• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Kapan Kita Berhenti Jadi Jongos di Rumah Sendiri?

fusilat by fusilat
December 2, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Kapan Kita Berhenti Jadi Jongos di Rumah Sendiri?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Minggu-minggu ini publik disibukkan oleh debat yang sama sekali tidak penting: siapa “bapak” bandara gelap di Morowali—SBY atau Jokowi?
Pertanyaan yang benar-benar penting ternyata hanya satu, dan sampai hari ini tak seorang pun pejabat berani menjawabnya dengan jujur:
Mengapa sebuah perusahaan asing diperbolehkan memiliki bandara internasional di tengah hutan nikel Indonesia, tanpa pos imigrasi permanen, tanpa pos bea cukai, dan negara hanya mendapat royalti kurang dari 8 persen?

Timeline-nya sudah jelas:
2013 – Presiden SBY menandatangani MoU dengan Presiden Xi Jinping.
2015 – Presiden Jokowi melakukan groundbreaking dan meresmikan kawasan IMIP.
2017 – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengeluarkan izin bandara khusus.
2019 – bandara mulai beroperasi.
2025 – statusnya naik menjadi internasional, sementara Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyebutnya “anomali kedaulatan”.
Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada satu pun aturan yang dicabut.

Jadi, ini bukan lagi soal “siapa yang mulai, siapa yang lanjutkan”.
Ini soal sistem yang telah dirancang secara sadar pada 1999–2002 melalui amandemen UUD 1945, khususnya penambahan Pasal 33 ayat (4) dan (5), yang memberi legitimasi konstitusional bagi:
– Tax holiday hingga 20 tahun
– Kontrak karya 30+10+10 tahun
– Kawasan ekonomi khusus yang praktis lepas dari pengawasan negara
– Royalti dan pajak yang bisa “dinegosiasikan” hingga mendekati nol.

Hasilnya terpampang di Morowali:
Tsingshan Holding Group (China) menguasai 66,25 persen saham IMIP, mengoperasikan 11 smelter, PLTU 3,8 GW, pelabuhan khusus, dan bandara internasional.
Indonesia mendapat lapangan kerja dengan upah terendah se-Asia Tenggara, ekspor yang melonjak (namun 92 persen nilai tambah lari ke Shanghai), serta royalti yang masuk APBN di bawah 8 persen (data Kemenkeu dan BPK 2024–2025).

Sisanya adalah deforestasi, polusi logam berat, 58 pekerja tewas (data resmi) dalam tujuh tahun, dan 26–30 ribu tenaga kerja China yang keluar-masuk melalui bandara tanpa pengawasan memadai.

Semua rezim pasca-Reformasi—dari SBY, Jokowi, hingga pemerintahan Prabowo saat ini—hanya berbicara di level hilir: “ekspor naik, devisa bertambah, lapangan kerja tercipta”.
Tak satu pun berani menyentuh hulu:
Siapa yang menulis konstitusi sehingga negara ini boleh menjadi pelayan investor asing?

Selama Pasal 33 ayat (4) dan (5) masih bertahta, selama GBHN tidak dikembalikan, dan selama presiden tetap menjadi raja lima tahunan yang tidak terikat visi bangsa, maka bandara gelap Morowali hanyalah permulaan.
Weda Bay, Obi, Konawe, dan puluhan kawasan industri lainnya akan menyusul, hingga akhirnya seluruh Nusantara menjadi kumpulan enklave asing yang legal dan konstitusional.

IMIP Morowali adalah cermin paling telanjang dari kegagalan amandemen 1999–2002: mengubah Republik yang lahir dari perjuangan kemerdekaan menjadi rumah kontrakan yang disewakan murah kepada imperium baru, dengan pejabat-pejabatnya hanya berperan sebagai makelar bergilir setiap lima tahun.

Sudahi perdebatan sia-sia tentang siapa yang meresmikan bandara.
Rakyat hanya menunggu satu jawaban jujur dari penguasa:

Kapan negara ini berhenti menjadi jongos di rumah sendiri?

Jika jawabannya masih “entahlah”, maka kita semua—termasuk yang hari ini sibuk saling tuding di media sosial—sedang merayakan kemerdekaan yang sudah lama mati.(Malika’s Insight 02 Desember 2025)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mempresidenkan Prabowo Seumur Hidup

Next Post

Sinergi TNI dan Media Diperkuat Lewat Pertandingan Mini Soccer di Kodam III/Siliwangi

fusilat

fusilat

Related Posts

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema
Feature

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI
Feature

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu
Feature

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026
Next Post
Sinergi TNI dan Media Diperkuat Lewat Pertandingan Mini Soccer di Kodam III/Siliwangi

Sinergi TNI dan Media Diperkuat Lewat Pertandingan Mini Soccer di Kodam III/Siliwangi

Ajus Linggih Dorong Legalisasi Tajen, Gubernur Koster Tegas Menolak

Ketika Orang Bali Terusir dari Tanah Leluhurnya Sendiri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026

Citronella Oil Produk Andalan (Rencana Jangka Pendek 5 Tahun: Model Bisnis 2 untuk Kesejahteraan Petani melalui Koperasi)

April 13, 2026
Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

April 13, 2026
Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

April 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...