OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA
Persoalan serius yang kini harus dicermati Perum Bulog setelah sukses menyerap gabah sebanyak-banyaknya di musim panen adalah soal penyimpanan. Semangat “sukses penyerapan = sukses penyimpanan” seharusnya menjadi napas Bulog dalam setiap langkahnya.
Berdasarkan pengalaman, titik lemah penyimpanan gabah/beras selama ini mencakup beberapa hal. Pertama, kontrol kelembapan yang tidak efektif sehingga memicu pertumbuhan jamur dan hama. Kedua, pengawasan suhu yang kurang memadai sehingga kualitas menurun. Ketiga, ventilasi yang buruk, menyebabkan penumpukan kelembapan dan gas berbahaya.
Keempat, keamanan gudang yang lemah, membuka peluang pencurian atau kerusakan akibat faktor eksternal. Kelima, penanganan yang tidak tepat yang menyebabkan kerusakan fisik gabah/beras. Semua kelemahan tersebut harus segera diperbaiki melalui kebijakan yang dirumuskan dengan cerdas dan teknokratik.
Dari sisi penyerapan, Bulog telah teruji. Menyerap gabah kering panen (GKP) hingga 2 juta ton pada musim ini merupakan capaian yang patut dibanggakan—dua kali lipat dari capaian rata-rata sebelumnya yang hanya sekitar 1 juta ton.
Namun, bagaimana dengan “sukses penyimpanan”? Di sinilah muncul tanda tanya besar. Bulog belum memiliki pengalaman panjang dalam mengelola penyimpanan gabah/beras sebesar ini. Ketika diminta menyimpan stok masif, hambatan teknis dan kapasitas pasti menghadang.
Salah satu tantangan yang harus segera ditangani adalah keterbatasan gudang. Upaya Bulog mengoptimalkan gudang filial patut diapresiasi, namun kebutuhan ruang penyimpanan yang layak tetap mendesak.
Masalah tata kelola penyimpanan pun nyata. Kasus ditemukannya beras berkutu di salah satu gudang Bulog di Yogyakarta—yang sempat menghebohkan publik—menunjukkan masih ada celah dalam SOP. Tidak seharusnya, di era serba modern ini, masalah klasik seperti beras berkutu masih terjadi, terlebih jika berasal dari beras impor yang seharusnya melalui seleksi ketat.
Jika benar rumor yang beredar bahwa jumlah beras berkutu mencapai 300 ribu ton dan tersebar di berbagai gudang, maka pertanyaan besarnya: apa yang salah? Lemahnya tata kelola? Atau mutu beras impor yang memang bermasalah sejak awal?
Beberapa langkah perbaikan dapat ditempuh. Pertama, gabah harus dikeringkan dengan benar agar kadar air tidak terlalu tinggi. Kedua, gudang harus bersih, kering, dan terlindung dari cuaca. Ketiga, kelembapan dan suhu gudang wajib dikendalikan secara ketat. Keempat, ventilasi harus memadai. Kelima, sistem penataan harus rapi, tidak terlalu padat, dan rutin diperiksa. Wadah penyimpanan pun harus bersih, kering, dan kedap.
Kelemahan dalam penyimpanan seperti yang tergambar di atas tidak boleh terus berlanjut. Sebagai operator pangan, Bulog harus segera mencari solusi cerdas agar gabah dan beras yang diserap dengan susah payah tidak rusak hanya karena kesalahan penyimpanan.
Fenomena beras berkutu tidak boleh terulang. Petugas gudang harus menunjukkan kinerja terbaiknya dan memegang teguh standar baku penyimpanan. Mereka harus bekerja all out untuk menyelamatkan stok pangan bangsa.
Semoga persoalan ini menjadi percik permenungan bersama. Mari selamatkan gabah dan beras yang telah diserap dengan penuh perjuangan. Kita ingin Bulog tetap menjadi prime mover dalam menjaga ketahanan pangan, sehingga kerja keras yang dilakukan dapat memberi berkah bagi bangsa dan negara tercinta.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat.)

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA























