Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Sebentar lagi orang-orang Bali akan terusir dari tanah leluhurnya sendiri. Ini terjadi jika saran dari Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nusron Wahid, yang sudah diamini Gubernur Bali I Wayan Koster, dilaksanakan: transmigrasi!
Ya, mengingat Bali sudah cukup padat penduduk sebagaimana kota-kota lainnya, Nusron Wahid yang diamini Wayan Koster, menyarankan agar program transmigrasi digalakkan kembali, yakni perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lain di wilayah negara Indonesia. Penduduk disarankan pindah dari Pulau Bali ke pulau lain seperti Sumatera, Kalimantan dan Papua untuk membuka lahan pertanian baru.
Orang-orang Bali, atau penduduk asli Bali, tentu akan lebih merana. Sebab mereka akan tercerabut dari akar budayanya sendiri. Mereka akan terusir dari tanah leluhurnya sendiri.
Padahal sebelum ini mereka sudah cukup merana karena terdesak oleh banyaknya jumlah pendatang dari pulau-pulau lain, terutama dari Pulau Jawa.
Jumlah penduduk Bali hingga Semester II/2024 sebanyak 4.375.263 jiwa. Terdiri dari laki-laki sebanyak 2.193.831 jiwa, dan perempuan sebanyak 2.181.432 jiwa.
Untuk penduduk pendatang ke Bali dan terdaftar sebagai Penduduk Nonpermanen hingga 31 Desember 2024 sebanyak 126.425 jiwa.
Di sisi lain, kerusakan alam Bali sudah sedemikian parahnya. Lebih menyakitkan lagi, hal itu terjadi atas nama pariwisata.
Ya, kerusakan alam Bali sudah terjadi sedemikian rupa meliputi alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun, kebakaran hutan dan lahan, serta bencana alam yang dipicu oleh cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang seperti yang belum lama ini terjadi.
Sebagai contoh, dikutip dari sebuah sumber, dalam 30 tahun terakhir, lahan terbangun di Kota Denpasar saja meningkat lebih dari 5.000 hektare.
Lalu, berkurangnya lahan hijau yang mengurangi tutupan hutan, vegetasi, dan badan air.
Jadi Penonton
Di tengah maraknya industri pariwisata di Bali, penduduk setempat semacam menjadi penonton saja. Banyak di antara mereka yang menjadi tenaga kerja kasar, kalau tidak ya tetap menjadi petani tradisional.
Di pihak lain, turis-turis mancanegara justru seperti menjadi tuan rumah di Bali. Bahkan tak sedikit warga negara asing yang memiliki properti seperti vila dan rumah di Pulau Dewata.
Nasib penduduk asli Bali pun akan lebih merana lagi. Mereka akan “dipaksa” bertransmigrasi.
Bali yang indah, yang merupakan kepingan dari tanah surga yang jatuh ke dunia, akan tinggal mimpi belaka bagi mereka yang harus hengkang dari Pulau Dewata.
Dan Koster, sang gubernur, sudah mengamini saran dari pemerintah pusat.

























