• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ali Syarief by Ali Syarief
May 1, 2026
in Feature, Pendidikan
0
Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan
Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kegelisahan yang sulit diabaikan: mengapa negara-negara yang secara formal tidak menjadikan agama sebagai fondasi negara justru tampil lebih maju, lebih tertib, dan rakyatnya lebih sejahtera? Sementara banyak negara yang menempatkan agama sebagai elemen penting dalam kehidupan publik—termasuk dalam pendidikan—justru tertinggal dalam kualitas sumber daya manusia, tata kelola, bahkan integritas sosial.

Pertanyaan ini bukan untuk membenturkan iman dengan kemajuan. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk membongkar satu paradoks: iman dijadikan tujuan pendidikan, tetapi tidak pernah benar-benar diterjemahkan menjadi etika publik dan rasionalitas sosial.


Negara Sekuler: Mengapa Bisa Maju?

Mari kita lihat beberapa contoh seperti Finlandia, Jepang, atau Jerman. Negara-negara ini tidak menjadikan agama sebagai pusat kebijakan negara, apalagi sebagai orientasi utama sistem pendidikan. Namun, mereka justru dikenal sebagai negara dengan:

  • sistem pendidikan terbaik di dunia
  • tingkat korupsi rendah
  • kesejahteraan sosial tinggi
  • disiplin publik yang kuat

Apa yang mereka lakukan?

Mereka tidak menghapus agama, tetapi memindahkan agama ke ranah privat, dan menjadikan ruang publik berbasis pada:

  • rasionalitas
  • ilmu pengetahuan
  • etika universal (kejujuran, tanggung jawab, keadilan)

Di Jepang misalnya, masyarakatnya tidak dikenal religius secara formal, tetapi:

  • budaya malu sangat tinggi
  • disiplin menjadi karakter kolektif
  • integritas bukan sekadar slogan

Pertanyaannya: bukankah ini nilai-nilai yang juga diajarkan agama?


Negara Religius: Mengapa Tertinggal?

Sebaliknya, banyak negara yang sangat menekankan pendidikan agama justru menghadapi persoalan serius:

  • korupsi yang sistemik
  • lemahnya budaya kritis
  • pendidikan yang berbasis hafalan, bukan pemahaman
  • konflik sosial berbasis identitas

Masalahnya bukan pada agama itu sendiri, melainkan pada cara negara memperlakukan agama dalam pendidikan.

Agama sering:

  • direduksi menjadi ritual
  • dijadikan alat legitimasi kekuasaan
  • dipisahkan dari praktik kehidupan nyata

Akibatnya, lahirlah generasi yang:

  • tahu mana yang benar, tapi tidak melakukannya
  • paham moral, tapi tidak menjadikannya sebagai standar hidup

Pendidikan Kita: Antara Ideal dan Realitas

Dalam konteks Indonesia, tujuan pendidikan nasional sangat mulia: meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun dalam praktik:

  • pelajaran agama sering berhenti pada hafalan
  • ilmu pengetahuan tidak dilatih untuk berpikir kritis
  • integritas tidak menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan

Kita mengajarkan iman, tetapi tidak membangun sistem yang menuntut kejujuran.
Kita mengajarkan moral, tetapi tidak memberi teladan dalam kekuasaan.

Di sinilah letak masalahnya: iman tidak pernah benar-benar diintegrasikan dengan ilmu dan sistem sosial.


Sekuler Bukan Anti-Agama

Ada kesalahpahaman besar yang perlu diluruskan: sekularisme bukan berarti menolak agama. Sekularisme dalam konteks negara modern justru berarti:

negara tidak memaksakan tafsir agama tertentu, tetapi memastikan semua warga hidup dalam sistem yang adil dan rasional

Dengan kata lain:

  • agama menjadi urusan pribadi
  • etika publik dibangun dari nilai universal
  • hukum berdiri di atas prinsip keadilan, bukan tafsir keimanan tertentu

Menariknya, nilai-nilai yang dijalankan negara sekuler sering kali justru lebih “religius” secara substansi:

  • jujur
  • amanah
  • disiplin
  • menghargai sesama

Paradoks yang Harus Diakui

Di sinilah kita perlu jujur:

banyak masyarakat yang mengaku religius, tetapi gagal membangun peradaban yang mencerminkan nilai agamanya sendiri.

Sementara itu:

banyak masyarakat yang tidak menonjolkan agama, tetapi justru berhasil mewujudkan nilai-nilai yang diajarkan agama dalam kehidupan nyata.

Ini bukan ironi kecil. Ini adalah kritik besar terhadap cara kita memahami pendidikan.


Lalu, apa yang harus diperbaiki?

Bukan tujuan pendidikannya yang perlu diubah, tetapi cara mencapainya.

Beberapa hal yang perlu ditata ulang:

  1. Mengembalikan iman sebagai etika, bukan simbol
    Bukan seberapa banyak hafalan, tetapi seberapa kuat integritas.
  2. Menjadikan ilmu sebagai alat berpikir, bukan sekadar nilai akademik
    Pendidikan harus melatih nalar, bukan kepatuhan.
  3. Menyatukan iman dan ilmu dalam praktik nyata
    Kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan harus menjadi sistem, bukan sekadar ajaran.
  4. Memberi teladan dari atas
    Tanpa contoh dari elite, pendidikan moral akan selalu menjadi teori kosong.

Penutup: Maju Itu Soal Sistem, Bukan Sekadar Iman

Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak nyaman:

kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa sering ia menyebut Tuhan, tetapi seberapa konsisten ia menjalankan nilai-nilai kebenaran dalam sistem hidupnya.

Negara-negara sekuler berhasil bukan karena mereka meninggalkan agama, tetapi karena mereka membangun sistem yang membuat nilai-nilai moral menjadi nyata dan terukur.

Sementara kita masih sering berhenti pada simbol, slogan, dan retorika.

Dan selama pendidikan masih mengajarkan iman tanpa membangun sistem yang memaksa manusia untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab—
maka kita akan terus melahirkan generasi yang tahu kebenaran, tetapi tidak hidup di dalamnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Economy

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026
Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI
Birokrasi

Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

May 1, 2026
Birokrasi

Menyoal Paradoks Regulasi di Sektor Multinasional

May 1, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal
Komunitas

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

by Karyudi Sutajah Putra
April 30, 2026
0

FusilatNews - Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko yang tidak segan-segan untuk menangkap...

Read more
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026
Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

May 1, 2026

Menyoal Paradoks Regulasi di Sektor Multinasional

May 1, 2026

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

May 1, 2026

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

May 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...