Fusilatnews – Nama memang sering menipu. Board of Peace—secara harfiah—terdengar seperti sekumpulan orang arif yang duduk melingkar, menyeruput teh hangat, dan merumuskan dunia yang damai, tenteram, serta bebas dari darah dan air mata. Namun, dalam praktiknya, yang kerap muncul justru kebalikannya: bukan dewan perdamaian, melainkan Boars of Pembunuh—sekawanan babi liar yang rakus, mengamuk, dan tak segan menginjak-injak nyawa demi kepentingannya sendiri.
Plesetan ini tentu bukan sekadar permainan bunyi. Ia lahir dari rasa muak. Dari ironi yang berulang. Dari realitas bahwa institusi yang mengklaim diri sebagai penjaga moral global justru sering menjadi penonton VIP—atau lebih buruk, sutradara bayangan—dari tragedi kemanusiaan.
Namun ketika kita menunggu perdamaian di tempat lain, kenyataannya sering sangat berbeda. Di Iran, hanya beberapa hari yang lalu, sebuah gelombang kekerasan meledak begitu cepat dan brutal hingga lebih dari 200 orang tewas dalam serangan udara dan sejumlah besar lainnya cedera di seluruh pelosok negara, dengan sekolah-sekolah hancur dan seragam pelajar menjadi abu di tengah puing perang.
Babi Liar Bernama Perdamaian
Dalam mitologi modern, babi bukan sekadar hewan. Ia simbol kerakusan, kebengisan, dan ketidakpedulian. Maka ketika Board of Peace berubah menjadi Boars of Pembunuh, itu bukan penghinaan tanpa dasar. Itu diagnosis.
Para anggota “dewan” ini pandai berpidato tentang ceasefire, human rights, dan international concern. Namun, pidato mereka sering berhenti di mikrofon. Ketika bom jatuh, anak-anak mati, rumah sakit hancur, dan pengungsi mengular tanpa arah, para boars ini sibuk menghitung kepentingan geopolitik:
siapa sekutu, siapa musuh, siapa pemasok senjata, siapa pembeli loyal.
Damai, rupanya, hanyalah jargon. Nyawa manusia hanyalah variabel pengganggu.
Kuku Kotor dan Moncong Berdarah
Babi liar tak pernah benar-benar bersih. Kuku mereka selalu penuh lumpur, moncongnya basah oleh sisa-sisa yang dilahap. Begitulah wajah Boars of Pembunuh: tangan-tangan yang menandatangani resolusi di siang hari, tetapi membiarkan pembantaian berlanjut di malam hari.
Mereka tidak menarik pelatuk senjata. Itu penting dicatat. Mereka hanya:
- menyetujui penjualan senjata,
- memveto kecaman,
- menunda keputusan,
- dan menyebut genosida sebagai “konflik kompleks”.
Dengan cara itu, darah tetap mengalir—tanpa harus mengotori jas mahal mereka.
Perdamaian yang Disembelih
Ironisnya nyaris sempurna. Perdamaian, yang seharusnya dijaga, justru disembelih di meja rapat. Kata peace dijadikan tameng moral, sementara praktiknya adalah legitimasi kekerasan. Dunia dipaksa percaya bahwa ini semua demi stabilitas, demi keseimbangan, demi tatanan global.
Padahal yang stabil hanyalah kekuasaan mereka.
Yang seimbang hanyalah neraca keuntungan.
Dan yang global hanyalah rasa malu umat manusia.
Satire yang Terlalu Nyata
Esai ini satire, ya. Tapi seperti semua satire yang baik, ia menyakitkan karena terlalu dekat dengan kenyataan. Boars of Pembunuh bukan makhluk fiksi. Mereka hidup di gedung-gedung megah, berbicara dengan bahasa diplomasi, dan berlindung di balik prosedur.
Mereka tidak mengaum seperti singa.
Mereka mendengus pelan—namun mematikan.
Dan selama dunia masih memuja nama tanpa menguji tindakan, Board of Peace akan terus beranak-pinak menjadi Babi of Pembunuh: rakus, kejam, dan kenyang oleh darah yang bukan darah mereka sendiri.


























