• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Sang Jenderal Berpikir Kopral

Ali Syarief by Ali Syarief
May 18, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Ketika Sang Jenderal Berpikir Kopral
Share on FacebookShare on Twitter

Ada kalanya seseorang tidak kehilangan kecerdasan, melainkan kehilangan jarak pandang. Ia masih melihat, tetapi hanya sejauh pagar depan rumah. Ia masih mendengar, tetapi hanya sebatas gema ruangan tempat ia berdiri.

Dan di situlah masalah bermula.

Konon, ada sebuah cara berpikir yang sederhana: “Di desa-desa orang tidak menggunakan dolar.” Kalimat itu terdengar tenang, bahkan mungkin terdengar membumi. Seolah-olah hendak berkata kepada rakyat kecil: tenang saja, dolar adalah urusan gedung-gedung tinggi, urusan dasi mahal, urusan layar bursa saham dan ruang rapat berpendingin udara.

Tetapi persoalannya, ekonomi bukan soal apakah orang desa menggenggam dolar atau tidak.

Petani di desa memang tidak membawa dolar di kantongnya. Pedagang sayur di pasar tidak menghitung cabai dengan kurs mata uang asing. Tukang becak tidak menerima bayaran dengan lembaran hijau bergambar presiden Amerika.

Namun, ekonomi mempunyai cara kerja yang lebih licik daripada itu.

Petani mungkin tidak mengenal dolar, tetapi pupuk mengenalnya. Solar mengenalnya. Mesin traktor mengenalnya. Ongkos logistik mengenalnya. Suku cadang mengenalnya. Harga kedelai, gandum, hingga berbagai komoditas global mengenalnya.

Sebab hasil bumi tidak terbang dari sawah menuju pasar menggunakan doa semata.

Ia diangkut kendaraan yang meminum BBM.

Dan BBM, secara langsung maupun tidak langsung, menari mengikuti irama pasar global yang dipengaruhi oleh dolar.

Maka ketika dolar naik, gelombangnya tidak berhenti di bandar internasional. Ia berjalan masuk ke pelabuhan, menyelinap ke gudang distribusi, merayap ke truk pengangkut, lalu tiba di pasar desa. Sampai akhirnya ibu-ibu bertanya dengan wajah bingung:

“Kenapa harga beras naik lagi?”

Padahal mereka tidak pernah memegang dolar seumur hidupnya.

Di situlah ironi itu berdiri sambil tersenyum.

Karena terkadang orang mengira dunia berhenti di tempat matanya memandang. Seolah desa adalah pulau kecil yang terpisah dari Bumi. Seolah ekonomi modern bisa dipagari dengan bambu dan tulisan: “Dolar dilarang masuk.”

Padahal dunia hari ini saling terhubung seperti urat-urat pada tubuh manusia. Satu bagian terguncang, bagian lain ikut berdenyut.

Mungkin inilah saat ketika seorang jenderal lupa bahwa strategi perang dan strategi ekonomi tidak selalu sama. Di medan perang, musuh bisa terlihat di depan mata. Tetapi di medan ekonomi, musuh sering kali tidak membawa senjata. Ia datang dalam bentuk angka kurs, harga minyak, inflasi, dan daya beli.

Mungkin karena itu ada saatnya pangkat di pundak tidak cukup.

Karena yang dibutuhkan bukan sekadar cara berpikir seorang komandan.

Tetapi kemampuan melihat bahwa dunia tidak berhenti di ujung desa.

Dan di sanalah paradoks muncul: ketika seseorang berpangkat jenderal, tetapi cara pandangnya justru mengecil menjadi kopral. Bukan karena pangkatnya berkurang, melainkan karena luas cakrawalanya menyempit.

Dan ekonomi, seperti biasa, tidak pernah peduli pada pangkat. Ia hanya tunduk pada hukum sebab-akibat.

Sementara rakyat? Mereka tetap membeli beras dengan rupiah, tetapi diam-diam membayar dampak dari dolar.

—sebuah satire tentang jarak antara ucapan dan kenyataan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo: Dari Wibawa Menuju Olok-Olok

Next Post

DHL Desak Ijazah Asli S1 Jokowi Dihadirkan di Sidang Roy Suryo Cs

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sarjana Menganggur:  Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya
Economy

Sarjana Menganggur: Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

July 2, 2026
Bertanya, Mencurigai, dan Menduga Ijazah Palsu – Bukan Tindak Pidana
Feature

Bertanya, Mencurigai, dan Menduga Ijazah Palsu – Bukan Tindak Pidana

July 2, 2026
Belajar dari Itadakimasu: Ketika Makan Menjadi Penghormatan kepada Kehidupan
Feature

Belajar dari Itadakimasu: Ketika Makan Menjadi Penghormatan kepada Kehidupan

July 2, 2026
Next Post
DHL Desak Ijazah Asli S1 Jokowi Dihadirkan di Sidang Roy Suryo Cs

DHL Desak Ijazah Asli S1 Jokowi Dihadirkan di Sidang Roy Suryo Cs

Emotional Hijacking: Ketika Emosi Membajak Arah Perilaku Manusia

Emotional Hijacking: Ketika Emosi Membajak Arah Perilaku Manusia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online
Birokrasi

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

by Karyudi Sutajah Putra
July 2, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Peringatan Hari Bhayangkara atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri saat ini ditandai dengan hadiah manis bagi...

Read more
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bukan Kemenkes, Mestinya Kemhan Gandeng Polri dan Komnas HAM Usut Kematian Lima Peserta Latsarmil Calon Manajer KMP

Bukan Kemenkes, Mestinya Kemhan Gandeng Polri dan Komnas HAM Usut Kematian Lima Peserta Latsarmil Calon Manajer KMP

July 2, 2026
Sarjana Menganggur:  Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

Sarjana Menganggur: Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

July 2, 2026
Bertanya, Mencurigai, dan Menduga Ijazah Palsu – Bukan Tindak Pidana

Bertanya, Mencurigai, dan Menduga Ijazah Palsu – Bukan Tindak Pidana

July 2, 2026
Saat Umat Membutuhkan Persatuan: Silatnas Ormas Islam Lahirkan Deklarasi Nasional 2026

Saat Umat Membutuhkan Persatuan: Silatnas Ormas Islam Lahirkan Deklarasi Nasional 2026

July 2, 2026
Belajar dari Itadakimasu: Ketika Makan Menjadi Penghormatan kepada Kehidupan

Belajar dari Itadakimasu: Ketika Makan Menjadi Penghormatan kepada Kehidupan

July 2, 2026

​Ekosistem Fungsi Pengawasan Reversibel dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ​(Membangun Akuntabilitas, Transparansi, dan Integritas sebagai Mesin Pembangunan Bangsa)

July 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bukan Kemenkes, Mestinya Kemhan Gandeng Polri dan Komnas HAM Usut Kematian Lima Peserta Latsarmil Calon Manajer KMP

Bukan Kemenkes, Mestinya Kemhan Gandeng Polri dan Komnas HAM Usut Kematian Lima Peserta Latsarmil Calon Manajer KMP

July 2, 2026
Sarjana Menganggur:  Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

Sarjana Menganggur: Ijazah Kehilangan Nilai Tukarnya

July 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...