Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Ah, seandainya Prabowo Subianto ikut lomba “stand up comedy”, mungkin Presiden RI itu akan keluar sebagai juaranya. Betapa tidak?
Lelucon yang ia lontarkan sungguh sangat jenaka. Lebih jenaka dari komedian mana pun. Apalagi sekadar Pandji Pragiwaksono.
Simak saja. Dalam pidatonya saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menyatakan rakyat tak perlu khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah karena orang desa tidak menggunakan dolar (AS).
Saat pidato Prabowo, nilai tukar rupiah terus merosot dan mencapai lebih dari 17.600 per dolar AS.
Tentu apa yang dilontarkan Prabowo itu sebuah “joke” atau lelucon tingkat tinggi yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sudah mencapai kearifan tertentu.
Yakni, orang-orang yang sudah maklum bahwa Prabowo ternyata tidak secerdas yang kita duga. Bahwa Prabowo materi pidatonya hanya itu-itu saja, mengulang apa yang sudah sering dilontarkan. Bahwa Prabowo ternyata hanya bisa omon-omon belaka.
Sementara yang lainnya, yang belum mencapai kearifan tertentu dan hanya mengandalkan logika, akan menilai Prabowo melawan akal sehat karena mengingkari fakta.
Faktanya, bahan bakar minyak yang digunakan rakyat Indonesia masih impor. Bahkan minyak goreng, gandum, jagung, bahkan kedelai yang merupakan bahan baku tempe dan tahu, hidangan keseharian orang desa, masih impor pula, dan semua itu harus dibayar dengan dolar. Kalau nilai tukar rupiah rendah, untuk membayar produk impor dengan dolar, maka diperlukan jumlah rupiah yang sangat banyak. Artinya, orang desa pun terpengaruh oleh melemahnya nilai tukar rupiah.
Mungkin Prabowo sedang menghibur rakyatnya. Atau mungkin sedang mengibur diri dari rasa khawatir yang menderanya.
Dalam pidato itu ia juga menyayangkan pengamat dan orang-orang yang menyatakan Indonesia akan “chaos” (kacau) jika rupiah terus melemah. Artinya, Prabowo pun memiliki kekhawatiran atau bahkan ketakutan yang sama akan terjadinya chaos seperti yang diprediksi para pengamat yang hendak ia tertibkan itu.
Rupiah Runtuh, Presiden Jatuh
Prabowo memang patut takut. Pasalnya, sudah menjadi semacam hukum alam bahwa jika rupiah runtuh, Presiden pun akan jatuh. Sayangnya, Prabowo tak mau belajar dari pengalaman. Termasuk pengalaman orang lain. Padahal, pengalaman adalah guru terbaik. Experience is the best teacher.
Keledai saja, yang dikonotasikan sebagai hewan paling bodoh, mau belajar dari pengalaman. Keledai tak mau terantuk dua kali pada batu yang sama.
Ya, sepertinya Prabowo tak mau belajar dari pengalaman jatuhnya Soekarno dan Soeharto dari kursi Presiden.
Diketahui, pada masa-masa akhir kekuasaan Bung Karno (1965-1966), nilai tukar rupiah jatuh sangat drastis akibat hiperinflasi yang mencapai ratusan persen. Rupiah anjlok hingga mencapai kisaran Rp4.995 hingga Rp10.000 per dolar AS.
Pada saat Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan Presiden pada 21 Mei 1998, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.650 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini merupakan puncak dari krisis moneter yang melanda Asia sejak medio 1997. Rupiah anjlok drastis dari yang sebelumnya stabil di angka sekitar Rp2.400 per dolar AS pada awal krisis, bahkan sempat menyentuh rekor terlemah hingga angka Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS pertengahan Mei 1998.
Atau mungkin karena sadar bahwa Bung Karno dan Pak Harto jatuh karena runtuhnya rupiah itulah, lalu Prabowo menghibur diri demi menutupi ketakutannya, sehingga melontarkan joke yang sesungguhnya tidak lucu itu, yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sudah mencapai kearifan tertentu? Mungkin!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)























