Oleh: Ali Syarief
Bagi sebagian besar orang, makan adalah kegiatan yang sangat biasa. Ia menjadi rutinitas harian yang sering dilakukan tanpa kesadaran. Kita lapar, lalu makan. Kita kenyang, lalu kembali bekerja. Siklus itu berlangsung berulang-ulang, seolah makanan hanyalah bahan bakar bagi tubuh.
Namun, di Jepang, makan memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Sebelum menyentuh makanan, hampir setiap orang mengucapkan satu kalimat sederhana: itadakimasu (いただきます). Kalimat ini sering diterjemahkan sebagai “selamat makan”, padahal maknanya jauh melampaui ungkapan sopan santun. Itadakimasu berarti, “Saya dengan penuh rasa syukur menerima kehidupan ini.”
Yang diterima bukan sekadar nasi, ikan, atau sayuran. Yang diterima adalah kehidupan. Tumbuhan yang dipanen. Hewan yang dikorbankan. Air yang menghidupi. Matahari yang menumbuhkan. Tanah yang menyuburkan. Para petani yang bekerja sejak fajar. Nelayan yang menghadapi ombak. Para juru masak yang mengolahnya dengan penuh perhatian. Bahkan leluhur yang mewariskan kehidupan hingga kita dapat duduk di meja makan hari ini.
Di dalam satu kata itu terkandung kesadaran bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian.
Di banyak keluarga Jepang, terutama generasi terdahulu, hari dimulai dengan mempersembahkan teh atau makanan kepada altar keluarga sebagai ungkapan hormat kepada leluhur. Ketika hasil panen pertama musim itu dinikmati, sebagian dipersembahkan lebih dahulu sebagai tanda syukur. Bukan karena para leluhur membutuhkan makanan, melainkan karena manusia membutuhkan rasa hormat terhadap mata rantai kehidupan yang telah membawanya sampai hari ini.
Makan, dengan demikian, bukan hanya memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi juga merawat ingatan.
Pandangan ini diperkuat oleh falsafah Jepang yang dikenal sebagai Shindo Funi (身土不二). Falsafah ini mengajarkan bahwa tubuh manusia dan tanah tempat ia hidup adalah satu kesatuan. Makanan yang tumbuh sesuai musim dan lingkungan tempat kita tinggal merupakan makanan yang paling selaras dengan tubuh manusia.
Konsep ini lahir jauh sebelum ilmu gizi modern berbicara tentang pangan lokal, keberlanjutan, atau jejak karbon. Masyarakat tradisional telah memahami bahwa alam tidak sekadar menyediakan makanan, tetapi juga membentuk manusia yang hidup di atasnya.
Karena itu, makanan lokal bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan identitas. Ia menghubungkan manusia dengan musim, dengan petani, dengan lingkungan, dan dengan komunitasnya. Ketika seseorang mengenal siapa yang menanam makanannya, rasa syukur tumbuh dengan sendirinya.
Bahkan cara meletakkan sumpit pun memiliki makna filosofis. Dalam tradisi Jepang, sumpit diletakkan melintang sebagai batas simbolis antara diri manusia dan makanan yang akan diterima. Makanan diperlakukan sebagai sesuatu yang luhur, bukan benda yang dapat diperlakukan sembarangan. Mengambil sumpit menjadi sebuah tindakan sadar bahwa kita akan menerima kehidupan dengan hormat.
Budaya makan seperti ini menunjukkan bahwa peradaban tidak hanya dibangun melalui teknologi atau kemajuan ekonomi. Peradaban juga dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari dengan penuh kesadaran.
Indonesia sesungguhnya memiliki nilai-nilai yang sejalan. Kita mengenal doa sebelum makan, tradisi syukuran panen, sedekah bumi, hingga berbagai ritual adat sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Namun, di tengah kehidupan modern, banyak di antaranya mulai kehilangan makna. Makan semakin sering dilakukan sambil menatap layar gawai, terburu-buru, bahkan tanpa menyadari asal-usul makanan yang tersaji di hadapan kita.
Barangkali yang perlu kita pelajari dari Jepang bukanlah cara menggunakan sumpit atau menu makanannya. Yang jauh lebih penting adalah cara mereka memandang kehidupan.
Karena ketika makanan dihormati, alam ikut dihormati. Ketika alam dihormati, manusia belajar hidup secukupnya. Ketika rasa syukur menjadi bagian dari setiap suapan, maka makan tidak lagi menjadi sekadar aktivitas biologis, melainkan sebuah pendidikan karakter yang berlangsung setiap hari.
Mungkin, di situlah sebuah peradaban yang besar sesungguhnya dimulai: dari sebuah meja makan, dari sepasang tangan yang terlipat, dan dari hati yang dengan tulus mengucapkan, itadakimasu.

Oleh: Ali Syarief

















