Disarikan dari Pernyataan Chritovia Wiloto
Sejak awal Pemilu 2024, beredar rumor yang tak pernah benar-benar sirna: Prabowo Subianto hanya akan menjadi presiden sementara. Kabar ini bergulir dari ruang-ruang elit politik, bisik-bisik forum intelektual, hingga obrolan warung kopi. Dalam narasi ini, terselip satu nama: Gibran Rakabuming Raka. Ia disebut sebagai “decus and one” – kebanggaan dan penerus tunggal – oleh mereka yang menggantungkan harapan pada kesinambungan kekuasaan lama.
Narasi ini disebarkan dengan keyakinan hampir religius oleh sebagian pendukung Jokowi. Sebuah propaganda yang memoles Gibran sebagai tokoh muda yang siap melanjutkan tongkat estafet. Namun publik bukan tanpa ingatan. Rakyat tahu, Indonesia tidak butuh boneka. Negara ini butuh pemimpin sejati – dan, suka atau tidak, sebagian rakyat melihat harapan itu pada sosok Prabowo.
Namun kekuasaan tak pernah benar-benar kosong. Setan oligarki – metafora bagi jejaring kekuasaan lama – masih bercokol. Mereka tidak peduli siapa presidennya. Yang penting satu hal: posisi mereka tetap aman. Mereka telah menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa dikunci dari banyak sisi — dari Mahkamah Konstitusi yang bisa diatur, media yang ditunggangi, partai politik yang dibeli, hingga bisnis yang ditanam dalam nadi ekonomi negara.
Dalam sejarah kekuasaan, pengorbanan bukan hal baru. Tapi di bawah kekuasaan sebelumnya, pengorbanan itu terlalu banyak. Pemilu 2019 misalnya, lebih dari 700 petugas KPPS meninggal tanpa investigasi menyeluruh. Tragedi Kanjuruhan, lebih dari 130 korban jiwa — tak ada satu pun jenderal dipenjara. Kapal selam Nanggala tenggelam dalam misteri. Lapas terbakar. Ratusan napi tewas. Bayi gagal ginjal. Obat terkontaminasi. Semua ini terjadi tanpa kejelasan, tanpa tanggung jawab, tanpa keadilan.
Apa artinya satu nyawa lagi bagi sebuah kekuasaan yang menjadikan stabilitas sebagai dalih untuk membungkam kemanusiaan?
Prabowo, dalam segala kontroversinya, bukan figur yang mudah dikendalikan. Ia bukan produk transaksi politik. Ia bukan boneka. Pernyataan-pernyataannya tentang perang terhadap korupsi, rencana untuk membongkar kartel-kartel lama, niat mengembalikan posisi TNI dalam penegakan hukum, serta dorongan pembersihan institusi Polri, BUMN, dan Kejaksaan – semua itu menjadikannya ancaman eksistensial bagi oligarki.
Maka muncul kekhawatiran yang bukan tanpa dasar. Serangan bisa datang dalam banyak bentuk: dari racun di makanan, kecelakaan yang direkayasa, sabotase biologis atau medis, hingga pengkhianatan dari dalam lingkaran paling dekat.
Pertanyaannya: siapa yang melindungi presiden?
Protokol keamanan negara, intelijen, dan pasukan pengamanan presiden tentu bekerja. Namun sejarah mencatat, perlindungan fisik saja tidak cukup jika kekuatan yang dihadapi adalah mereka yang bermain di balik bayang-bayang negara.
Indonesia sedang berada di titik genting. Ini bukan sekadar transisi kekuasaan. Ini adalah pertarungan antara model negara boneka dan negara merdeka. Antara kesinambungan rezim lama dengan keberanian untuk berubah. Antara politik keluarga dengan politik negara.
Amit-amit, jangan sampai presiden Prabowo disingkirkan oleh skenario licik yang sudah lama dirancang. Ini bukan fiksi. Ini adalah potensi ancaman nyata – dan karena itu, tidak boleh diremehkan.

Disarikan dari Pernyataan Chritovia Wiloto























