H-2 Lebaran, pemudik masih terpantau ramai hingga menyebabkan kemacetan di beberapa ruas jalan, terutama di Pelabuhan Merak, Banten.
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Kepala Departemen Manajemen CSR dan Humas PT MMS, Uswatun Hasanah jarak kemacetan yang terjadi di Kota Cilegon tersebut mencapai 19 kilometer.
“Ekor antrian sejak jam 04.00 Wib dini hari tadi hingga sekarang, naik turun di KM89 sampai KM90,” katanya melalui pesan elektronik, Sabtu (30/4). Dikutip cnnindonesia.com
Uswatun juga menyampaikan bahwa kendaraan yang masuk di Gerbang Tol (GT) Cikupa hingga kini mencapai 46.633 unit atau naik sekitar 4,6 persen. Sedangkan kendaraan yang keluar dari GT Merak sebanyak 8.327 atau turun hingga 7,81 persen dari arus lalu lintas harian.
Penuh sesak di Pelabuhan Merak membuat salah seorang pemudik perempuan bernama Sumarni (34) pingsan di dalam mobil saat sedang menunggu antrean masuk kapal di Pelabuhan Merak, Banten, Jumat (29/4) malam.
Pemudik tersebut pingsan dikarenakan lemas dan sempat mengalami dehidrasi berat hingga muntah-muntah. Sumarni kemudian dibawa ke Pos Kesehatan Pelabuhan Merak untuk diobati. Hal ini disampaikan langsung oleh Kabid Humas Polda Banten Kombes Shinto Silitonga.
Pemudik motor yang jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu dilaporkan menyemut di dalam Pelabuhan Merak, sejak Jumat (29/4) malam hingga Sabtu, (29/4).
Syarif Hidayatullah, salah satu pemudik mengaku mengalami kemacetan yang luar biasa mulai dari Bekasi untuk sampai di Pelabuhan Merak.
“(Berangkat) dari sore, mudik mau ke Lampung Tengah dari Bekasi. Kemacetan luar biasa, menguji kesabaran demi ketemu orang tua. Di belakang macet panjang, udah kayak bendungan dibuka,” kata Syarif saat ditemui di tol gate Pelabuhan Merak, Sabtu (30/4).
Tak hanya itu, kisah sedih juga disampaikan Sri, pemudik asal Bogor yang mengaku berangkat bersama kedua anaknya pada Jumat (29/4) malam dan baru sampai di tol gate Pelabuhan Merak Sabtu (30/4) Pukul 06.30 WIB.
Saat sampai di Pelabuhan Merak, hujan turun. Tol gate khusus sepeda motor pun tak menyiapkan fasilitas tenda. Alhasil, para pemotor mesti hujan-hujanan, termasuk anak kecil.
“Sedih. Nunggu suami di belakang. Udah (berangkat) dari jam 23.00 WIB malam tadi. Maunya sih ada tenda harusnya,” ujar Sri, sembari menahan tangis dan mengusap kepala sang anak di gendongan, Sabtu (30/4).





















