Dalam sejarah peradaban Islam, hadis menempati posisi penting setelah Al-Qur’an. Hadis menjadi penjelas berbagai persoalan ibadah, hukum, etika, dan kehidupan sosial umat Islam. Namun sejak masa awal Islam, para ulama juga menyadari bahwa tidak semua riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi dapat diterima begitu saja. Karena itulah lahir ilmu hadis, sebuah disiplin yang bertugas memeriksa keaslian dan validitas sebuah riwayat.
Banyak orang mengira bahwa pemeriksaan hadis hanya berhenti pada sanad, yakni siapa meriwayatkan kepada siapa. Padahal para ulama juga mengenal kritik terhadap matan atau isi hadis. Sebab sebuah hadis tidak sekadar dinilai dari siapa yang membawa berita, tetapi juga dari apa isi berita tersebut.
Dalam ilmu hadis, terdapat sejumlah ukuran untuk menilai matan sebuah riwayat. Di antaranya, apakah isi hadis bertentangan dengan Al-Qur’an, bertentangan dengan hadis yang lebih kuat, bertentangan dengan fakta yang pasti, atau mengandung kejanggalan yang sulit dipertanggungjawabkan. Karena itu, bila sebuah hadis mengandung unsur syadz (ganjil) atau memiliki ‘illat (cacat tersembunyi), para ulama dapat menilai hadis tersebut lemah. Namun perlu dicatat, tidak semua hal yang terasa aneh menurut seseorang otomatis menjadi hadis dhaif. Ada perkara gaib yang memang berada di luar jangkauan akal manusia. Yang menjadi persoalan adalah apabila sebuah riwayat melahirkan kontradiksi serius, bertabrakan dengan prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, atau menyeret agama ke wilayah yang lebih dekat kepada tahayul dibanding petunjuk.
Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal. Kata afala ta’qilun—“apakah kalian tidak berpikir?”—berulang dalam banyak ayat. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang memusuhi nalar. Agama dibangun di atas petunjuk dan perenungan, bukan sekadar penerimaan tanpa pertimbangan.
Persoalan menjadi lebih menarik ketika terdapat riwayat-riwayat yang jika dipahami secara literal justru menimbulkan gambaran yang terasa aneh dan bahkan mengundang tawa.
Sebagai contoh, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa setan mengikat tiga ikatan di belakang kepala manusia saat tidur, lalu ikatan itu terlepas ketika seseorang bangun, berzikir, berwudu, dan salat. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa setan kencing di telinga orang yang terlambat bangun salat. Riwayat lain menyatakan bahwa setan bermalam di dalam hidung manusia, sehingga seseorang dianjurkan membersihkan hidung ketika bangun tidur.
Bahkan terdapat riwayat yang menggambarkan setan lari sambil kentut ketika azan dikumandangkan agar ia tidak mendengar suara azan. Riwayat lain menyebutkan bahwa setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.
Jika semua riwayat ini dipahami secara harfiah, maka muncul gambaran yang sulit dihindari: sosok setan yang tinggal di hidung manusia, mengikat rambut saat malam hari, kencing di telinga, lalu berlarian sambil kentut. Gambaran semacam ini, bagi sebagian orang, dapat mengundang tawa dan lebih menyerupai cerita rakyat atau dunia mitologi dibandingkan dengan uraian yang menghadirkan kebesaran agama.
Masalahnya bukan semata-mata apakah seseorang tertawa atau tidak. Persoalan sesungguhnya adalah ketika agama yang membawa pesan tauhid dan rasionalitas dipersepsikan seolah-olah dipenuhi kisah-kisah takhayul. Sebab Islam datang di tengah masyarakat Arab yang kala itu dipenuhi kepercayaan tahayul dan mitos. Kehadiran Al-Qur’an justru mengoreksi cara berpikir seperti itu.
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang setan, yang lebih banyak ditekankan adalah perannya dalam membisikkan godaan, menyesatkan manusia, menghiasi keburukan agar tampak indah, dan menjauhkan manusia dari jalan Allah. Al-Qur’an tidak sibuk menggambarkan setan sebagai makhluk yang berkeliling mengikat rambut manusia atau melakukan tindakan-tindakan fisik yang cenderung karikatural.
Di titik inilah kritik matan menjadi penting. Para ulama sejak dahulu memahami bahwa sebuah riwayat tidak cukup dinilai hanya dari rantai periwayatannya. Isi riwayat juga harus ditimbang. Sebab tujuan agama adalah memberi petunjuk, bukan menciptakan kebingungan.
Persoalan serupa juga terlihat dari banyaknya hadis sahih yang melahirkan kesimpulan hukum berbeda.
Misalnya mengenai anjing. Terdapat hadis mengenai perintah mencuci bejana yang dijilat anjing sebanyak tujuh kali. Namun para ulama mazhab berbeda dalam memahami kadar kenajisannya. Ada yang menganggap seluruh tubuh anjing najis, ada yang membatasi hanya air liurnya, bahkan ada pendapat yang lebih longgar.
Begitu pula dalam persoalan perkawinan. Tentang wali nikah, sebagian mazhab menyatakan bahwa nikah tanpa wali tidak sah berdasarkan hadis tertentu. Sementara mazhab lain memberi ruang bagi perempuan dewasa untuk melakukan akad dalam kondisi tertentu berdasarkan dalil yang mereka pahami.
Jika sumber hadisnya sama-sama dianggap sahih, mengapa hasilnya berbeda?
Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa hadis selalu berada dalam wilayah pemahaman manusia. Manusia yang meriwayatkan, manusia yang mengumpulkan, manusia yang menafsirkan, dan manusia pula yang menyimpulkan hukumnya.
Karena itu, sikap yang bijaksana bukan menolak seluruh hadis, tetapi juga bukan menerima seluruh riwayat tanpa nalar dan penelitian. Para ulama besar masa lalu justru sangat kritis. Mereka meneliti sanad, memeriksa isi riwayat, membandingkan satu riwayat dengan yang lainnya, dan mengukurnya dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an.
Agama yang besar tidak runtuh oleh pertanyaan. Justru agama menjadi kuat ketika berani diuji oleh akal, ditimbang dengan ilmu, dan dipahami dengan kebijaksanaan. Sebab iman yang kokoh bukan lahir dari ketakutan untuk berpikir, melainkan dari keberanian untuk mencari kebenaran.
Catatan Kaki- Riwayat-riwayat tentang Setan yang Menjadi Objek Kritik Matan
1. Setan Sang Pengikat Rambut
Abu Hurairah meriwayatkan:
“Saat kalian tidur, setan mengikat tiga ikatan di belakang kepala masing-masing, dan pada setiap ikatan ia meniupkan kata-kata: ‘Malam masih panjang, teruslah tidur.’ Jika orang itu bangun dan memuji Allah, satu ikatan terlepas; jika ia berwudu, ikatan kedua terlepas; dan jika ia salat, semua ikatan terlepas, sehingga ia bangun pagi dalam keadaan segar dan bersemangat. Jika tidak, ia bangun dalam keadaan lesu dan murung.”
Bila dipahami secara harfiah, riwayat ini menghadirkan gambaran setan seolah bekerja sebagai “penata rambut malam hari” yang mengikat kepala manusia saat tidur.
2. Setan Sang Pengencing Telinga
Terdapat riwayat:
“Setan telah kencing di telinganya.”
Riwayat ini dikaitkan dengan orang yang terlambat bangun salat. Sebagian orang memahami secara metaforis, namun jika dipahami secara literal, gambaran yang muncul menjadi sangat visual dan menimbulkan pertanyaan.
3. Setan Penghuni Hidung
Abu Hurairah meriwayatkan:
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidur lalu berwudu, hendaklah ia membersihkan hidungnya tiga kali, karena setan bermalam di dalam hidungnya.”
Bila dipahami secara harfiah, muncul gambaran bahwa setan tinggal dalam rongga hidung manusia sepanjang malam.
4. Setan Sang Pengganggu
Riwayat menyebutkan:
“Setan datang di hadapanku dan terus berusaha mengganggu konsentrasiku dalam salat, tetapi Allah memberiku kekuatan untuk mengalahkannya.”
Riwayat ini menggambarkan setan seolah hadir secara fisik mengganggu pelaksanaan salat.
5. Setan Sang Bidan
Abu Hurairah meriwayatkan:
“Setiap manusia yang lahir disentuh setan dengan kedua jarinya di kedua sisi tubuhnya, kecuali Isa putra Maryam. Setan mencoba menyentuhnya tetapi gagal dan hanya menyentuh selaput pembungkusnya.”
Dalam pemahaman literal, tangisan bayi dihubungkan dengan sentuhan setan saat kelahiran.
6. Setan dan Menguap
Riwayat lain menyatakan:
“Menguap berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampunya. Jika saat menguap seseorang berkata ‘Ha’, setan akan menertawakannya.”
Menguap sebagai refleks biologis dipahami memiliki hubungan dengan setan.
7. Setan Sang Pencuri yang Memberi Nasihat
Dalam riwayat Abu Hurairah mengenai penjagaan sedekah Ramadan, disebutkan:
“Ia berkata benar meskipun ia pendusta besar … Itu adalah setan.”
Riwayat ini menggambarkan setan bukan hanya sebagai pencuri, tetapi juga sebagai pemberi nasihat ibadah.
8. Setan Sang Tukang Kentut
Terdapat riwayat:
“Ketika azan dikumandangkan, setan lari sambil kentut dengan suara keras agar ia tidak mendengar azan.”
Jika dipahami secara literal, gambaran ini bagi sebagian orang dapat menimbulkan kesan karikatural.
9. Setan Bertangan Kiri
Riwayat lain menyebutkan:
“Ketika kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.”
Larangan makan dengan tangan kiri diberi dimensi supranatural melalui asosiasi dengan setan.
Catatan Penutup
Riwayat-riwayat di atas sering menjadi objek diskusi dalam kritik matan hadis. Sebagian ulama memahaminya secara harfiah, sebagian lain memahaminya secara simbolik atau metaforis. Perdebatan muncul ketika riwayat-riwayat semacam ini dipandang dapat menimbulkan persepsi bahwa agama bergerak ke wilayah takhayul atau mitologi, sementara Al-Qur’an sendiri lebih banyak menggambarkan setan dalam kerangka godaan moral, bisikan, dan penyimpangan manusia dari jalan kebenaran.
























