• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kelaparan di Kota dan Tragedi Komunitas

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
November 15, 2022
in Feature
0
Krisis Migor RI Makin Kronis, Kok Bisa?

Sejumlah warga membeli minyak goreng kemasan saat operasi pasar murah minyak goreng di Blok F Trade Center, Pasar Kebon Kembang, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/12/2021). - Antara Foto/Arif Firmansyah/nym.\r\n

Share on FacebookShare on Twitter



Oleh: Tantan Hermansah, Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Jakarta

Jakarta – Peristiwa tragis yang menimpa sebuah keluarga yang ditemukan meninggal di Kalideres, Jakarta, menghentakkan kita semua. Beberapa analisis yang dikemukakan oleh pihak yang berwenang. Antara lain mereka menyebutkan bahwa subyek yang meninggal karena tidak adanya asupan makanan yang cukup lama ke tubuh mereka. Hasil analisis forensik juga menyebutkan bahwa mereka meninggal tidak bersamaan.

Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa ada beberapa atau ada orang yang kemudian menyaksikan sebagian anggota keluarga itu meninggal sampai kemudian dia tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya subyek terakhir wafat menyusul anggota keluarga yang sudah wafat lebih dulu.

Kesimpulan ini muncul dari bukti-bukti yang ditemukan bahwa ada upaya-upaya bertahan dari bau mayat yang dilakukan oleh subjek terakhir, seperti adanya kapur barus dan bedak bayi yang ditebarkan. Terlepas dari semua penjelasan di atas, ada satu hal yang yang bisa disorot untuk membaca peristiwa ini dari perspektif sosiologi. Di mana kejadian ini mengundang pertanyaan: bagaimana peran masyarakat pada keluarga ini?

Katakanlah bahwa keluarga yang kemudian meninggal ini benar karena kelaparan. Jika ternyata memang demikian, berarti kita sebagai publik patut mempertanyakan bagaimana pola relasi hubungan keluarga tersebut dengan tetangganya.

Adakah interaksi intens yang dilakukannya, sehingga mereka bisa sedikit mengetahui peristiwa apa yang berlaku di dalam rumah tersebut. Sebab jika mendengar penjelasan pihak berwajib, bahwa ada yang sudah meninggal lebih dahulu, mengapa yang masih hidup tidak melapor kepada pihak RT atau memberitahukan kepada tetangganya, alih-alih menunggu waktu untuk “pergi” bersama mereka yang sudah wafat terlebih dahulu.

Begitu banyak pertanyaan yang menggayuti publik. Misalnya, apakah persepsi tentang individualisme perkotaan demikian telah membatasi keluarga tersebut untuk berinteraksi dan diketahui oleh publik?

Apakah faktor yang menyebabkan ketertutupan sikap dan perilaku mereka, sehingga meski dalam situasi mendapat musibah lebih memilih untuk tetap tertutup? Serta sejumlah pertanyaan lainnya, yang tentu saja tidak akan pernah bisa dikonfirmasi kepada pelaku.

Sejumlah pertanyaan ini kemudian mengundang kita untuk kembali menengok satu pendekatan yang lama sekali sudah berlaku dalam teori sosiologi. Pendekatan ini adalah komunitas. Komunitas merupakan entitas manusia yang berelasi dalam sebuah konteks sosial yang diikat oleh suatu kesepakatan.

Secara strata, komunitas berada di atas keluarga, tetapi di bawah masyarakat. Terdapat pemaknaan yang berbeda antara komunitas dan kumpulan atau kerumunan. Di mana komunitas biasanya disebut demikian karena di dalamnya memiliki nilai-nilai yang mengikat antara anggota suatu entitas. Misalnya komunitas pencinta sepeda.

Sepeda telah menjadi alat atau instrumen yang membuat anggota dalam komunikasi itu terikat. Begitu pun komunitas-komunitas lain, seperti komunitas pelari, komunitas penggemar motor besar, komunitas vloger dan sebagainya. Inti dari satu entitas yang disebut komunitas biasanya memang memiliki instrumen yang membuat mereka merasa beririsan di antara anggotanya.

Di atas komunitas ada masyarakat yang jauh lebih kompleks. Entitas tingkat RT itu bisa disebut sebagai masyarakat. Disebut demikian karena di dalamnya ada aturan yang mengelola hubungan antaranggota dalam berbagai interaksi tersebut. Juga ada reward serta sanksi yang memungkinkan setiap entitas menerimanya sebagai ketentuan yang harus ditaati bersama.

Komunitas tidak tumbuh alamiah. Artinya, komunitas hadir dibentuk dan dirawat, sehingga eksistensinya diakui dan dirasakan, minimal oleh anggotanya. Hubungan-hubungan dalam komunitas biasanya sudah tidak lagi mekanistik, justru organik.

Setiap anggota membangun kesadaran sendiri tentang bagaimana empati, peduli, menghargai, dan sebagainya di dalam komunitasnya. Komunitas juga bisa memudar seiring dengan meluruhnya nilai-nilai yang selama ini menjadi pengingatnya.

Faktor meluruhnya ikatan dalam komunitas biasanya karena sudah hilangnya kepercayaan kepada anggota di dalam komunitas tersebut dengan berbagai sebab. Ketidakpercayaan ini pula yang kemudian bisa “menggusur” berbagai sikap positif dalam bermasyarakat.

Kembali ke persoalan yang dibahas di atas, untuk menemukan faktor apa yang menyebabkan keluarga itu tidak menemukan spirit komunitasnya. Ada beberapa analisis yang bisa dijelaskan. Pertama, memudarnya semangat berkomunitas seiring dengan berbagai faktor yang membuat sesama anggota masyarakat menjadi “jauh”.

Lihat saja, ada banyak hal yang membuat kita bisa tidak perlu berinteraksi dengan sekitar. Belanja harian bisa sistem daring; begitu juga hal lain. Bahkan, melawat kepada orang yang mendapatkan musibah kematian saja, kita bisa merasa cukup hadir secara online.

Kedua, minimnya interaksi antarsesama. Memang untuk berinteraksi di zaman serba gawai dan online ini, memerlukan effort tersendiri. Untuk itu memang siapa pun harus memberikan ruang kepada sesama untuk tetap bisa berinteraksi secara langsung—meski bisa jadi sangat berat.

Tidak semua orang menemukan kenyamanan melalui interaksi secara daring. Oleh karena itu, cara-cara interksi konvensional tetap mesti dihadirkan untuk mengurangi perasaan keterasingan.

Komunitas tidak terkait dengan kuantitas. Sebab bisa jadi meskipun entitas keluarga dalam suatu kompleks perumahan itu banyak, mereka sebenarnya bukan komunitas. Tetapi mereka adalah kumpulan keluarga yang karena tidak pernah atau kurang berinteraksi mereka tidak merasa memiliki irisan dan ikatan antartetangga.

Ini memang problem modernitas. Di mana kebebasan dan individualisasi menjadi basis yang kemudian membuat setiap orang di dalamnya merasa perlu dan tidak perlu untuk berhubungan dengan orang lain secara bebas.

Lalu bagaimana kita memberikan pemahaman agar tidak ada lagi kejadian serupa terulang di masa mendatang. Maka di tengah arus individualisasi, konsumtivisme dan modernitas, tentu ini bukan pekerjaan yang mudah. Namun bukan berarti tidak ada cara untuk bisa ditempuh untuk kembali mengembalikan harkat dan martabat yang disebut sebagai komunitas ini.

Pertama, tentu saja membangun saling empati melalui apa yang disebut oleh Habermas sebagai dialog intersubjektif melalui pertemuan-pertemuan berbasis kewargaan seperti rapat antarkeluarga, RT, arisan-arisan (keluarga atau RT), dan atau pertemuan lain yang sifatnya sosial kemasyarakat dan berdimensi geografi-ketetanggaan harus kembali dihidupkan.

Kedua, membangun nilai kebersamaan dengan memberikan pemahaman dan penyadaran bahwa tetangga harus lebih dulu menjadi tumpuan interaksi ketimbang saudara yang tinggalnya jauh. Sebab itu, memosisikan tetangga terdekat sebagai keluarga, akan menghasilkan keeratan sosial dan akhirnya berdampak kepada hidupnya kembali komunitas. Untuk itu maka bertetangga menjadi harus lebih memberikan makna ketimbang keluarga yang mungkin tidak tinggal di dekatnya.

Maka wajar jika Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa sebagian dari cermin seseorang yang memiliki dan memaknai serta menghayati keimanannya adalah menghormati tetangga atau mengutamakan tetangganya. Ini bisa menjadi landasan untuk kita semua bahwa bertetangga sangat penting, terutama untuk membangun dan mengikatkan diri pada komunitas.

Jika ini bisa dilakukan, maka tidak mustahil kita bisa kembali menemukan indahnya komunitas dalam kehidupan kita. Ketika keindahan itu muncul maka dengan sendirinya kita akan menyongsong kembali peradaban berbasis manusia.

Dikutip dari Kompas.com, Senin 14 November 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Izin Cuti Menteri dan Netralitas Pemilu

Next Post

Militer Iran Luncurkan Serangan Rudal dan Drone ke Posisi Teroris di Irak Kurdistan

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup
Economy

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar
Feature

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip
Feature

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Next Post
Militer Iran Luncurkan Serangan Rudal dan Drone ke Posisi Teroris di Irak Kurdistan

Militer Iran Luncurkan Serangan Rudal dan Drone ke Posisi Teroris di Irak Kurdistan

Rusia : Laporan media Barat tentang kesehatan Sergey Lavrov adalah ‘palsu’

Rusia : Laporan media Barat tentang kesehatan Sergey Lavrov adalah 'palsu'

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

April 25, 2026
Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist