Oleh: Firdaus
Pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Makassar dan Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Sulawesi Selatan
Sejarah manusia sesungguhnya dibangun oleh mereka yang menulis. Banyak peristiwa besar, gagasan revolusioner, dan perjuangan kemanusiaan yang tetap hidup hingga hari ini bukan karena pelakunya masih ada, melainkan karena jejak pemikirannya diabadikan melalui tulisan.
Helen Keller, seorang tokoh tunanetra dan tunarungu yang menginspirasi dunia, pernah menulis esai berjudul Three Days to See. Dalam esai tersebut, ia membayangkan seandainya Tuhan memberinya kesempatan untuk melihat hanya selama tiga hari. Melalui tulisan itu, Helen Keller mengajarkan kepada kita bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang untuk melihat kehidupan dengan mata hati dan meninggalkan warisan pemikiran yang abadi.
Demikian pula dengan Raden Ajeng Kartini. Melalui kumpulan surat yang kemudian diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini mengungkapkan kegelisahannya terhadap nasib perempuan Jawa pada masa kolonial. Ia hidup dalam tradisi pingitan yang membatasi ruang gerak perempuan bangsawan. Namun melalui tulisan, Kartini melawan zamannya. Ia memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, kesetaraan hak, serta kebebasan berpikir. Kartini mungkin telah wafat lebih dari satu abad lalu, tetapi pemikirannya tetap hidup karena diabadikan dalam tulisan.
Semangat kedua tokoh tersebut menjadi inspirasi bagi saya sebagai seorang agent of change. Saya meyakini bahwa pena adalah alat perjuangan yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Apa yang kita tulis hari ini dapat menjadi pelajaran bagi generasi yang akan datang. Tulisan adalah jembatan yang menghubungkan pengalaman masa kini dengan kebijaksanaan masa depan.
Karena itulah saya berusaha mendokumentasikan berbagai peristiwa, pengalaman, dan gagasan melalui goresan pena. Saya percaya bahwa setiap tulisan yang lahir dari kejujuran dan kepedulian akan menjadi bagian dari legacy atau warisan yang kita tinggalkan untuk anak cucu kelak.
Legacy bukan hanya tentang harta benda atau jabatan yang pernah kita miliki. Legacy adalah nilai, pemikiran, dan inspirasi yang terus hidup setelah kita tiada. Dengan adanya legacy, generasi muda memiliki referensi untuk memahami masa lalu, mengambil pelajaran, dan menentukan langkah yang lebih baik di masa depan.
Atas keyakinan tersebut, saya terus menulis di berbagai platform media cetak maupun media daring. Alhamdulillah, berbagai tulisan saya mendapatkan ruang publikasi, salah satunya melalui Fusilat News yang dipimpin oleh Ali Syarief sebagai Redaktur. Melalui media tersebut, berbagai gagasan tentang isu sosial, pendidikan, teknologi, dan disabilitas dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
Beberapa tulisan kemudian berkembang menjadi karya jurnalisme warga dan opini publik. Salah satu yang mendapat perhatian adalah tulisan mengenai pentingnya teknologi bagi penyandang disabilitas. Bagi kami, teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi jembatan menuju kemandirian, akses informasi, pendidikan, dan kesempatan yang setara.
Perjalanan menulis ini tentu tidak saya tempuh sendirian. Banyak pihak yang memberikan bimbingan dan dukungan, di antaranya komunitas Tunanetra Sighted Network (Tusiwork), Forum Lingkar Pena (FLP), serta para jurnalis yang senantiasa membantu mempublikasikan karya-karya saya di berbagai media. Mereka adalah bagian penting yang turut menyalakan semangat literasi dan memperluas manfaat dari setiap tulisan yang lahir.
Bagi saya, setiap tulisan yang terbit bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah arsip kehidupan. Ia menyimpan gagasan, pengalaman, harapan, bahkan jejak perjuangan sebuah generasi. Ketika suatu hari nanti kita tidak lagi hadir di dunia ini, tulisan-tulisan tersebut akan tetap berbicara kepada mereka yang datang setelah kita.
Penyair besar Chairil Anwar pernah menulis kalimat yang begitu terkenal, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Kalimat itu bukan sekadar ungkapan tentang umur panjang, melainkan simbol semangat berkarya yang tidak pernah padam. Manusia memang tidak mungkin hidup seribu tahun, tetapi gagasan dan karya dapat melampaui batas usia penciptanya.
Karena itu saya meyakini, semua peristiwa penting harus diarsipkan melalui tulisan. Sebab apa yang tidak ditulis akan mudah dilupakan, sedangkan apa yang ditulis akan menjadi jejak sejarah. Melalui tulisan, kita tidak hanya merekam masa kini, tetapi juga mewariskan cahaya bagi masa depan.
Pada akhirnya, manusia akan pergi. Namun tulisan akan tetap tinggal, menjadi saksi bahwa kita pernah hadir, pernah berpikir, dan pernah berjuang untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Oleh: Firdaus



















