Los Angeles, California – REUTERS/David Swanson – Suasana di kawasan Little Tokyo, Los Angeles, berubah menjadi tegang selama lima malam berturut-turut, saat protes terhadap kebijakan pemeriksaan imigrasi federal berlangsung di depan gedung-gedung federal. Dalam sebuah insiden yang terekam kamera, seorang petugas penegak hukum melepaskan tembakan senjata tidak mematikan ke arah pengunjuk rasa, memicu kekhawatiran baru di tengah warga setempat.
Little Tokyo, lingkungan bersejarah yang dikenal dengan restoran sushi unggulan dan toko-toko khas Jepang, kini menjadi pusat perhatian nasional. Polisi dilaporkan telah menggunakan granat kejut serta berbagai bentuk amunisi “kurang mematikan” untuk membubarkan massa yang berkumpul secara konsisten selama hampir sepekan.
“Ini buruk bagi bisnis, dan buruk bagi lingkungan ini,” ujar Samantha Lopez, pegawai toko es krim Korea yang berakar dari keluarga imigran Filipina. Ia menyayangkan aksi kekerasan dalam demonstrasi, namun menilai bahwa eskalasi justru dipicu oleh kehadiran aparat militer.
Menurut Lopez, unjuk rasa awalnya berlangsung damai, namun berubah kacau setelah aparat menghadang para peserta aksi. “Ini hanya penanganan yang buruk terhadap protes yang berlangsung damai hingga mereka dihadang oleh petugas,” tuturnya.
Banyak warga dan pekerja di sekitar lokasi memilih untuk tidak disebutkan namanya. Mereka mengaku khawatir terhadap potensi pembalasan dari pemerintah federal, terlebih sebagian besar dari mereka merupakan imigran atau memiliki keluarga yang tidak lahir di Amerika Serikat. Kekhawatiran terhadap tindakan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE) menjadi alasan utama mereka untuk tetap diam.
Anthony, seorang barista di kedai teh lokal, menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia menilai respons pemerintah pusat terhadap protes justru memperkeruh keadaan. “Tidak diragukan lagi bahwa presiden yang mengirim ribuan Garda Nasional dan 700 Marinir tidak melakukan apa pun selain membuat para pengunjuk rasa semakin agresif,” katanya.
Situasi di Little Tokyo mencerminkan ketegangan nasional yang lebih luas terkait kebijakan imigrasi dan kebebasan sipil. Meski protes masih berlangsung, komunitas lokal kini juga harus bergulat dengan ketakutan akan keamanan, keberlangsungan bisnis, serta nasib keluarga mereka di tengah bayang-bayang aparat negara.
























