Oleh : Dr. Susilawati Saras SE.,MM.,MA.,M.han – Intelektual Bela Negara
Bangsa besar adalah bangsa yang menjunjung nilai-nilai kemuliaan hidup. Berpikir jauh ke depan, mengedepankan moralitas sebagai tanggung jawab setiap individu.
Namun sayang, masih banyak yang belum memahami dan menyadari hal ini sebagai bekal hidup menghadapi dinamika kehidupan yang terus berkembang. Hanya berpikir pendek untuk kenikmatan sesaat pada akhirnya merugikan dan membahayakan jiwanya. Kondisi seperti ini banyak terjadi pada bangsa yang mengejar tujuan hidup jangka pendek tanpa berpikir dampaknya.
Perkembangan hidup manusia yang terus berkembang pesat telah mengubah orientasi hidup sebagai masyarakat spiritual menjadi masyarakat materialistis. Berlomba- lomba menumpuk materi berlimpah untuk dipamerkan di ruang publik dengan tujuan status sosial ketimbang kegunaannya. Jika diperoleh dengan cara yang bisa dipertanggung jawabkan tentu tiada masalah, faktanya sangat banyak yang memperolehnya dengan cara mengambil hak orang lain. Mereka tidak berpikir dampak, terpenting merasakan dan bisa berada di titik pencapaian yang dianggap publik sebagai orang sukses.
Inilah yang menjadi cikal bakal maraknya perilaku korupsi di tanah air, padahal sumber daya manusia Indonesia selain punya ciri sebagai masyarakat religi juga masyarakat yang terdidik baik terbukti anggaran pendidikan dari APBN terbesar alokasinya namun output yang diharapkan tidak sesuai.
Perilaku korupsi justru terus terjadi hampir di semua level kehidupan, dari korupsi oleh mereka yang berkerah putih hingga lingkungan masyarakat bawah/umumnya seperti penipuan, begal, pencurian, perampokan dan kriminalitas lainnya yang ujung-ujungnya mengambil hak orang lain dengan paksa. Lebih memiriskan hati, walau sudah mendapatkan hukuman dari perbuatannya, bahkan koruptor disambut bak seorang dewa begitu keluar dari tahanan bertahun lamanya.
Situasi ini amat disayangkan terjadi, bertahun-tahun anak bangsa lainnya yang jumlahnya sangat banyak dan masih bersih sedang berfokus pada perjuangan menegakkan kebaikan dan kebenaran hidup untuk mewujudkan pola hidup sebagai masyarakat madani, tapi tidak menjadi perhatian besar publik untuk dijadikan role model dari sang pencerah kehidupan. Para intelektual direndahkan, dihinakan bagaikan seorang penjahat sungguhan sementara penjahat sungguhan yang telah merugikan bangsa dan negara dipuja dan dielukan.
Bagaimana bisa berpikir demikian, tidak lagi berpikir menggunakan akal sehat dan ini sangat memprihatinkan bagi kehidupan nasional karena telah melemahkan nilai kehidupan yang memicu runtuhnya peradaban bangsa.
Belajar dari sejarah di zaman Yunani Kuno, negara tempat lahirnya pengetahuan dan budaya yang memunculkan banyak para filosof dunia akhirnya runtuh akibat lebih mengedepankan ego ketimbang akal sehat (kebijaksanaan dan keberadaban) bagi bangsa tersebut.
Kehidupan manusia di dunia hingga hari ini berasal dari ilmu pengetahuan yang terus berkembang oleh pikiran-pikiran para intelektual untuk menghadirkan kehidupan yang penuh keadaban dan keberadaban. Para intelektual adalah kreator bagi kehidupan semesta.
























