Jakarta, Fusilatnews.com – Dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Polri pun perlu berkolaborasi dengan ulama dan tokoh masyarakat. Hal ini antara lain terjadi di wilayah hukum Kepolisian Sektor (Polsek) Pancoran, Jakarta Selatan.
Kapolsek Pancoran Kompol Rudiyanto SH pun tak segan-segan menyambangi masjid-masjid untuk mengumandangkan seruan menjaga kamtibmas, bekerja sama dengan ulama dan tokoh masyarakat setempat, terutama jemaah masjid.
Hari ini, Jumat (4/11/2022), misalnya, usai menunaikan ibadah salat Jumat berjemaah, senyampang jemaah belum bubar, Kompol Rudiyanto mendapat kesempatan dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami’ Ar Rahmah di Duren Tiga, Pancoran, untuk menyampaikan sepatah-dua kata di hadapan para ulama, tokoh masyarakat dan jemaah.
“Terima kasih kepada DKM atas kesempatan yang diberikan. Melalui kesempatan ini saya ingin mengimbau kepada para ulama, tokoh masyarakat dan bapak-bapak jemaah sekalian untuk bersama-sama memantau dan mengawasi anak, cucu, adik atau sanak keluarga lainnya supaya tidak terlibat tawuran,” kata Rudi.
Rudi kemudian memaparkan, situasi kamtibmas di wilayah hukum Polsek Pancoran relatif kondusif, aman dan terkendali. Hanya saja, katanya, sesekali masih terjadi tawuran yang pelakunya adalah anak-anak pelajar, terutama pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Anak-anak sini, tapi tawurannya ada yang di wilayah hukum Polsek lain juga. Kalau kita tangkap, anaknya dan juga orangtuanya nangis-nangis. Akhirnya kita kembalikan ke sekolah. Nah, pihak sekolah kebanyakan tidak mau terima dan langsung dikeluarkan. Itu kebijakan sekolah masing-masing, kita hormati. Sebab itu, saya imbau bapak-bapak mengawasi anak-anak kita sekalian, jangan sampai terlibat tawuran,” pintanya.
Sebelum tawuran, kata Rudi, anak-anak SMP itu kebanyakan mengonsumsi minuman keras (miras) terlebih dahulu, bahkan tidak jarang ada yang menyalahgunakan narkoba. “Jadi, selain wawuran, kasus yang menonjol di wilayah hukum Polsek Pancoran adalah miras dan narkoba. Dan satu lagi yang lagi ‘ngetrend’, yakni begal,” paparnya.
Kekuatan Doa
Siswa-siswa SMP, kata Rudi, secara psikologis sedang menginjak masa pubertas, sehingga mereka sedang mencari jatidiri. “Sebab itu kalau tidak diarahkan orangtua dengan baik, bisa salah jalan,” cetusnya.
Untuk itu, sekali lagi, Rudi mewanti-wanti para orangtua agar mengawasi anak-anaknya supaya tidak salah jalan, dan tidak salah pula dalam memilih teman pergaulan.
Tak lupa, Rudi pun meminta para ulama untuk ikut mendoakan warga di sekitarnya, terutama anak-anak remaja yang sedang beranjak menuju muda dan kemudian dewasa, karena doa dari ulama ia yakini memiliki kekuatan tersendiri. “Dengan kekuatan doa ulama, insya Allah anak-anak kita akan baik-baik saja, tidak terlibat tawuran, miras, narkoba dan begal, sehingga kamtibmas di lingkungan kita pun akan selalu kondusif dan terjaga dengan baik,” tandasnya.
Doa adalah senjata bagi orang-orang beriman, demikian kata Hadits Nabi Muhammad SAW. (F-2)
























