• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kastanisasi Warga Negara ala Istana Imbas Gus Miftah

fusilat by fusilat
December 5, 2024
in Feature, Pojok KSP, Politik
0
Kastanisasi Warga Negara ala Istana Imbas Gus Miftah
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Jakarta – Ini masih soal Gus Miftah yang “kumenthus” (sok pintar/sok berani) itu.

Gus Miftah yang mengolok-olok dan menyebut “goblok” seorang penjual es teh keliling yang kemudian diketahui bernama Sunhaji (37), warga Magelang, Jawa Tengah.

Gus Miftah yang sudah minta maaf secara langsung dan terbuka kepada Sunhaji. Gus Miftah yang juga akan mengumrahkan Sunhaji.

Gus Miftah yang meskipun sudah minta maaf kepada Sunhaji bahkan kepada publik atas kegaduhan yang telah ditimbupkannya, tetapi oleh Netizen tetap didesak agar dicopot dari jabatannya sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.

Per Rabu (4/12/2024), sedikitnya sudah ada tujuh petisi daring di situs change.org yang mendesak sosok bernama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman itu dicopot dari jabatannya karena telah mengolok-olok Sunhaji, seorang penjual es teh keliling yang sedang mencari nafkah dengan cara halal untuk keluarganya.

Respons Istana

Terkait desakan publik agar Presiden Prabowo Subianto mencopot Gus Miftah, Istana pun meresponsnya. Namun belepotan.

Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Ujang Komaruddin dalam sebuah program acara di salah satu stasiun televisi swasta, Rabu (4/12/2024), mengatakan, Prabowo akan mempertimbangkan aspirasi dari semua warga negara Indonesia, baik kelas atas, menengah, maupun bawah.

“Ya, semua aspirasi dari warga negara Indonesia, semua tokoh bangsa, baik kelas menengah, atas atau pun bawah akan ditampung dan diperhatikan oleh Pak Presiden,” kata Ujang Komaruddin dalam program Political Show CNNIndonesia TV, Rabu (4/12/2024), dikutip hari ini.

Pertanyaannya, sejak kapan Indonesia yang telah merdeka sejak 17 Agustus 1945 ini mengenal kastanisasi atau pembagian kasta/kelas kewarganegaraan?

Pasal 27 ayat (1) Undang-undang Dasar (UUD) 1945 menyatakan, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

Artinya, semua warga negara kedudukannya sama atau sederajat di dalam hukum dan pemerintahan. Tidak ada warga negara kelas atas, kelas menengah, atau kelas bawah.

Demikianlah hakikat warga negara di sebuah negara demokrasi seperti Indonesia.

Hal itu juga tercermin dari sistem demokrasi yang dianut Indonesia, yakni demokrasi Pancasila. Dalam demokrasi Pancasila, setiap orang kedudukannya sama. Sebab itu, dalam pemilu suara setiap orang nilainya sama: “one man one vote” (satu orang satu suara).

Memang, Bank Dunia pun melakukan stratifikasi atau membagi kelas sosial masyarakat. Pembagian kelas masyarakat oleh Bank Dunia ini berdasarkan pengeluaran bulanan, yakni:

1) Kelas Atas, dengan ciri:
– Orang kaya dan berpendidikan tinggi.

  • Pengeluaran bulanan lebih dari Rp6 juta.

  • Mampu membiayai gaya hidup premium dan memiliki pengaruh.

2) Kelas Menengah, dengan ciri:

  • Para pekerja profesional.

  • Pengeluaran bulanan berkisar antara Rp2,6 juta hingga Rp6 juta.

  • Klasifikasi lebih lanjut: kelas menengah ke atas (di atas Rp6 juta) dan kelas menengah ke bawah (kurang dari Rp2,6 juta).

3) Kelas Bawah, dengan ciri:

  • Berjuang untuk memenuhi kebutuhan pokok.

  • Pengeluaran bulanan antara Rp354 ribu hingga Rp532 ribu.

  • Hanya cukup untuk bertahan hidup.

Akan tetapi kelas sosial masyarakat versi Bank Dunia tersebut tak ada hubungannya dengan demokrasi dan aspirasi warga negara. Hak suara setiap warga negara sama, apa pun status sosial ekonomimya.

Pemerintah kolonial Belanda juga melakukan kastanisasi atau stratifikasi sosial.

Masyarakat Hindia Belanda digolongkan menjadi 3 kelas sosial, yaitu: (1) kelas atas terdiri dari orang-orang Eropa, (2) kelas menengah terdiri dari orang-orang Timur Asing (Cina, Arab, India), dan (3) kelas bawah terdiri dari orang-orang pribumi Indonesia asli.

Begitu pun masyarakat Jawa di era kerajaan. Orang Jawa sebelum kemerdekaan membedakan empat tingkat sosial sebagai stratifikasi status, yaitu: nDhara (Bangsawan), Priyayi (Birokrat), Wong Dagang atau Saudagar (Pedagang), dan Wong Cilik (Orang Kecil, Rakyat Kecil).

Tapi, semua itu sudah berakhir ketika Indonesia merdeka dan memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahannya.

Kini, kastanisasi, stratifikasi atau pembagian kelas sosial masyarakat coba dibangkitkan lagi oleh Istana dengan mengklasifikasi warga negara ke dalam tiga kelas, yakni kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.

Padahal dalam sistem demokrasi, kastanisasi yang diskriminatif semacam itu tidak berlaku. Tak ada penggolongan kelas warga negara. Segala warga negara sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Satu orang satu suara atau “one man one vote”.

Tapi mungkin Kang Ujang Komaruddin masih demam panggung. Maklum, akademisi Universitas Al Azhar Indonesia itu baru mulai debutnya di Istana. Mungkin ia masih gagap.

Namun, selayaknya Kang Ujang melakukan klarifikasi. Tak ada kastanisasi warga negara di Indonesia. Tak ada warga negara kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.

Kalau status sosial ekonomi mungkin memang setiap warga negara berbeda. Tapi kaitannya dengan demokrasi seperti penyampaian aspirasi, tak ada kelas sosial. Tak ada kastanisasi warga negara.

“Equality before the law and government” (kesetaraan di depan hukum dan pemerintahan). Tak ada kastanisasi warga negara.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pemberian Penghargaan International Certificate Hiasi Perayaan Hari Nasional Uni Emirat Arab di Jakarta

Next Post

Pemerintah : Apple Harus Bangun Pabrik senilai 1 Milyar USD di Indonesia.

fusilat

fusilat

Related Posts

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Economy

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
Next Post
Pemerintah : Apple Harus Bangun Pabrik senilai 1 Milyar USD di Indonesia.

Pemerintah : Apple Harus Bangun Pabrik senilai 1 Milyar USD di Indonesia.

Imbas Kasus Tom Lembong, Kejagung Periksa Eks Pejabat Kementerian BUMN dan Pimpinan Sucofindo

Imbas Kasus Tom Lembong, Kejagung Periksa Eks Pejabat Kementerian BUMN dan Pimpinan Sucofindo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

by Karyudi Sutajah Putra
April 29, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Mungkin merasa terdesak oleh lawan-lawan politiknya. Setelah...

Read more
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...