• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kekuasaan yang Kuat atau Kekuasaan yang Berbahaya? (Batas Tipis antara Konsolidasi Rezim dan Demokrasi Sehat)

fusilat by fusilat
February 15, 2026
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Secara alamiah, setiap rezim kekuasaan akan berupaya memperkuat posisinya sendiri. Itu hukum dasar politik—dari zaman kerajaan hingga demokrasi modern. Tidak ada pemerintahan yang sengaja melemahkan dirinya jika masih ingin bertahan dan menjalankan agenda. Tanpa kekuatan eksekutif yang solid, program apapun—termasuk yang pro-rakyat—hanya akan menjadi wacana kosong.

Namun, justru karena logika ini begitu mendasar, kita perlu membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan:

Pertama, memperkuat kekuasaan agar bisa memerintah efektif. Ini wajar dan bahkan diperlukan. Tanpa mayoritas parlemen yang kokoh, tanpa dukungan birokrasi yang loyal, dan tanpa stabilitas ekonomi-politik, pemerintahan akan lumpuh. Program makan bergizi gratis, percepatan IKN, hilirisasi nikel, swasembada pangan, semuanya membutuhkan kekuatan eksekutif yang kuat untuk dieksekusi. Jika koalisi rapuh, oposisi memblokade, atau oligarki memberontak, agenda pro-rakyat justru yang paling dirugikan.

Kedua, memperkuat kekuasaan hingga oposisi mati suri dan checks and balances hilang. Inilah yang berbahaya. Ketika rezim tidak hanya mengonsolidasi kekuatan untuk memerintah, melainkan juga secara sistematis merangkul, meringkus, atau “membonsai” semua potensi penyeimbang—oposisi, media kritis, ormas independen, akademisi, dan masyarakat sipil—maka yang tersisa bukan lagi kekuasaan yang kuat demi melayani rakyat, melainkan kekuasaan yang kuat demi melindungi dirinya sendiri dari rakyat.

Realitas Indonesia 2026 memberikan contoh nyata:

  • Koalisi gemuk KIM Plus yang menguasai lebih dari 80% kursi DPR memang wajar untuk menjamin eksekusi program besar.
  • Rangkulan terhadap tokoh oposisi kritis seperti Abraham Samad dan Said Didu bisa menjadi strategi cerdas—jika kritik benar-benar didengar dan kebijakan diperbaiki.
  • Janji pembangunan gedung 40 lantai untuk MUI dan ormas Islam di Bundaran HI bisa menjadi bentuk penghormatan—jika benar-benar untuk membina umat, bukan sekadar “bayaran” agar kritik terhadap Board of Peace (BoP) mereda.
  • Pertemuan dengan lima taipan di Hambalang bisa menjadi sinergi negara-kapital yang produktif—jika ada syarat ketat kontribusi nyata terhadap SDM, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat bawah.

Namun, jika semua langkah tersebut hanya bertujuan memperkuat rezim tanpa mekanisme pengawasan yang kuat dan transparan, maka yang kita dapat bukan pemerintahan yang kuat demi rakyat, melainkan pemerintahan yang terlalu kuat hingga rakyat kesulitan mengoreksinya.

Logika demokrasi yang sehat tidak menolak kekuatan rezim—ia justru menuntut kekuatan yang terkendali. Rezim memang harus kuat untuk menjalankan program pro-rakyat, tetapi kekuatannya harus dibatasi agar tidak menyalahgunakan wewenang. Demokrasi yang matang membutuhkan:

  • Oposisi yang hidup dan berfungsi (bukan dibonsai atau dirangkul hingga kehilangan taring).
  • Parlemen yang menjadi checks and balances sungguhan (bukan stempel karet).
  • Media dan masyarakat sipil yang bebas mengkritik tanpa rasa takut dibungkam.
  • Transparansi dan akuntabilitas yang nyata, bukan sekadar retorika inklusivitas.

Jika rezim memperkuat dirinya dengan cara mematikan semua potensi penyeimbang—oposisi mati suri, parlemen jadi boneka, media takut bicara, dan kritik hanya diizinkan di ruang tertutup lalu “dirangkul”—maka yang tersisa bukan lagi demokrasi substantif, melainkan demokrasi prosedural dengan isi otoriter.

Rezim memang harus kuat agar bisa memerintah.
Tapi pertanyaan yang lebih penting bukan “bagaimana rezim memerintah jika tidak kuat?”, melainkan:

“Bagaimana rakyat bisa mengoreksi kalau rezim terlalu kuat?”

Itulah batas tipis antara pemerintahan yang kuat dan pemerintahan yang berbahaya.
Dan batas itu sedang diuji keras di Indonesia saat ini.(MDA)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

DUA LOGIKA DALAM SATU PIRING: EFISIENSI DI MATA PRESIDEN, PEMBOROSAN DI MATA RAKYAT

Next Post

MBG: Game Changer yang Malah Mendisrupsi Ratusan Ribu Mata Pencaharian Kecil

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026
Feature

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah
Feature

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026
Next Post
Makan Bergizi Gratis: Investasi SDM atau Ladang Problem Baru?

MBG: Game Changer yang Malah Mendisrupsi Ratusan Ribu Mata Pencaharian Kecil

Dari Berbohong kepada Istri sampai Menipu Rakyat Indonesia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tangkap Tiyo Ardianto!
Feature

Tangkap Tiyo Ardianto!

by Karyudi Sutajah Putra
June 16, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta -  Dalam hati mungkin Tiyo Ardianto memang ingin...

Read more
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

June 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026

Ketika Organisasi Tua Masih Peduli pada Dapur Bangsa (Membaca Surat Terbuka KOSGORO tentang Makan Bergizi Gratis)

June 16, 2026
Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

June 16, 2026

PRABOWO PERLU MENGUMUMKAN NATIONAL CONTINGENCY PLAN

June 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...