JAKARTA-Fusilatnews – Komando Pelaporan Bela Islam (Korlabi), organisasi yang dipimpin oleh Damai Hari Lubis dengan salah satu Badan Pembinanya Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si., mengecam keras serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini terjadi pada 28 Februari 2026 dan telah memicu gelombang duka serta demonstrasi di berbagai belahan dunia.
Menurut pernyataan Korlabi yang diterima media di Jakarta, serangan tersebut menunjukkan sikap ”ketidakadilan dan kesewenangan” pihak Amerika Serikat sebagai sekutu Israel, sementara konflik Israel–Palestina masih jauh dari penyelesaian damai. Korlabi menilai bahwa AS tidak pantas mendapatkan status sebagai “polisi dunia” karena melakukan tindakan yang dinilai tidak seimbang dan berpihak pada Israel. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Ketua Korlabi, Damai Hari Lubis, dalam konferensi pers pada Minggu (1/3/2026).
Serangan dan Klaim Kematian Khamenei
Serangan gabungan itu dimulai dengan operasi udara dan rudal besar-besaran pada 28 Februari 2026, yang menargetkan sejumlah infrastruktur strategis di Iran, termasuk kompleks pusat pemerintahan di Teheran. Presiden Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi itu direncanakan untuk melumpuhkan program nuklir Iran dan memicu perubahan rezim di Teheran.
Pada hari berikutnya, penyiaran resmi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Ayatollah Ali Khamenei, 86 tahun, telah tewas dalam serangan tersebut. Pemerintah Iran menyatakan Khamenei telah ”berpulang sebagai syahid”, dan sebagai respons resmi terhadap kematian pemimpin tertingginya, Teheran — melalui media negara — menetapkan masa berkabung selama 40 hari serta libur nasional selama tujuh hari.
Khamenei telah memimpin Republik Islam Iran sejak 1989 dan merupakan tokoh sentral dalam struktur politik, militer, dan keagamaan negara itu. Sepanjang masa kepemimpinannya, ia dikenal karena sikapnya yang keras terhadap Amerika Serikat dan Israel serta dukungannya terhadap program nuklir Iran yang menjadi salah satu sumber ketegangan geopolitik di kawasan.
Reaksi Iran dan Dampak Konflik
Pemerintahan Iran, melalui Presiden Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa balasan terhadap serangan ini adalah “hak dan kewajiban yang sah”. Ancaman eskalasi konflik menjadi semakin nyata dengan serangan balasan melalui rudal dan drone yang dilancarkan ke posisi militer AS serta Israel di wilayah Teluk dan negara-negara sekutunya.
Selain itu, laporan media internasional menyebutkan bahwa beberapa tokoh militer dan pejabat tinggi Iran juga tewas dalam serangan itu, menambah gejolak politik dan militer di Tehran serta menciptakan kekosongan kepemimpinan yang luar biasa.
Tuntutan dan Sikap Korlabi
Dalam pernyataannya, Korlabi menyerukan penolakan terhadap dominasi militer global oleh kekuatan besar seperti Amerika Serikat serta menegaskan posisi solidaritas terhadap bangsa-bangsa yang menjadi korban konflik dan agresi. Damai Hari Lubis menyatakan bahwa tindakan militer tersebut tidak hanya melanggar kedaulatan Iran, tetapi juga berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah yang sudah lama dilanda ketegangan.
























