FusilatNews – Manusia modern sering membanggakan diri sebagai makhluk rasional. Kita hidup di era internet, kecerdasan buatan, satelit, dan sains yang mampu menembus ruang angkasa. Namun di balik kemajuan itu, ada sisi lain manusia yang tetap bertahan sejak ribuan tahun lalu: kecenderungan mempercayai sesuatu yang tidak terlihat. Psikolog Bruce Hood dalam bukunya SuperSense menyebutnya sebagai supersense, kecenderungan alami otak manusia untuk mencari makna, hubungan, dan kekuatan tersembunyi di balik peristiwa yang dialami. Gagasan ini dikembangkan oleh Bruce Hood.
Jika teori Bruce Hood diuji di Indonesia, tampaknya kita tidak akan kesulitan menemukan contohnya. Bahkan bisa jadi Indonesia merupakan laboratorium sosial yang sangat kaya untuk melihat bagaimana supersense bekerja.
Sejak kecil, banyak orang Indonesia tumbuh bersama berbagai keyakinan yang diwariskan turun-temurun. Anak-anak dilarang duduk di depan pintu karena dipercaya akan menghambat jodoh. Ada larangan bersiul pada malam hari karena dianggap mengundang makhluk halus. Kuku tidak boleh dipotong malam hari. Sapu yang menyentuh kaki harus dikembalikan dengan menyapukan lagi agar tidak sulit mendapat pasangan. Sebagian orang menganggap angka tertentu membawa keberuntungan, sementara angka lain dianggap membawa kesialan.
Pertanyaannya bukan benar atau salah. Yang menarik justru mengapa keyakinan semacam itu terus hidup bahkan di tengah pendidikan modern.
Bruce Hood menjelaskan bahwa otak manusia memang dirancang untuk mencari pola. Dahulu, kemampuan ini membantu manusia bertahan hidup. Ketika nenek moyang mendengar suara semak bergoyang, lebih aman menganggap ada harimau meskipun ternyata hanya angin daripada mengabaikannya lalu diterkam. Evolusi lebih memilih manusia yang terlalu waspada dibandingkan dengan manusia yang terlalu cuek.
Masalahnya, mekanisme ini masih terbawa sampai sekarang. Akibatnya, manusia sering menemukan hubungan sebab-akibat yang sebenarnya belum tentu ada.
Fenomena tersebut tampak jelas dalam kehidupan sosial Indonesia. Misalnya, ketika seseorang mengenakan baju tertentu lalu memperoleh rezeki besar pada hari itu. Besoknya baju yang sama dipakai kembali saat wawancara kerja, saat ujian, atau saat bertemu klien. Lama-kelamaan baju itu berubah dari sekadar pakaian menjadi “baju pembawa hoki”.
Dalam politik pun fenomena serupa sering muncul. Ada orang yang percaya bahwa seorang tokoh memiliki “aura kepemimpinan”, “tuah”, atau “karisma gaib”. Padahal kemampuan memimpin secara rasional dapat diukur melalui rekam jejak, kebijakan, integritas, dan kapasitas intelektual. Namun, manusia sering lebih tertarik pada sesuatu yang sulit dijelaskan dibandingkan dengan angka dan data.
Di dunia olahraga Indonesia, Supersense juga hadir. Ada pemain yang tidak mau mengganti nomor punggung tertentu karena dianggap membawa keberuntungan. Ada pendukung tim sepak bola yang memiliki ritual khusus saat menonton pertandingan. Sebagian orang meyakini bahwa jika posisi duduknya diubah, tim kesayangannya akan kalah.
Secara logika hal itu terdengar aneh. Tetapi jutaan orang melakukannya.
Bahkan dunia ekonomi tidak sepenuhnya bebas dari fenomena ini. Banyak orang memilih hari tertentu untuk membuka usaha, membeli rumah, menikah, atau memulai bisnis berdasarkan hitungan tertentu. Sebagian memilih tanggal “cantik” karena dianggap membawa keberuntungan. Sebagian lagi berkonsultasi mengenai arah bangunan, posisi pintu, atau susunan ruangan.
Di media sosial, Supersense bahkan memperoleh panggung baru. Pesan berantai yang berbunyi, “Sebarkan ke sepuluh orang maka keberuntungan datang,” atau “Jangan abaikan pesan ini jika tidak ingin mendapat musibah” masih beredar hingga hari ini. Anehnya, di era internet yang cepat, kecepatan penyebaran informasi sering kali juga mempercepat penyebaran keyakinan yang tidak diuji.
Namun supersense tidak selalu buruk. Dalam kadar tertentu, ia membantu manusia menemukan makna hidup. Harapan, simbol, tradisi, dan keyakinan dapat memberi kekuatan psikologis. Seseorang yang memegang foto keluarga sebelum bekerja mungkin merasa lebih tenang. Seorang pasien yang diberi keyakinan positif dapat memiliki semangat lebih besar untuk sembuh.
Persoalan muncul ketika keyakinan mulai mengalahkan nalar. Ketika masyarakat lebih mempercayai kabar tanpa bukti dibanding fakta. Ketika keputusan penting diambil berdasarkan ketakutan yang tidak rasional. Ketika mitos menggantikan pengetahuan.
Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar, bukan kekurangan informasi, tetapi justru banjir informasi. Di tengah situasi itu, kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting. Sebab masalahnya bukan sekadar apakah manusia percaya sesuatu yang tidak terlihat, tetapi apakah manusia masih bersedia menguji apa yang dipercayainya.
Mungkin Bruce Hood benar. Manusia tidak pernah sepenuhnya rasional. Kita semua membawa supersense di dalam diri. Kita mencari makna, berharap pada simbol, dan mencoba memahami dunia yang sering kali terlalu rumit.
Yang membedakan bukan siapa yang memiliki supersense dan siapa yang tidak. Yang membedakan adalah apakah kita menjadi tuannya, atau justru menjadi pengikutnya.
























