Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – “Dak gendong ke mana-mana. Dak gendong ke mana-mana.”
Lirik lagu yang dipopulerkan oleh almarhum Mbah Surip itu sepertinya kini bergema kembali dan menginspirasi Gibran Rakabuming Raka, sehingga Wakil Presiden RI itu “menggendong” mahasiswa ke mana-mana.
Ya, setelah sempat menemui perwakilan mahasiswa dari Universitas Bung Karno (UBK) dan Universitas MH Thamrin, Jakarta, yang berdemonstrasi di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026) lalu, di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, kini Gibran hendak mengajak lima perwakilan mahasiswa dalam kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, dan Papua, mulai hari Kamis (18/6/2026) kemarin.
Kelima mahasiswa itu mewakili Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Indonesia (UI), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).
Sebenarnya bukan menggendong, melainkan memangku. Mungkin Gibran terinspirasi ejaan aksara Jawa “ha na ca ra ka” yang diciptakan Aji Saka, di mana sebuah huruf konsonan akan mati jika diberi tanda baca “pangkon’ atau dipangku.
Filosofi pangku itulah yang mungkin dianut Gibran sebagaimana ayahandanya, Joko Widodo, sebagai orang Jawa.
Sebelumnya, Jokowi juga menerima kunjungan Pengurus Besar Ikatan Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara di kediamannya, Solo, Jawa Tengah.
Usai bertemu Presiden ke-7 RI itu, para alumni BEM Nusantara itu nada suaranya langsung merendah atau “low tone”.
Begitu pun usai perwakilan mahasiswa UBK dan UHT bertemu Gibran, nada suara mereka langsung “low tone”.
Akhir-akhir ini, nada suara mahasiswa memang terdengar garang terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Para mahasiswa itu bahkan sempat menggelar aksi demonstrasi di Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia, Jumat (12/6/2026).
Mereka memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dan menuntut agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Merah Putih (KMP) yang rawan korupsi dan menghambur-hamburkan uang negara dihentikan.
Gibran dan Jokowi pun langsung sat-set. Mereka mencoba memecah soliditas mahasiswa dengan menemui mahasiswa-mahasiswa pragmatis untuk “dipangku”. Tujuannya apa kalau bukan untuk meninabobokan atau bahkan mematikan gerakan mahasiswa?
Tapi yakinlah, gerakan mahasiswa tidak akan mati. Sebab para mahasiswa yang menghadap Gibran dan juga Jokowi itu bukan mahasiswa mainstream (arus utama) yang idealis, menyuarakan aspirasi rakyat. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa pragmatis dan oportunis yang hanya memikirkan kepentingan sendiri. Dan jumlah mahasiswa semacam ini tidaklah banyak. Hanya beberapa gelintir. Termasuk kemarin, yang mengaku BEM Bersatu yang justru mengkritik aksi unjuk rasa mahasiswa yang digelar, Jumat (12/6/2026) lalu.
Mereka juga mengkritik Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 2025 yang banyak mengkritik pemerintah.
Kini, kita lihat saja nanti setelah lima mahasiswa itu mengikuti kunjungan kerja Gibran ke sejumlah provinsi. Termasuk perwakilan mahasiswa UI itu. Apakah setelah itu mereka akan pasang badan buat pemerintah?
Kalau pun pasang badan, tak masalah. Sebab mindset mereka sejak awal memang mendukung pemerintah. Pragmatis. Oportunis. Kalau ada sedikit idealisme saja, tentu mereka tak akan mau digendong Gibran ke mana-mana. Meskipun dengan fasilitas mewah. Meskipun uang sakunya juga wah.
Tapi, sekali lagi, jumlah mereka tak seberapa. Masih banyak mahasiswa mainstream yang punya idealisme. Jumlahnya jauh lebih banyak.
Jokowi dan juga Gibran sepertinya belajar dari masuknya sejumlah aktivis ke kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran.
Setelah masuk kabinet, mereka diam saja ketika banyak ketidakadilan, bahkan pasang badan buat melindungi Prabowo-Gibran.
Sebut saja Budiman Sudjatmiko. Lalu, Fahri Hamzah. Lalu, Fadli Zon. Ketika sudah duduk di kursi empuk, mereka langsung mengantuk. Ternina bobok.
Lalu sejarah mencatat, mana mahasiswa idealis, serta mana mahasiswa pragmatis dan oportunis.
Jokowi dan Gibran juga hanya akan berhasil menggendong, memangku dan meninabobokan mahasiswa-mahasiswa oportunis dan pragmatis itu, yang memang perannya bagi masyarakat tak berguna kecuali demi kepentingan mereka sendiri.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















