapi dari desakan rakyat yang terus curiga. Dan Jokowi, yang sepuluh tahun menempatkan dirinya sebagai “orang biasa”, kini terlihat begitu jauh dari nilai-nilai kerakyatan itu sendiri. Kapal mewah di tengah kemiskinan rakyat adalah ironi yang terlalu pahit untuk ditertawakan.
Mungkin Jokowi berpikir waktu akan melupakan semuanya. Bahwa publik akan jenuh dan berita akan tenggelam seperti kapal yang tak lagi berlayar. Tapi rakyat sekarang punya ingatan panjang dan jejaring luas. Di tengah keringnya integritas elite, publik tetap tahu membedakan antara kesunyian yang jujur dan diam yang licik.
Dan jika kapal-kapal itu pada akhirnya benar-benar milik Jokowi dan Iriana, tanpa pernah ada kejujuran terbuka, maka seperti halnya ijazah yang tak pernah diperlihatkan, kita bisa menyimpulkan satu hal: Itu ulahnya sendiri.
























