• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kusimpan Airmata di Hatiku (Bag III)

Pipiet Senja by Pipiet Senja
September 3, 2022
in Feature
1
Kusimpan Airmata di Hatiku

(SHUTTERSTOCK/T.Photo)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelumnya

Oleh : Pipiet Senja

Sementara aku berjibaku menyiuki air, membuangnya ke luar rumah, anakku terus berseru-seru menyemangatiku. Kadang aku mendatanginya, mengingatkan agar tidak berisik, kemudian kubuatkan perahu-perahu dari kertas. Dia mempermainkannya dari atas ranjang tingkat dua itu dengan sapu lidi sebagai pengaitnya. Dua jam berlalu sudah, hujan masih turun bahkan semakin deras, dan air tetaplah bergeming. Keringat, peluh, banjir dan air mata mulai mengaduk-aduk perasaanku. Inilah saat-saat paling sengsara yang belum pernah kami alami.

Ketakutanku sesungguhnya lebih disebabkan sebuah tanggung jawab yang harus kupikul, demi menyelamatkan nyawa kami berdua. Aku harus jujur, sesungguhnya aku merasa takut sekali tak sanggup menunaikan amanah yang telah diberikan Sang Pencipta di pundakku ini; anak. Pikiranku serasa buntu dan membeku. Lelah lahir, lelah batin. kupandangi wajah mungil yng kini tampak kelelahn pula, sepasang matanya balik menatap sayu ke arahku, tapi mulutnya sudah berhenti mengoceh sejak beberapa saat berselang.

“Sudah ya Ma, sudah, sini, kita doa aja,” ajaknya tiba-tiba. Di situlah, di atas ranjang tingkat, mengisi waktu menjelang subuh, aku memeluk tubuh kecil sambil mulutku tak putus berzikir dan berdoa.

 Seminggu hujan turun terus-menerus, air bagaikan dicurahkan dari langit. Banjir di mana-mana, meluap di kawasan perkampungan belakang kompleks perguruan Islam milik ulama besar itu. Berkali-kali air datang di malam hari, kemudian surut menjelang siang. Acapkali kami berdua sama sekali tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah air masuk, atau menyiukinya saat banjir datang. Paling kami hanya memandangi pemandangan ajaib itu dari ranjang bertingkat selama berjam-jam, tak jarang harus menahan rasa haus dan lapar hingga air surut kembali.

Suatu petang yang terbebas dari hujan, saat kami sudah kehabisan bekal, tak ada makanan kering, tak ada beras sebutir pun. Kocek pun kosong sama sekali.

“Mama, gak punya uang lagi, ya?” usik anakku. Sepanjang hari itu hanya kuberi semangkuk bubur pemberian tetangga, dan beberapa potong kue basah.

“Iya, Nak. Baru besok pagi kita bisa ke kantor redaksi mengambil honor,” sahutku sambil berpikir keras, bagaimana mendapatkan makan untuk mengganjal perutnya malam ini.

“Kenapa besok?”

“Yah, karena naskahnya belum jadi nih.”

Tidak, bukan itu alasannya. Aku tak punya ongkos. Kutahu dia mulai tersiksa dengan bunyi lagu keroncong yang setiap saat diperdengarkan oleh perut kami. Aku kembali melanjutkan menulis cerita bersambung sambil menekan rasa bersalah yang meruyak. Kulihat sepintas makhluk kecil itu mulai mencari-cari sesuatu untuk melampiaskan pikiran dan perasaannya. Ya, kutahu persis demikian kebiasaannya. Benar saja, begitu dia berhasil menemukan buku Mot Monyet dan robot-robotan Megaloman, maka dengan cekatan tangannya memainkan si robot. “Alkisah di jaman sekarang, si Mega lagi musim kebanjiran jrek-jrek jrek-jrek, nooong!” Bibirku niscaya mengerimut menahan senyum.

“Emak si Mega lagi sibuk kerja, bikin cerita biar bisa dijual, jrek-jrek jrek-jrek, nooong!” Bibirku niscaya kian mengerimut, menahan geli. “Uangnya nanti bakal beli makananan anaknya, jrek-jrek jrek-jrek, nooong!” Ah, anak ini bisa saja kalau sudah menghibur ibunya, pikirku. Jari-jemariku semakin sibuk ngebut menulis. Tinggal satu bab lagi dan selesai.

“Aduuuh, si Mega sekarang lagi kelaparan, jrek-jrek jrek jrek, duuuh, duuh…”

“Soalnya berhari-hari cuma makan bubur, jrek-jrek jrek-jrek,” Dadaku mulai berdebar, tapi kutahankan untuk tidak terpengaruh. Jari-jemariku, pikiran dan perasaanku masih berkutat pada ending cerita tentang sebuah keluarga yang berbahagia. Ya Rob, kuatkan anakku, jeritku mengawang langit. 

“Adduuh… Tuhan… Ekal kepingin makan… Tuhan… di mana makanannya?” Aku masih melanjutkan menulis, tapi tak ada suara apapun lagi dari sebelahku. Kuhentikan berjibaku dengan si Denok, kulirik dalang jejadianku tersayang yang telah membuat ibunya merasa geli. Ya Tuhan, kenapa anakku, begitu? Anak itu, buah hatiku tercinta, belahan jiwaku tampak menekuk kedua lututnya, memeluk robotnya erat-erat. Buku Mot Monyet sudah terlepas dari tangannya, mengambang di permukaan air yang menggenang di bawah kami.

“Naaak, Cinta, maafkan Mama, ya, maafkan Mama!” kuraih dan kupeluk tubuh mungil yang sudah tak tahan rasa laparnya itu erat-erat. Ada gigilan yang aneh mengalir dari tubuhnya. Ya Tuhan, jangan, jangan biarkan anakku sakit. Jangan saat-saat begini, jangaaan. Benteng pertahananku pun jebol sudah, air bening meluap dari sudut-sudut mataku, seolah-olah ingin menyaingi air banjir yang telah menggenangi tempat mukim kami selama berhari-hari.

“Ke mana kita, Ma?” lirihnya lemah saat kugendong dia dengan segala kekuatan yang masih kumiliki, tak peduli kusibak air sebatas lutut yang telah membuatku merasa terhalang untuk mencari nafkah lebih keras lagi.

“Pssst, diamlah, Nak. Kita berdoa, kita akan cari makanan,” bisikku di telinganya.

“Siiip!” serunya mengagetkan. “Turunkan Ekal, Ma, nanti limpa Mama sakit lagi,” pintanya pula serius sekali. Berjalan kaki menembus tanah becek yang tiada terkira, kuperas otakku sedemikian rupa, bagaimana caranya mendapatkan makanan untuk anakku? Nah, ada warung nasi, tapi dari mana uangnya?

“Tunggu dulu di sini sebentar, ya Nak,” kulepaskan genggaman tangannya beberapa meter dari warung nasi itu. Tanpa banyak tanya, ini sesuatu pengecualian, biasanya sangat cerewet, dia mengangguk, membiarkanku berlalu. Maka, kulempar segala perasaan malu, kudatangi pemilik warung nasi.

“Ibu, Ibu, hmm, maaf, bisa saya minta tolong ya Bu?” Perempuan paro baya bertubuh subur itu memandangiku. Apakah dia masih mengenaliku? Ada beberapa kali aku membeli makanan ke sini.

“Ya, ada apa?” tanyanya.

“Saya butuh makanan, sebungkus nasi rames, ya Bu. Tapi bayarnya besok, ya Bu. Boleh, ya, Bu, boleh?” Kutekan terus rasa malu itu, mumpung tak ada siapapun selain si ibu. “Ibu kan kenal saya yang nyewa di rumah Ustad Fahri. Nah, ini, kalau gak percaya, mmm, saya jaminkan KTP ini, ya Bu.”

“Oalaaa… Neng, ya wis… pake jamin-jaminan KTP segala,” tukasnya sambil tersenyum ramah. Kutelan air mata yang seketika terasa asin, dan berjejalan hendak tumpah berderai dari sudut-sudut mataku.

“Monggo, mau apa saja.Jangan sungkan-sungkan tho, Neng.” Begitu sayang Gusti Allah kepada kami, kataku dalam hati. Maka, kujinjing dua bungkus nasi rames lengkap dengan lauknya; ayam goreng dan perkedel.

“Makanannya dapat, ya Ma?” sambut anakku sambil menatap kantong kresek di tanganku lekat-lekat. Aku mengangguk dengan mata membasah.

“Horeee, asyiiik!” serunya berjingkrak kegirangan.

“Pssst, alhamdulillah, begitu,” tukasku sangat terharu melihat anakku girang tak terkira.

“Eh, iya, ya, Alhamdulillah wa syukurillah.” Kami bergandengan tangan kembali ke rumah petak, masih terendam oleh air sungai yang meluap ke mana-mana.

Malam itulah aku memutuskan untuk menyerahkan kembali anakku kepada bapaknya, termasuk diriku. Meskipun harus menanggung nestapa selama puluhan tahun kemudian, disebabkan kecurigaan paranoid yang sudah berurat dan berakar dalam jiwanya.

***

“Kutatap terus rombongan kereta jenazah itu hingga lenyap dari pandangan. Seketika ada yang merayapi relung-relung kalbuku, Suatu saat, dirikulah yang berada di balik kerandaku, pikirku.

Pipiet Senja mengisahkan saat memulai tulisannya, ia tengah berada dalam kondisi tidak sehat. Penyakit kronis thalasemia yang dideritanya sejak lahir memberi dampak luar biasa dalam sejarah kehidupannya. Apalagi ia ditransfusi darah sejak tahun 1969 hingga sekarang, termasuk bagian kandung empedunya.

Sejak sepulang dari rawat inap sekitar bulan Maret 2009, ia mulai menekadkan diri untuk laparaskopi, sebuah prosedur pemeriksaan dengan memasukkan teropong kecil ke dalam rongga perut. Dengan biaya sekitar Rp 60 juta, sebuah nilai yang tidak sanggup ditanggungnya. Anaknya yang bernama Haekal mengusulkan agar menjual rumahnya yang berada di Cimahi, namun belum laku juga meski sudah pasang iklan di blog mereka.

Selama berpuluh tahun berobat di rumah sakit, tak jarang ia dilakukan semena-mena. Mulai dari dibentak petugas, dicuekin dokter, sampai ditaruh di koridor UGD saat menjalani transfusi darah. Ketika sampai di UGD, bukannya segera diberi pertolongan malah ditanya, “Ini jaminannya apa?” bahkan tidak jarang petugas berdalih, “Tak ada tempat, lagi penuh, pindah saja ke rumah sakit lain!”.

Hingga suatu saat, ia diterima kembali untuk dirawat di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Namun masih ada beban juga rupanya, akhirnya saat pulang menebus obat di apotik, bertanyalah ia pada Butet, putrinya, “Nak, ada berapa lagi isi ATM-nya?”. “Masih ada, Ma…dikiiit!” jawab Butet. Saat itulah seorang kawan bernama Elly Lubis memberi jalan, menjadi penghubung dengan seorang dokter bernama Imam.

Esoknya, Butet melangkah mendatangi alamat kantor yayasan sosial tempat dokter itu berada. “Mereka bersedia meng-cover semua dana operasinya, Ma.” “Alhamdulillah” ucap Pipiet Senja. Tinggal mencari jalan bagaimana supaya biaya sehari-hari terpenuhi dan menebus pinjaman kantor yang mulai menumpuk. Harus dicarikan solusi, tekadnya.

Bersambung

Darah Menetes di Laptop

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Beda Antara Meramal dan Membohong

Next Post

Ferdy Sambo Bela Brigjen Hendra Kurniawan, Ini Tanggapan Polri

Pipiet Senja

Pipiet Senja

Related Posts

JK & Seekor Gajah
Feature

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT
Feature

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK
Feature

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026
Next Post
Ferdy Sambo Bela Brigjen Hendra Kurniawan, Ini Tanggapan Polri

Ferdy Sambo Bela Brigjen Hendra Kurniawan, Ini Tanggapan Polri

Tiga Langkah Jegal Anies Baswedan

Tiga Langkah Jegal Anies Baswedan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK & Seekor Gajah
Feature

JK & Seekor Gajah

by Karyudi Sutajah Putra
April 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Gajah itu panjang. Itu bila hanya dilihat...

Read more
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Harga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Berikut Daftar Lengkapnya

DPR Ingatkan Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Kelompok Rentan Terancam Terjepit

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist