Jakarta-FusilatNews – Pelaku industri nasional dinilai perlu memperkuat strategi ketahanan bisnis di tengah meningkatnya harga bahan baku dan volatilitas nilai tukar rupiah yang memberi tekanan pada dunia usaha. Situasi ekonomi global dan domestik saat ini dipandang menjadi tantangan serius yang menuntut perusahaan bergerak lebih efisien dan adaptif.
Khairul Mahalli, Kadin Sumut, menilai kondisi tersebut bukan sekadar siklus ekonomi biasa, melainkan momentum bagi perusahaan untuk membuktikan kemampuan bertahan di tengah ketidakpastian pasar.
Menurutnya, langkah utama yang perlu dilakukan perusahaan adalah menjaga arus kas agar tetap sehat. Ia menilai banyak perusahaan tidak tumbang karena mengalami kerugian semata, melainkan akibat terganggunya aliran kas operasional.
“Perusahaan perlu mengurangi stok barang yang perputarannya lambat dan fokus pada produk dengan tingkat penjualan yang lebih cepat. Negosiasi pembayaran dengan pelanggan dan pemasok juga menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas keuangan,” ujarnya.
Selain menjaga arus kas, perusahaan juga diminta menghindari strategi perang harga. Menurut Khairul, persaingan harga yang berlebihan berpotensi menggerus margin keuntungan dan mengganggu keberlanjutan usaha.
Ia menyarankan perusahaan melakukan pendekatan lain, seperti penyederhanaan produk melalui value engineering, penyesuaian ukuran produk secara terkendali, serta menghadirkan varian ekonomis bagi konsumen dengan daya beli yang menurun.
Khairul juga menyoroti pentingnya efisiensi biaya operasional, terutama pada sektor energi dan logistik yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap biaya produksi industri.
“Digitalisasi dan otomasi bertahap perlu mulai diterapkan, mulai dari pengelolaan inventaris hingga pemantauan produksi. Saat ini otomasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan,” katanya.
Dalam aspek rantai pasok, ia menilai ketergantungan terhadap bahan baku impor perlu dikurangi melalui peningkatan penggunaan komponen lokal. Salah satu strategi yang didorong adalah membangun kemitraan dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pedesaan.
Menurutnya, konsep Desa Ekonomi Kreatif dapat menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan industri sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai juga membuka peluang bagi sejumlah sektor berbasis komponen lokal, seperti furnitur, tekstil, dan makanan olahan, untuk meningkatkan daya saing di pasar ekspor.
Khairul menambahkan, perusahaan juga perlu mengandalkan pengambilan keputusan berbasis data dengan memantau indikator ekonomi seperti kurs rupiah, BI Rate, PMI Manufaktur, serta perkembangan harga komoditas global.
Ia menegaskan bahwa perusahaan yang mampu bertahan adalah mereka yang memiliki fleksibilitas dalam pengelolaan rantai pasok, mengurangi ketergantungan pada impor, serta disiplin menjalankan efisiensi.
“Adaptasi dan kolaborasi menjadi faktor penting agar perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh saat kondisi ekonomi membaik,” katanya.
























