Jakarta, Fusilatnews. – Gempa bumi besar telah menewaskan lebih dari 3.700 orang di seluruh wilayah Turki dan Suriah barat laut pada Senin, dengan cuaca musim dingin yang membekukan, menambah penderitaan ribuan orang yang terluka atau kehilangan tempat tinggal dan menghambat upaya untuk menemukan orang yang selamat.
Gempa berkekuatan 7,8 SR meruntuhkan seluruh blok apartemen di kota-kota Turki dan menumpuk lebih banyak kehancuran pada jutaan warga Suriah yang terlantar akibat perang bertahun-tahun. Itu melanda sebelum matahari terbit dalam cuaca buruk dan diikuti pada sore hari oleh gempa besar lainnya.
“Itu seperti kiamat,” kata Abdul Salam al-Mahmoud, seorang Suriah di kota utara Atareb. “Dingin sekali dan ada hujan lebat, dan orang-orang perlu diselamatkan.”
Di Turki, jumlah korban tewas mencapai 2.316, kata Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD), menjadikannya gempa paling mematikan di negara itu sejak gempa dengan kekuatan yang sama pada tahun 1999 menghancurkan wilayah Laut Marmara timur yang berpenduduk padat di dekat Istanbul, menewaskan lebih dari 17.000 orang. Layanan darurat mengatakan 7.340 orang telah diselamatkan sejauh ini. Pembaruan itu membuat jumlah total korban gempa di Turki dan negara tetangga Suriah menjadi 3.613.
Korban tewas diperkirakan akan meningkat. Selain itu, gempa susulan juga diprediksi dapat berlanjut selama berhari-hari atau berminggu-minggu.
Diketahui sebelumnya disebutkan terdapat beberapa faktor yang membuat gempa menimbulkan banyak korban jiwa. Beberapa faktor tersebut yaitu waktu kejadian, lokasi, garis patahan yang relatif tenang hingga lemahnya konstruksi bangunan yang runtuh.
Gempa tersebut menyebabkan kehancuran sebagian karena kekuatannya dan karena menghantam wilayah berpenduduk. Alasan lain yaitu karena gempa terjadi pada pukul 04.17 (0117 GMT), yang berarti bahwa orang-orang yang sedang tidur.
“Terperangkap ketika rumah mereka runtuh,” kata peneliti kehormatan di British Geological Survey Roger Musson, kepada AFP.
Konstruksi bangunan juga tidak “benar-benar memadai untuk daerah yang rawan gempa besar,” katanya.
Hal lain yaitu sebagian mungkin disebabkan oleh fakta bahwa garis patahan tempat gempa terjadi baru-baru ini relatif tenang.



















