• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Terlambat dan Tidak Mendasar: Pramono Anung dan Retorika yang Kehilangan Momen

Ali Syarief by Ali Syarief
June 1, 2025
in Birokrasi, daerah, Feature
0
Terlambat dan Tidak Mendasar: Pramono Anung dan Retorika yang Kehilangan Momen
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Pernyataan Pramono Anung dalam perayaan ulang tahun ke-75 Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) bahwa ia ingin menjadi “pemimpin bagi semua agama, golongan, kelompok, dan etnis” terdengar merdu di telinga publik. Namun bagi sebagian warga Jakarta yang cermat, terutama mereka yang mengikuti dinamika kepemimpinan sebelumnya, pernyataan ini terasa seperti gema yang datang terlambat—atau dalam bahasa yang lebih jujur, “too late and not the crucial issue anymore”, mengutip istilah yang ia gunakan sendiri dalam konteks lain.

Mengapa terlambat? Karena Jakarta pernah memiliki seorang gubernur yang membuktikan prinsip inklusivitas tanpa perlu gembar-gembor janji atau retorika normatif. Ia adalah Anies Baswedan. Tanpa banyak publikasi, tanpa seremonial politik, Anies membuka jalan pembangunan rumah-rumah ibadah lintas agama—gereja, kelenteng, vihara—yang selama bertahun-tahun terbengkalai akibat birokrasi yang diskriminatif dan tekanan kelompok intoleran. Ia tidak menunggu panggung ulang tahun lembaga keagamaan untuk mengumumkan niat baiknya; ia mewujudkannya dalam keputusan-keputusan konkret yang memulihkan keadilan ruang beragama di Ibu Kota.

Dalam konteks ini, pernyataan Pramono tampak seperti usaha mengejar narasi yang sudah usang. Kebutuhan Jakarta hari ini bukan lagi sekadar pernyataan komitmen terhadap toleransi, melainkan pembuktian nyata atas keberpihakan pada pluralisme yang setara. Dan jika tolok ukur itu digunakan, maka Anies telah melampaui Pramono—tanpa perlu forum FKUB atau retorika merangkul semua golongan.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang hendak dibentuk oleh Pramono juga patut dipertanyakan efektivitasnya. Di masa lalu, FKUB sering kali menjadi alat administratif yang justru memperlambat izin pendirian rumah ibadah minoritas. Alih-alih menjadi fasilitator kerukunan, FKUB dalam praktiknya sering terjebak dalam kompromi politik mayoritas. Apa jaminan bahwa forum versi Pramono tidak akan mengulang pola yang sama?

Kemudian, ada pula klaim bahwa sejumlah persoalan keagamaan telah diselesaikan namun “tidak perlu dipublikasikan”. Pernyataan ini ambigu. Jika tidak dipublikasikan, bagaimana publik bisa menilai kinerjanya? Jika ingin merendah, mengapa justru menyampaikan bahwa dirinya telah menyelesaikannya? Kerendahan hati dan komunikasi publik tidak harus saling meniadakan, justru bisa bersinergi jika disampaikan dengan transparansi dan akuntabilitas.

Bandingkan ini dengan gaya Anies Baswedan yang dalam banyak hal tidak menepuk dada. Di masa kepemimpinannya, gereja Kristen Protestan di Krukut—yang izin pembangunannya mangkrak selama 17 tahun—akhirnya bisa berdiri. Tanpa perlu memonopoli narasi toleransi, ia menyelesaikan masalah dengan pendekatan hukum dan rasa keadilan.

Akhirnya, pernyataan Pramono bukanlah sesuatu yang salah. Namun ia datang terlalu terlambat, dan ia tidak menjawab kebutuhan mendasar warga Jakarta saat ini. Yang dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang “ingin merangkul semua”, tapi pemimpin yang sudah dan terus merawat keragaman tanpa perlu menunggu sorotan kamera. Dalam hal ini, sejarah akan mencatat: Anies sudah lebih dahulu melangkah, sementara Pramono baru berbicara.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

1 Juni 1945 Bukan Lahirnya Pancasila: Sebuah Penyesatan Sejarah

Next Post

Pertamina Turunkan Harga BBM Nonsubsidi Mulai 1 Juni 2025

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Pengacara Rungkad dan Salah Kaprah Memahami Musuh di Ruang Sidang

July 4, 2026
Partai Mantan Presiden: Siapa yang Masih Bertahan pada Pemilu 2029?
Feature

Partai Mantan Presiden: Siapa yang Masih Bertahan pada Pemilu 2029?

July 4, 2026
Feature

REVISI UU NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT: UNTUK SIAPA?

July 3, 2026
Next Post
BBM Pertamina Naik, Berikut Perbandingannya dengan SPBU Shell, Vivo, dan BP

Pertamina Turunkan Harga BBM Nonsubsidi Mulai 1 Juni 2025

Harga Beras Melesat Kayak Roket, Tembus Rp 25 Ribu Per Kg di Kota – Kota Tertentu

Bulog: Antara Bisnis dan Ketahanan Pangan, Saatnya Kembali ke Pangkuan Negara

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online
Birokrasi

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

by Karyudi Sutajah Putra
July 2, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Peringatan Hari Bhayangkara atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri saat ini ditandai dengan hadiah manis bagi...

Read more
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Pengacara Rungkad dan Salah Kaprah Memahami Musuh di Ruang Sidang

July 4, 2026
Jokowi Sudah Kehilangan Nalar Sehatnya

Gravitasi Kekuasaan dan Pembusukan Politik: Membaca Indonesia Melalui Francis Fukuyama

July 4, 2026
Karisma Mantan Presiden Memudar Menguji Hukum Gravitasi Politik Indonesia

Karisma Mantan Presiden Memudar Menguji Hukum Gravitasi Politik Indonesia

July 4, 2026
Partai Mantan Presiden: Siapa yang Masih Bertahan pada Pemilu 2029?

Partai Mantan Presiden: Siapa yang Masih Bertahan pada Pemilu 2029?

July 4, 2026
Diledek PDIP,  PSI Partai Lebih Banyak Baliho Daripada Pengurusnya,  PSI Mencak-mencak Tak Terima

Membaca Langkah Catur Raja Juli Kembalikan Amplop Gratifikasi

July 3, 2026

REVISI UU NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT: UNTUK SIAPA?

July 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pengacara Rungkad dan Salah Kaprah Memahami Musuh di Ruang Sidang

July 4, 2026
Jokowi Sudah Kehilangan Nalar Sehatnya

Gravitasi Kekuasaan dan Pembusukan Politik: Membaca Indonesia Melalui Francis Fukuyama

July 4, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist