Ada kalanya seseorang tidak kehilangan kecerdasan, melainkan kehilangan jarak pandang. Ia masih melihat, tetapi hanya sejauh pagar depan rumah. Ia masih mendengar, tetapi hanya sebatas gema ruangan tempat ia berdiri.
Dan di situlah masalah bermula.
Konon, ada sebuah cara berpikir yang sederhana: “Di desa-desa orang tidak menggunakan dolar.” Kalimat itu terdengar tenang, bahkan mungkin terdengar membumi. Seolah-olah hendak berkata kepada rakyat kecil: tenang saja, dolar adalah urusan gedung-gedung tinggi, urusan dasi mahal, urusan layar bursa saham dan ruang rapat berpendingin udara.
Tetapi persoalannya, ekonomi bukan soal apakah orang desa menggenggam dolar atau tidak.
Petani di desa memang tidak membawa dolar di kantongnya. Pedagang sayur di pasar tidak menghitung cabai dengan kurs mata uang asing. Tukang becak tidak menerima bayaran dengan lembaran hijau bergambar presiden Amerika.
Namun, ekonomi mempunyai cara kerja yang lebih licik daripada itu.
Petani mungkin tidak mengenal dolar, tetapi pupuk mengenalnya. Solar mengenalnya. Mesin traktor mengenalnya. Ongkos logistik mengenalnya. Suku cadang mengenalnya. Harga kedelai, gandum, hingga berbagai komoditas global mengenalnya.
Sebab hasil bumi tidak terbang dari sawah menuju pasar menggunakan doa semata.
Ia diangkut kendaraan yang meminum BBM.
Dan BBM, secara langsung maupun tidak langsung, menari mengikuti irama pasar global yang dipengaruhi oleh dolar.
Maka ketika dolar naik, gelombangnya tidak berhenti di bandar internasional. Ia berjalan masuk ke pelabuhan, menyelinap ke gudang distribusi, merayap ke truk pengangkut, lalu tiba di pasar desa. Sampai akhirnya ibu-ibu bertanya dengan wajah bingung:
“Kenapa harga beras naik lagi?”
Padahal mereka tidak pernah memegang dolar seumur hidupnya.
Di situlah ironi itu berdiri sambil tersenyum.
Karena terkadang orang mengira dunia berhenti di tempat matanya memandang. Seolah desa adalah pulau kecil yang terpisah dari Bumi. Seolah ekonomi modern bisa dipagari dengan bambu dan tulisan: “Dolar dilarang masuk.”
Padahal dunia hari ini saling terhubung seperti urat-urat pada tubuh manusia. Satu bagian terguncang, bagian lain ikut berdenyut.
Mungkin inilah saat ketika seorang jenderal lupa bahwa strategi perang dan strategi ekonomi tidak selalu sama. Di medan perang, musuh bisa terlihat di depan mata. Tetapi di medan ekonomi, musuh sering kali tidak membawa senjata. Ia datang dalam bentuk angka kurs, harga minyak, inflasi, dan daya beli.
Mungkin karena itu ada saatnya pangkat di pundak tidak cukup.
Karena yang dibutuhkan bukan sekadar cara berpikir seorang komandan.
Tetapi kemampuan melihat bahwa dunia tidak berhenti di ujung desa.
Dan di sanalah paradoks muncul: ketika seseorang berpangkat jenderal, tetapi cara pandangnya justru mengecil menjadi kopral. Bukan karena pangkatnya berkurang, melainkan karena luas cakrawalanya menyempit.
Dan ekonomi, seperti biasa, tidak pernah peduli pada pangkat. Ia hanya tunduk pada hukum sebab-akibat.
Sementara rakyat? Mereka tetap membeli beras dengan rupiah, tetapi diam-diam membayar dampak dari dolar.
—sebuah satire tentang jarak antara ucapan dan kenyataan.

























