• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu

fusilat by fusilat
May 17, 2026
in Feature, Politik
0
Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu
Share on FacebookShare on Twitter

Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

Ada paradoks menarik dalam lanskap politik Jawa Barat hari ini: kritik keras terhadap kinerja pemerintahan berbanding terbalik dengan tingginya penerimaan publik terhadap figur pemimpinnya.

Media Fusilatnews (15/5) memberitakan bahwa DPRD Jawa Barat melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui sekitar 83 catatan dan rekomendasi atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Barat Tahun Anggaran 2025. Catatan tersebut disampaikan Wakil Ketua Pansus XIII DPRD Jabar, Hasim Adnan, yang menyoroti persoalan mendasar mulai dari kesehatan, ketimpangan ekonomi, infrastruktur, hingga tata kelola anggaran daerah.

Banyaknya catatan yang disampaikan DPRD menjadi sinyal bahwa masih terdapat pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan. Kritik itu tidak menyasar satu atau dua sektor, melainkan hampir seluruh aspek pembangunan.

Dalam sektor pembangunan manusia, DPRD menilai pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat masih belum merata dan belum sepenuhnya menghadirkan rasa keadilan sosial. Akses dan kualitas layanan kesehatan di berbagai wilayah masih timpang, terutama di daerah pelosok dengan fasilitas terbatas. Ketimpangan ekonomi yang tercermin dalam rasio Gini juga dinilai masih menjadi persoalan serius yang belum berhasil ditekan secara signifikan.

Sorotan tajam juga diarahkan pada tingginya angka kematian ibu melahirkan, kematian balita, serta penanganan stunting yang dianggap belum dilakukan secara terintegrasi dan lintas sektor.

Yang menarik, DPRD bahkan menemukan adanya capaian sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dinilai melampaui target secara tidak wajar. Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap indikator kinerja OPD diminta agar pelaporan lebih realistis dan akuntabel.

Secara keseluruhan, puluhan catatan tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, infrastruktur, ekonomi, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, tata kelola anggaran hingga reformasi birokrasi. DPRD menegaskan bahwa pembangunan Jawa Barat seharusnya berorientasi pada pengurangan kesenjangan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan.

Namun, di sisi lain, muncul fakta yang tampak bertolak belakang.

Survei kinerja satu tahun pemerintahan Jawa Barat yang dirilis Indikator pada Februari lalu menyimpulkan tingkat awareness publik terhadap sejumlah program pemerintah cukup tinggi. Tingkat kepuasan masyarakat juga berada pada kategori cukup atau sangat puas. Bahkan dalam situasi tekanan akibat kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, Jawa Barat masih menunjukkan performa ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan rata-rata nasional pada tahun 2025.

Dua fakta ini menghadirkan kontras yang menarik. Di satu sisi, lembaga yang memiliki fungsi pengawasan formal menilai bahwa kinerja pemerintahan menyisakan banyak persoalan serius. Di sisi lain, persepsi publik justru menunjukkan tingkat penerimaan yang tinggi.

Bagaimana menjelaskan kontradiksi ini?

DPRD adalah lembaga yang secara institusional memang berkepentingan melakukan pengawasan dan penilaian. Evaluasi terhadap LKPJ bukan sekadar opini, melainkan proses berbasis indikator dan ukuran kinerja yang terukur.

Sebaliknya, publik adalah kumpulan individu dengan pengalaman dan ekspektasi yang beragam. Penilaian masyarakat dapat dipengaruhi oleh pengalaman personal yang belum tentu mewakili kondisi keseluruhan. Dalam ruang ini, persepsi sering kali lebih dominan dibandingkan dengan data.

Apalagi, Jawa Barat memiliki sekitar 52,2 juta penduduk dan menjadi provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Dengan skala sebesar itu, pembentukan persepsi publik menjadi faktor yang sangat menentukan.

Pertanyaannya kemudian, jika sejumlah survei menempatkan Kang Dedi Mulyadi dalam tiga besar tokoh nasional, bersaing dengan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, indikator apa yang paling rasional menjelaskan fenomena ini?

Survei Poltracking Indonesia pada 2–8 Maret lalu, misalnya, menempatkan Presiden Prabowo Subianto pada posisi teratas dengan elektabilitas 32,9 persen. Sementara Dedi Mulyadi mencatat elektabilitas 13,5 persen, mengungguli Anies Baswedan yang berada pada angka 9,2 persen.

Pertanyaannya menjadi semakin menarik: variabel apa yang mampu menjelaskan mengapa seorang mantan bupati dapat melampaui tokoh dengan pengalaman nasional seperti Anies Baswedan, Mahfud MD, dan sejumlah figur lain?

A. Hadiat dalam Fusilatnews (16/5) memberi penjelasan menarik. Di era media sosial, kepemimpinan tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada gagasan, ideologi, atau kapasitas teknokratis. Politik telah bergerak ke ruang yang berbeda: ruang persepsi.

Apa yang tampak di hadapan publik sering kali lebih menentukan daripada apa yang sesungguhnya dikerjakan.

Sebagaimana dijelaskan Ali Syarief dalam bukunya Politik Aura, politik digital telah bergeser dari pertarungan program menjadi pertarungan aura. Aura merupakan citra emosional yang dibangun terus-menerus melalui media, terutama media sosial. Ia bekerja bukan pada nalar, melainkan pada rasa.

Di titik inilah fenomena Dedi Mulyadi tampaknya menemukan penjelasannya.

Berbagai sumber menyebut kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi memiliki jutaan pengikut dengan miliaran penayangan. Jangkauan media seperti ini membentuk relasi emosional yang kuat dengan publik.

Hal ini sejalan dengan temuan survei yang menunjukkan sekitar 92,7 persen responden menganggap aktivitas yang dilakukan gubernur merupakan bentuk kerja nyata seorang pemimpin.

Masalahnya bukan pada media sosial. Masalahnya adalah ketika persepsi menjadi satu-satunya ukuran kebenaran, sementara indikator objektif kinerja mulai kehilangan relevansinya.

Jika opini publik menjadi faktor dominan yang mengalahkan data dan ukuran keberhasilan yang terukur, maka demokrasi sedang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan: dari demokrasi berbasis rasionalitas menuju demokrasi berbasis ilusi.

Dan ketika citra mengalahkan fakta, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar elektabilitas seorang pemimpin, melainkan kesehatan akal sehat publik itu sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hadis-hadis Tahayul

fusilat

fusilat

Related Posts

Hadis-hadis Tahayul
Feature

Hadis-hadis Tahayul

May 17, 2026
Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik
Economy

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026
Birokrasi

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu

Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu

May 17, 2026
Hadis-hadis Tahayul

Hadis-hadis Tahayul

May 17, 2026
Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Membungkam Kritik, Menabur Ketakutan

May 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu

Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu

May 17, 2026
Hadis-hadis Tahayul

Hadis-hadis Tahayul

May 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...