• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Kebenaran Dipidanakan, dan Kekuasaan Menentukan Batasnya

Ali Syarief by Ali Syarief
May 4, 2026
in Feature, Law, Tokoh/Figur
0
Ketika Kebenaran Dipidanakan, dan Kekuasaan Menentukan Batasnya
Share on FacebookShare on Twitter

Riuh itu datang bukan dari ruang sidang, melainkan dari jagat media sosial—ruang liar yang kini menjelma menjadi arena utama pertarungan narasi. Di sanalah, seorang tokoh lama reformasi, Amien Rais, kembali memantik api. Ia berbicara dengan gaya khasnya: lugas, tanpa tedeng aling-aling, bersandar pada dalil moral “kulil haq walaukana murran”—katakan kebenaran walau pahit.

Namun, dalam iklim politik hari ini, persoalannya bukan lagi sekadar benar atau salah.
Melainkan: siapa yang berhak mengatakan benar, dan siapa yang punya kuasa menentukan bahwa itu salah.

Pernyataan yang beredar—yang bersumber dari simpang-siur isu di media sosial—tidak diuji dalam forum akademik, tidak pula diklarifikasi dalam ruang jurnalistik yang berlapis verifikasi. Ia langsung melompat ke ruang publik yang paling bising: opini massa.

Respons negara pun datang cepat. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, memberi sinyal tegas: ada potensi pelanggaran hukum, ada ruang untuk jerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, ada kemungkinan perkara ini bergeser dari wacana ke kriminalisasi.

Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang satu ucapan.
Kita sedang menyaksikan pola.

Pola di mana negara—melalui perangkat hukumnya—bergerak cepat ketika kritik atau pernyataan menyentuh figur tertentu. Tetapi pada saat yang sama, sering kali lambat, bahkan absen, ketika disinformasi yang lebih sistemik beredar luas tanpa kendali.

Di sisi lain, muncul suara tandingan dari kalangan hukum. Salah satunya disampaikan oleh Taufik Basari, yang merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi. Dalam sejumlah putusan penting, MK telah menegaskan:
pejabat publik tidak boleh berlindung di balik pasal pidana untuk membungkam kritik.

Ini bukan tafsir liar. Ini adalah garis konstitusional.

Namun pertanyaannya: apakah garis itu masih dihormati, atau hanya menjadi teks hukum yang kehilangan daya hidup di hadapan kekuasaan?

Di sinilah problem utamanya:
Indonesia hari ini tidak kekurangan hukum—yang kita kekurangan adalah konsistensi dalam menegakkan prinsip hukum itu sendiri.

Jika kritik—bahkan yang keras, bahkan yang terasa tidak nyaman—langsung diarahkan ke ranah pidana, maka yang sedang dibangun bukan ketertiban, melainkan ketakutan. Dan ketakutan adalah musuh utama demokrasi.

Namun, di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata: ruang publik kita semakin keruh oleh praktik “trial by social media”. Tuduhan, insinuasi, bahkan serangan personal kerap dilempar tanpa standar verifikasi. Dalam logika jurnalisme, ini bukan kritik—ini adalah kegagalan menjaga integritas informasi.

Tetapi di situlah ironi terbesar muncul.

Negara tampak lebih siap menghukum ucapan individu dibandingkan dengan membangun ekosistem informasi yang sehat.
Lebih reaktif terhadap satu pernyataan, dibanding proaktif memperbaiki sistem yang memungkinkan disinformasi tumbuh liar.

Akhirnya, publik dibiarkan berada dalam dua ekstrem:
antara kebebasan yang kebablasan, dan hukum yang berpotensi mengekang.

Kasus ini—terlepas dari siapa yang benar atau keliru—membuka satu hal yang jauh lebih penting:
Apakah hukum kita masih menjadi penjaga keadilan, atau telah bergeser menjadi alat selektif yang mengikuti arah angin kekuasaan?

Karena jika setiap kritik berisiko dipidana,
dan setiap kekuasaan bisa menentukan batas kebenaran,

Maka yang tersisa bukan lagi demokrasi—melainkan simulasi demokrasi.

Dan dalam simulasi itu, publik hanya diberi satu peran:
Diam atau bersiap menjadi terdakwa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Meniupkan Ruh Bottom Up, Di Tengah Badai Geliat Nyawa Korporasi di Tubuh Koperasi Desa

Next Post

Kegagalan: Bentuk Lain Cinta Allah yang Terabaikan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post

Kegagalan: Bentuk Lain Cinta Allah yang Terabaikan

Sekolah Gratis untuk Warga Jakarta: Upaya Pemerataan Akses Pendidikan

Sekolah Gratis untuk Warga Jakarta: Upaya Pemerataan Akses Pendidikan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026
Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...