• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kebaya Merah” dan Fenomena Masyarakat Konten

fusilat by fusilat
November 11, 2022
in Feature
0
Kebaya Merah” dan Fenomena Masyarakat Konten

ilustrasi media sosial(forbes)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Ari Junaedi Akademisi dan konsultan komunikasi

“Salut buat para bakal Capres dan Cawapres 2024. Mereka tetap cemungut untuk sibuk bikin konten buat ditonton oleh masyarakat, walau masyarakat lebih sibuk bikin kontennya sendiri-sendiri. Masyarakat lebih sibuk nonton kontennya sendiri, lebih sibuk pula membaca komen-komen atas kontennya sendiri-sendiri.” – Sudjiwo Tejo.

DI TENGAH sibuknya persiapan perhelatan Indonesia jelang pelaksana pertemuan G-20 di Bali; di tengah ketidakmampuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengawasi peredaran obat sirup anak yang menyebabkan kasus gagal ginjal akut; di saat Koalisi Perubahan yang dimotori Nasdem masih alot menentukan calon “pengantin” Anies Baswedan karena kuatnya tarik menarik PKS dan Demokrat; serta masih panasnya pertempuran antara Rusia dengan Ukraina, bangsa ini masih “kepo” dengan ulah “si kebaya merah”. Hampir dua minggu sejak kemunculannya di berbagai lini masa, aksi si kebaya merah begitu membetot perhatian masyarakat. Yang tidak paham segera mencari tahu asal mula kejadian itu, sementara yang sudah mengoleksi dengan pongah menyebarkan ke berbagai kolega.

Dalam beberapa bulan terakhir, sebelum aksi kebaya merah mencuat, publik juga sempat digegerkan dengan kejadian di Bali ketika sepasang kekasih memamerkan adegan tidak senonoh dalam kendaraan yang melintas. Lengkap memakai busana adat Bali. Kesakralan hubungan intim yang bersifat pribadi, persoalan-persoalan privat yang harusnya disimpan rapat, kegiatan pribadi yang harusnya menjadi ranah privat, apalagi kegiatan-kegiatan yang menyangkut urusan publik kini galib “harus diketahui” khalayak luas. Bahkan yang masih “rencana” pun harus dilihat orang banyak. Masyarakat harus tahu, harus peduli, harus memberi “like” jika tidak mau memberikan komentar. Bahkan kita pun diajak ikut mahfum, ketika ada orang lain memberi “tag” sehingga kita terpaksa diajak menyebarkan kegiatannya. Kehadiran media sosial begitu mengubah adab, sopan santun, dan tata krama di masyarakat kita. Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar dalam masyarakat kita. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran, baik budaya, etika, dan norma yang ada.

Dengan jumlah penduduk yang begitu besar dan didominasi kalangan muda, serta dengan berbagai kultur suku, ras, dan agama yang beraneka ragam sangat berpotensi mengalami perubahan sosial. Pengaruh globalisasi dari luar menjadi semakin tidak terelakkan. Dari berbagai kalangan dan umur, dari beragam perbedaan status, hampir sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki dan menggunakan media sosial. Tidak saja sebagai salah satu sarana memperoleh dan menyampaikan informasi ke publik, tetapi juga menjadi wahana untuk eksistensi diri. Penetrasi media sosial yang masif tidak saja di Pulau Jawa atau kota-kota besar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Sumbawa, Maluku tetapi juga menerpa daerah-daerah yang selama ini dikenal sebagai “3T”, yaitu Terluar, Terdepan dan Tertinggal. Selama ada koneksi internet, penggunaan media sosial adalah hal yang biasa di daerah ini. Sembilan perbatasan wilayah tanah air dengan negara jiran pernah saya tapaki, mulai dari Skouw di Papua, Sebatik di Kalimantan Utara, Wini-Mota’ain-Motamasin di Nusa Tenggara Timur serta Nangah Badau-Aruk-Entikong-Jagaoi Babang di Kalimantan Barat, persoalan nir-akses internet adalah cerita masa lalu. Apa yang viral di Jakarta, demikian cepat menyebar ke pengunjung di warung ayam geprek Lamongan di tapal batas Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat dengan Tebedu, Sarawak, Malaysia.

Fenomena capres konten dan masyarakat konten

Jelang perhelatan Pemilu 2024, tensi politik antarpartai-partai dan saling serang pernyataan antar elite-elite partai juga memuncak. Semua partai “mbelgedes” berpikir untuk rakyat, semua pesan-pesan politiknya dikemas untuk “kepentingan” rakyat. Menariknya, di semua kanal media sosialnya terutama Instagram resmi partai, semua jargon tersaji “menyejukkan”. Melihat, membaca dan mengikuti semua “titah” elite partai serasa kita dirayu dan dibujuk habis-habisan untuk menyukai partainya. Padahal kita masih ingat, partai tersebut begitu lekat dengan korupsi para kader-kadernya saat dipercaya menjadi kepala daerah. Para gubernur yang “ngebet” menjadi capres atau cawapres tidak kalah hebohnya. Hampir setiap saat “memposting” konten-konten receh. Ada capres yang semula bikin konten “menghibur”, tetapi pada akhirnya jagat media sosial menertawakan “ketidaklucuannya”. Semua narasi kalimatnya teratur dan dibikin memikat, tetapi anak muda malah menganggapnya basa-basi yang terlalu basi. Jangan heran, di setiap kegiatan capres – baik yang sudah melepas jabatannya atau masih menjabat – tidak melupakan kreator konten berada dalam setiap kegiatannya.

Mereka merancang, memproduksi, serta mengunggah setiap aksi yang dilakukan “bos-nya”. Dari bangun pagi, lari pagi, memimpin rapat, mengadakan kunjungan mendadak atau di-setting dadakan semuanya dikemas dalam konten yang berharap mendapat “tanda suka” atau “like” Apa yang menjadi “viral” dan “trending” di media sosial mereka tangkap agar mendapat imbas keviralannya. Ketika penyanyi cilik Farel Prayoga mendadak “booming” karena tampil di Istana Negara, Jakarta saat Perayaan HUT RI kemarin, sontak Farel dengan lagu “Ojo Dibanding-bandingke” laris diundang para elite. Lagak joget Farel mendapat “tandem” dari tokoh yang berminat mendapat “like” dari pengguna media sosial. Saat Intan Sriastuti, gadis asal Lembata, Nusa Tenggara Timur mempopulerkan penggalan lagu “betapa syulit” lupakan Reyhan, sontak nama Reyhan berganti menjadi nama kandidat. Itulah kekuatan media sosial. Mereka begitu mendamba “like” dan “subscribe”, bahkan komentar. Mereka begitu sibuk “mengemis” atensi dari pengguna media sosial.

Walau fenomena kemunculan capres mendapat sambutan di masyarakat luas, tetapi diblokade kehadirannya di tengah-tengah masyarakat di luar provinsinya oleh partai yang menaunginya, bukan lagi menjadi alasan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Sihir media sosial begitu luas dampaknya. Tokoh gaek yang selama ini berkali-kali maju di pentas Pipres pun, tergoda pula dengan “sihir” media sosial. Padahal tokoh ini begitu kaku dan anti diatur, tetapi setelah tahu dampak yang ditimbulkan dari media sosial, membuatnya ikut rajin dan mau dikemas dengan rapi. Tidak hanya capres atau cawapres yang berpotensi mendapat tiket dari partai-partai, capres atau sekadar cawapres yang berharap “dipasangkan” dengan capres potensial juga rajin dan semangat berkonten ria. Joget ala tik tok rela dilakukan demi mengharap “like” dan “komentar”. Para kepala daerah pun rajin membuat konten demi bukti bahwa mereka memikirkan rakyat dan berbuat terbaik untuk warga.

Kebaya merah & capres-cawapres berharap belas atensi

Usai dicokok aparat polisi, pemeran kebaya merah dan pasanganya ternyata sepanjang tahun 2022 saja sudah memproduksi 92 konten asusila. Motif mereka adalah mencari uang dari konten-konten yang diproduksinya. Kreativitasnya membuat konten “nyeleneh” akhirnya harus berakhir karena polisi berhasil merunut lokasi shooting-nya di sebuah hotel di wilayah Gubeng, Surabaya, Jawa Timur. Kebaya merah terus memproduksi konten-konten asusila karena adanya permintaan. Sementara kandidat pilpres– tanpa diminta publik – harus terus membuat konten agar atensi dari publik terus terjaga. Seperti menyiram bibit tanaman, kandidat berharap konten-konten yang dilihat publik bisa merawat memori serta berharap kelak memilihnya di Pilpres.

Partai pun juga mendamba agar lewat postingan-postingan konten yang menarik bisa menggaet suara calon pemilih. Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperkirakan di Pemilu Serentak 2024 nanti, 60 persen pemilh akan diisi oleh pemilih dominan yang berusia 17 hingga 40 tahun (Antaranews.com, 20 Oktober 2022). Dengan demikian pasar calon pemilih begitu riuh diperebutkan partai-partai serta calon presiden dan calon wakil presiden. Masyarakat pun kini begitu peduli dengan konten-konten yang bersliweran di lini masa. Mereka terlibat aktif. Kaum ibu-ibu sibuk membuat flashmoob, sang bapak juga rajin membuat parodi, sementara anak-anaknya juga tidak kalah sibuknya membuat konten-konten yang unik. Tua muda, kaya miskin, tingga di perkotaan atau pedesaan, pengangguran atau pegawai semuanya sibuk berkonten ria. Berkat terpaan teknologi komunikasi informasi, pola perilaku masyarakat kita begitu berubah. Mereka tidak menutup diri atau malu dengan apa yang diperbuatnya. Apa yang dikerjakan harus diketahui masyarakat.

Menjadi terkenal, berharap viral dan disenangi orang-orang menjadi tujuan orang mengunggah konten yang dibuatnya. Hal inilah yang dijelaskan mendiang Soerjono Soekanto, dosen saya saat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) dulu, bahwa setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan. Perubahan itu bisa berupa pengaruhnya terbatas maupun luas, perubahan yang lambat dan ada perubahan yang berjalan dengan cepat. Perubahan dapat mengenai nilai dan norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Perubahan- perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan gejala yang normal. Pengaruhnya bisa menjalar dengan cepat ke bagian-bagian dunia lain berkat adanya teknologi komunikasi informasi yang semakin canggih. Masih dari dosen legendaris UI lainnya, Selo Soemardjan – saya beruntung karena masih sempat diajar beliau – saya menukil pendapatnya tentang perubahan sosial yang terjadi akibat terpaan teknologi komunikasi informasi.

Perubahan sosial menyangkut segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok- kelompok dalam masyarakat. Dari pendapat ke dua pendidik ini dapat disimpulkan perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat yang dapat memengaruhi pola interaksi sosial yang dapat bersifat membangun karakter manusia menuju proses yang lebih baik atau malah sebaliknya. Saya khawatir, fenomena “kebaya merah” akan terus bermunculan di publik tanpa malu dan tanpa risih, sementara para elite dan politisi kita akan semakin rajin mengunggah konten-konten receh tanpa edukasi demi mengejar atensi. Alih-alih membangun proses pembentukan karakter yang lebih baik, nyatanya karakter yang terbangun bermental buruk. Imbasnya masyarakat menganggapnya sebagai hal yang wajar. Tidak tahu mana yang loyang, mana yang besi, mana yang natural, dan mana yang dibuat-buat.

“Penyebab rusaknya akal adalah nafsu. Penyebab kesengsaraan adalah cinta dunia. Penyebab fitnah adalah kedengkian. Penyebab perpecahan adalah perselisihan. Penyebab keselamatan adalah diam.” – Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili.

Ari Junaedi Akademisi dan konsultan komunikasi Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

Dikutip Kompas.com, Kamis 10 November 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Politik Identitas dan Dunia yang Berubah

Next Post

PSI dan 8 Partai Belum Penuhi Syarat Pemilu 2024, Ini Respon Grace Natalie

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Rahasia Allah 2: Ketika Kegagalan Dimaknai Hikmah

April 17, 2026
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik
Feature

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Next Post
PSI dan 8 Partai Belum Penuhi Syarat Pemilu 2024, Ini Respon Grace Natalie

PSI dan 8 Partai Belum Penuhi Syarat Pemilu 2024, Ini Respon Grace Natalie

PDI-P Minta Pemerintah Minta Maaf pada Seokarno dan Keluarga, Hasto Ungkap Alasanya

PDI-P Minta Pemerintah Minta Maaf pada Seokarno dan Keluarga, Hasto Ungkap Alasanya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026

Rahasia Allah 2: Ketika Kegagalan Dimaknai Hikmah

April 17, 2026
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026

Rahasia Allah 2: Ketika Kegagalan Dimaknai Hikmah

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist