Jakarta, Fusilatnews.1 September 2024 — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) kembali memberikan penjelasan mengenai siapa saja yang perlu mendapatkan vaksin Mpox, atau yang sebelumnya dikenal sebagai monkeypox. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini yang menunjukkan peningkatan kasus dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Maxi Rein Rondonuwu, vaksinasi Mpox diberikan terutama kepada kelompok yang berisiko tinggi tertular penyakit ini. “Kelompok yang sangat disarankan untuk mendapatkan vaksin Mpox adalah mereka yang pernah kontak erat dengan pasien terkonfirmasi, petugas kesehatan yang menangani kasus Mpox, serta kelompok tertentu yang berisiko tinggi,” ujar dr. Maxi dalam keterangan pers yang disampaikan pada Kamis (31/8).
Lebih lanjut, dr. Maxi menjelaskan bahwa kelompok berisiko tinggi mencakup individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, orang dengan penyakit autoimun, serta mereka yang mengonsumsi obat imunosupresif. Selain itu, petugas kesehatan dan pekerja laboratorium yang terlibat langsung dalam penanganan sampel dari pasien terinfeksi juga sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi.
Prioritas Vaksinasi dan Langkah Pencegahan Lainnya
Selain kelompok berisiko tinggi, Kemenkes juga menekankan pentingnya vaksinasi bagi individu yang sering bepergian ke daerah endemik atau daerah dengan angka kasus Mpox yang tinggi. “Para pelancong atau ekspatriat yang berencana bepergian ke negara-negara dengan kasus Mpox yang signifikan juga dianjurkan untuk melakukan vaksinasi,” tambahnya.
Di luar kelompok prioritas ini, Kemenkes menyarankan agar masyarakat tetap melakukan langkah-langkah pencegahan, seperti menjaga kebersihan diri, menggunakan masker saat berada di tempat umum, dan menghindari kontak langsung dengan orang yang menunjukkan gejala infeksi seperti ruam, demam, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Stok Vaksin Mpox dan Distribusi
Kemenkes memastikan bahwa stok vaksin Mpox telah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan prioritas saat ini. “Pemerintah telah melakukan pengadaan vaksin dari beberapa produsen internasional, dan kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi yang merata,” jelas dr. Maxi.
Kementerian juga bekerja sama dengan organisasi kesehatan internasional dan lembaga donor untuk memastikan pasokan vaksin yang berkelanjutan, serta menyediakan bantuan teknis dalam hal penyimpanan dan distribusi vaksin.
Gejala dan Cara Penularan Mpox
Mpox atau monkeypox adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus orthopox. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat menyebar antar manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, ruam kulit, atau bahan yang telah terkontaminasi virus, seperti pakaian atau tempat tidur.
Gejala umum infeksi Mpox meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, dan munculnya ruam yang dapat berkembang menjadi pustula. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 5 hingga 21 hari.
Arah Kebijakan Kemenkes Selanjutnya
Kemenkes berencana untuk terus memantau situasi perkembangan Mpox di Indonesia dan meningkatkan kapasitas deteksi serta respons di lapangan. Dalam jangka panjang, Kemenkes juga mengkaji kemungkinan memasukkan vaksin Mpox dalam program imunisasi rutin jika penyakit ini menunjukkan ancaman berkelanjutan bagi kesehatan masyarakat.
“Penting bagi masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada. Kami mengimbau semua pihak untuk mengikuti perkembangan informasi resmi dari Kemenkes dan menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan,” pungkas dr. Maxi.
Dengan semakin meluasnya kesadaran dan informasi mengenai pencegahan serta penanganan Mpox, diharapkan penyebaran penyakit ini dapat segera terkendali dan tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan di masyarakat.























