Pepatah Latin “Qui ascendit sine labore, descendit sine honore” dapat diterjemahkan sebagai “Siapa yang naik panggung tanpa persiapan, akan turun tanpa kehormatan.
Dalam banyak kesempatan, seringkali Jokowi melontarkan bahwa tantangan Indonesia kedepan akan lebih kompleks dan sulit. Ia kemudian menekankan; “hati-hati dalam memilih Pemimpin”. Begitu!.
Sampai disitu, tentu siapa saja akan setuju. Itu majas normative. Tetapi yang kemudian membingunkan adalah, solusinya menampilkan anak sulungnya sendiri, Gibran, untuk tampil menjadi pemimpin nasional. Padahal Jokowi dan Gibran, sama-sama pernah menyatakan, belum cukup umur dan belum cukup pengalaman.
Keputusan Jokowi yang telanjang ini, menyokong anaknya menjai cawapres, semakin mamantik protes yang meluas, terutama setelah Iriana, Sang Istri – Ibunya Gibran, diketahui ada sinyalemen ikut mendorong sang Raka menjadi Cawapres.
Gibran itu siapa? Ia menjadi cawapres tepapi dicalonkan oleh partai lain. Konrtibusinya apa kepada partai yang mencalonkan? Apa di Golkar tdak ada kader partai yang lebih baik? Lazimnya orang yang berminat untuk menjadi pemimpin, harus memiliki testimony social investment. Gibran tidak punya catatan itu. Bahkan jadi walikota pun, baru dua tahun. Itu-pun, menyimak penuturan FX Rudy, karena jasa Bapaknya.
Ilustrasi lain, Sang Gibran itu, bak ditampilkan dalam ring tinju, dihadapkan pada lawan yang tidak seimbang (beda kelas), dan tanpa dipsersiapkan/ada persiapan apapun.
Cicero menyampaikan ini “Qui ascendit sine labore, descendit sine honore” adalah frase dalam bahasa Latin yang memiliki makna, “Siapa yang naik panggung tanpa persiapan, akan turun tanpa kehormatan.”
Sekarang sudah terbukti, Gibran dinaikan panggung oleh peran orang tuanya, sedang diteriaki, disoraki, dicemo’ohkan dan sekaligus ditimpuki oleh makian yang menyayat-nyayat.
” Pepatah ini menekankan hubungan antara usaha, prestasi, dan kehormatan. Pesannya adalah bahwa seseorang yang mencapai keberhasilan atau prestasi tanpa melakukan usaha yang sungguh-sungguh kemungkinan besar tidak akan mendapatkan penghormatan atau pengakuan yang layak. Dengan kata lain, keberhasilan yang didapat dengan usaha dan kerja keras lebih mungkin dihargai dan dihormati.
Akal waras dan sehat, tidak mungkin bisa menerima realitas prestasi Gibran dengan award yang diberikan oleh peran sang Ayah, sehingga menjadi menjadi cawapres. Pada sisi lain, ada persoalan hukum yang menganga, yang kemudian ini akan menjadi lubang, pada suatu saat, bisa melemparkan Gibran menjadi orang yang terhina dinakan.
Prof. Mahfud MD, pernah keras menyampaikan Indonesia kedepan itu perlu “Strong Leader”, atas dasar situasi yang sangat rentan perpecahan dan berbagai permasalahan ekonomi bangsa. Bila kemudian dia sendiri, yang tampil, masih bisa kita terima. Kita tahu siapa Mahfud MD itu. Dia bisa kita anggap orang yang tahu, bagaimana memulai membangun Indonesia itu, sehingga lahir strong leadership itu.
Indonesia, seperti banyak negara lain di dunia, dihadapkan pada berbagai tantangan yang kompleks dan bervariasi dalam pembangunan dan perkembangannya. Beberapa tantangan kunci yang dihadapi Indonesia di masa depan melibatkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan politik. Beberapa di antaranya meliputi:
Kemiskinan dan Ketidaksetaraan: Meskipun terdapat kemajuan dalam mengurangi tingkat kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi dan sosial masih menjadi masalah. Pemerintah perlu terus berusaha untuk memastikan pertumbuhan ekonomi inklusif dan mendukung kelompok masyarakat yang rentan.
Pendidikan: Peningkatan kualitas pendidikan dan akses yang merata masih menjadi tantangan. Pendidikan yang berkualitas merupakan kunci untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing.
Kesehatan Masyarakat: Sistem kesehatan perlu terus ditingkatkan untuk mengatasi masalah seperti penyebaran penyakit menular, akses terbatas ke layanan kesehatan di beberapa daerah, dan masalah kesehatan masyarakat lainnya.
Perubahan Iklim: Indonesia, sebagai negara kepulauan, rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut, cuaca ekstrem, dan kerusakan lingkungan. Perlindungan lingkungan dan upaya mitigasi perubahan iklim menjadi penting.
Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan: Pemerintah perlu mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Ini termasuk pengembangan sektor-sektor ekonomi yang inovatif dan ramah lingkungan.
Governance dan Korupsi: Tantangan terkait tata kelola dan korupsi masih relevan. Peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan pemberantasan korupsi akan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Urbanisasi dan Pembangunan Kota: Pertumbuhan populasi dan urbanisasi memunculkan tantangan terkait manajemen perkotaan, termasuk penyediaan infrastruktur, perumahan yang layak, dan peningkatan kualitas hidup di perkotaan.
Inovasi dan Teknologi: Kecepatan perubahan teknologi menuntut adopsi inovasi untuk menjaga daya saing. Peningkatan akses dan pemanfaatan teknologi informasi dapat mendukung berbagai sektor, termasuk pendidikan dan ekonomi.
Pemerintah, bersama masyarakat sipil dan sektor swasta, perlu bekerja sama untuk mengatasi tantangan-tantangan ini agar Indonesia dapat mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

























