Kita menyaksikan sebuah fragmen yang tidak sepatutnya keluar dari seorang pemimpin publik. Di Subang, seorang Kepala Daerah Muda (KDM) memperlihatkan sikap arogan yang mencolok saat menghadapi masyarakat. Dalam sebuah pertemuan yang semestinya menjadi ruang dialog, justru yang terlihat adalah dominasi, bukan persuasi; emosi, bukan ketenangan; ekspresi kuasa, bukan kepemimpinan.
Pemandangan ini sesungguhnya mencemaskan. Bukan semata karena nadanya yang meninggi, atau gesturnya yang mengintimidasi satu kelompok masyarakat yang hadir. Tetapi karena insiden ini memantulkan satu kelemahan mendasar dalam kepemimpinan: ketidakstabilan emosi (emotional instability). Padahal, kestabilan emosi adalah prasyarat utama bagi seorang pemimpin yang mengelola kompleksitas publik dan perbedaan kepentingan yang menyertainya.
Di masa ketika publik menuntut pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara psikologis, kejadian di Subang ini menjadi contoh buruk dari gaya komunikasi vertikal yang menjadikan kekuasaan sebagai instrumen untuk membungkam, bukan membina. Ini bukan hanya soal etika komunikasi, tapi juga menyingkap persoalan mendasar dalam cara seorang kepala daerah membangun relasi dengan warganya.
Kita mafhum, bahwa menjadi pemimpin di era penuh tekanan ini bukan perkara mudah. Kritik datang dari segala arah, dan ekspektasi publik tak pernah surut. Namun justru di situlah ujiannya: apakah seorang pemimpin mampu tetap tenang dalam badai, atau justru larut dalam emosinya sendiri.
Dalam dunia manajemen kepemimpinan, kestabilan emosi dikenal sebagai emotional intelligence, dan menjadi salah satu indikator tertinggi dari keberhasilan seorang leader. Tanpa itu, komunikasi bisa menjadi alat kekerasan verbal, bukan jembatan kesepahaman. Dan publik, perlahan, akan kehilangan kepercayaan.
Apa yang diperlihatkan KDM di Subang bisa jadi bukan kali pertama, tetapi ia menandai sebuah pola. Jika pola ini terus berulang, maka yang tumbuh bukanlah kepercayaan, melainkan ketakutan. Dan pemimpin yang ditakuti, lebih sering jatuh dalam jebakan kekuasaan yang buta arah.
Pemimpin ideal adalah mereka yang mampu mendidik dengan sikap, mengayomi dalam tutur, dan menyelesaikan masalah tanpa mempermalukan siapa pun. Jika KDM ingin menatap masa depan politik yang lebih besar, ia harus belajar satu hal mendasar: publik bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, melainkan mitra yang harus dihargai.
























