Oleh: Wandy
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan kerap menekan, pesan bijak dari Nurlaeli, SH., MH., CLA., CT.—seorang tokoh multidisiplin dengan rekam jejak profesional yang impresif—kembali menggema. Ucapannya tentang pentingnya mengendalikan emosi menjadi titik refleksi yang relevan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kesehatan mental dan stabilitas sosial pada era digital.
“Jaga diri dari sifat emosi. Emosi itu dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan. Sabar sesaat saat emosi, selamatkan diri dari ribuan penyesalan. Kendalikan hawa nafsu saat emosi, hindari kerusakan,” ujar Nurlaeli, pesan yang kerap ia sampaikan di berbagai forum.
Sebagai profesional yang bergerak di banyak bidang, dari dunia akademik hingga sertifikasi profesi, Nurlaeli menegaskan bahwa kemampuan mengatur emosi bukanlah keterampilan pelengkap, melainkan kompetensi inti—baik dalam kehidupan pribadi maupun di ruang profesional. Dalam ekosistem bisnis yang kompetitif, kejernihan berpikir dan kemampuan tetap tenang di bawah tekanan menjadi keunggulan tersendiri.
“Emosi yang meledak-ledak bisa merusak relasi profesional, menghambat kolaborasi, bahkan mencoreng reputasi,” tegasnya dalam sebuah seminar terbaru. “Karena itu, kita perlu melatih diri untuk mengelola emosi, sehingga mampu merespons situasi secara lebih bijak.”
Pandangan ini sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kecerdasan emosional (EQ) terhadap keberhasilan seseorang—baik dalam karier maupun dalam kehidupan sosial. Individu yang dapat mengendalikan emosinya umumnya lebih terampil berkomunikasi, menjaga hubungan interpersonal, dan menghadapi persoalan dengan kepala dingin.
Di era digital yang dibanjiri informasi sesat dan ujaran kebencian, kemampuan menahan diri dari reaksi impulsif menjadi semakin penting. Nurlaeli mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyerap informasi, tidak tergesa-gesa merespons, dan selalu mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
Dengan demikian, pesan yang disampaikan Nurlaeli bukan sekadar nasihat klasik, melainkan panduan praktis untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis, produktif, dan sarat makna. Mengelola emosi bukan hanya bentuk kedewasaan, tetapi juga jembatan menuju kejernihan, kedamaian, dan kesuksesan di era penuh tantangan ini.




















