Fusilatnews – Ada yang lebih berbahaya dari musuh: kawan yang menuding. Dan di dalam sejarah Islam, luka terdalam bukan hanya datang dari luar, tapi dari tangan sesama. Dari kata-kata yang membelah seperti pisau. Dari klaim tunggal atas kebenaran. Dari keyakinan bahwa kunci surga hanya ada di satu genggaman tangan, dan sisanya sesat, menyimpang, bid’ah. Felix Siauw—dengan segala kepiawaiannya merakit narasi Islam dalam format digital—telah menjadi salah satu arsitek dari tembok yang memisahkan kita satu sama lain.
Barangkali, ini bukan soal siapa benar siapa salah. Ini lebih soal kesediaan untuk tidak menjadi Tuhan. Tapi di situlah letak masalahnya: ketika orang-orang mengangkat diri lebih tinggi dari yang mereka sembah. Mengklaim bahwa Syiah bukan Islam. Bahwa Iran, karena ia Syiah, lebih baik dianggap musuh, bahkan lebih layak dilawan ketimbang Zionisme yang membunuhi anak-anak Gaza.
Sungguh, dunia kita hari ini aneh. Di mana anak-anak muda lebih mudah membenci Teheran ketimbang Tel Aviv. Dan dalam narasi seperti inilah, tokoh seperti Felix Siauw memainkan peran: membingkai Islam dalam garis batas sempit, membagi surga seperti warisan, seolah-olah keyakinan hanya bisa dimiliki dengan cara yang ia pahami.
Tapi mungkin ia lupa—atau tak sempat membaca—bahwa di tahun-tahun awal pergerakan Islam modern di Indonesia, orang-orang Muhammadiyah di Jawa Timur pernah dianggap bukan Islam oleh sebagian tokoh Nahdlatul Ulama. Mereka disebut “kaum wahabi”, dicurigai karena tidak tahlilan, karena memurnikan tauhid, karena tidak memakai qunut. Maka, masjid-masjid mereka diobrak-abrik. Dipagari, ditutup, bahkan dibakar.
Tapi sejarah, seperti air, mencari jalan sendiri. Hari ini Muhammadiyah dan NU bisa duduk dalam satu barisan salat Idulfitri, di alun-alun, di stadion, atau di tanah lapang mana pun, dan tak satu pun dari mereka bertanya apakah kamu membaca qunut atau tidak. Yang tersisa adalah niat untuk menyembah Tuhan yang sama. Tapi mengapa pengalaman sejarah ini tidak bisa dibawa lebih luas, lebih jauh—sampai ke Teheran, sampai ke Qom, sampai ke Beirut?
Mengapa kita, yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW, justru lebih sibuk membangun tembok, padahal sang Nabi sendiri adalah manusia yang merobohkannya?
Islam bukan organisasi. Ia bukan satu merek dagang. Ia bukan milik satu mazhab. Ia adalah cahaya yang menyentuh siapa saja yang mau menerima. Syiah, Sunni, Ahmadiyah, Ibadiyah—apakah Tuhan tidak mengenali hamba-hamba-Nya hanya karena cara mereka menyusun doa berbeda? Bukankah kita telah terlalu lama membuang energi untuk menuding, sampai lupa membela yang tertindas?
Hari ini, ketika Israel membombardir rumah-rumah warga sipil, meratakan kamp pengungsi, dan menistakan kiblat pertama umat Islam, hanya Iran yang mengangkat senjata. Tapi di antara kita, masih ada yang lebih sibuk menyoal akidah mereka. Seolah-olah malaikat akan membatalkan pahala keberanian hanya karena kalimat syahadatnya memakai redaksi yang berbeda.
Felix, dan mereka yang berpikir serupa, tampaknya lebih takut pada Syiah daripada pada kezaliman. Mereka lebih resah pada perbedaan cara salat daripada pada peluru yang merobek tubuh anak Palestina. Mereka lebih suka menyerang Iran daripada menolak normalisasi dengan Israel. Dan ini bukan soal paham, tapi soal hati yang kerdil.
Kita harus menulis tentang pentingnya mendengarkan mereka yang tak sepenuhnya kita setujui. Karena di situlah letak kemanusiaan: bukan dalam kemenangan argumen, tapi dalam pengakuan bahwa kebenaran bisa menampakkan wajahnya di luar kotak yang kita bangun sendiri.
Maka saya ingin bertanya kepada Felix, dan siapa pun yang suka membagi-bagi Islam: jika Rosulullah hari ini hadir dan menyaksikan umatnya saling memvonis kafir, akankah beliau ikut-ikutan membangun dinding, atau justru merobohkannya?
Barangkali, kita terlalu sibuk mengklaim siapa yang Islam, sampai lupa menjadi manusia.


























