Oleh : Dr. Susilawati Saras SE.,MM.,MA.,M.han – Intelektual Bela Negara
Indonesia adalah negara kepulauan dengan penduduk muslim terbesar di dunia, terletak persis di garis khatulistiwa beriklim tropis. Iklim tropis menjadi sebuah anugerah, di antara anugerah lainnya yang membentuk karakter bangsa Indonesia. Berbeda dengan masyarakat bangsa di beberapa negara lainnya yang memiliki empat musim sehingga mereka harus mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan musim tersebut dan itu tentunya membutuhkan effort yang tidak sedikit baik secara fisik maupun mental.
Berbeda dengan masyarakat bangsa yang berada pada iklim tropis seperti Indonesia, Malaysia dan beberapa negara Asean lainnya cenderung sama, sehingga membentuk karakter masyarakat lebih santai karena tidak perlu repot untuk mempersiapkan perubahan musim. Iklim tropis hanya terdiri dari dua musim yaitu panas dan hujan sehingga menghadirkan kelembaban atau suhu udara yang ideal bagi keseimbangan kehidupan.
Situasi tersebut sejatinya dapat menghadirkan lingkungan yang lebih tenang (spiritual) karena hanya tinggal menjalani dan menikmati rutinitas. Tidak terlalu ada hambatan ataupun tantangan seperti di negara empat musim dan ini harus disyukuri oleh bangsa Indonesia khususnya.
Dikaitkan situasi di bulan Ramadhan, dimana umat Muslim menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh sebagai kewajiban yang bermanfaat dengan menikmati keimanan rukun Islam maka sejatinya kondisi ini semakin menyempurnakan dinamika kehidupan menjadi lebih hening, terkendali dan bernilai. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap insan, bagaimana menjaga ibadah puasa selama Ramadhan dirasakan hening bagi lingkungan sosial. Khususnya bagi mereka usia-usia muda/remaja yang sedang sibuk mencari jati diri sebagai bentuk eksistensi diri di ruang sosial. Melihat kenyataan yang terjadi melalui berbagai media, bahkan di beberapa wilayah di tanah air sering terjadi kericuhan, saling unjuk kebolehan yang berakibat tawuran akhirnya mengganggu ketertiban umum sejatinya situasi Ramadhan sebagai momen perenungan dan intropeksi diri (rahmat dan hikmat).
Menjalankan ibadah puasa bukan semata mampu menahan diri dari lapar dan haus tetapi juga dapat mengendalikan pikiran, ucapan, sikap/perilaku agar menghadirkan keselarasan dan keserasian (keseimbangan jasmani dan rohani).
Nilai menjalankan ibadah puasa sebagai penegakan kewajiban puasa, melakukan pembersihan diri, sebagai rem dari rutinitas dari sebelas bulan sebelumnya untuk melakukan hal-hal baik, memelihara kesehatan karena dengan berpuasa maka kesehatan mental, jasmani, rohani, spiritual terjaga baik.
Harapannya, akan lebih mudah wujudkan kepedulian sosial dengan mengenal diri sendiri;
- Memiliki ketenangan hati, dapat berpikir jernih tidak ceroboh yang membahayakan diri dan orang lain karena lebih mudah mengikuti arahan.
- Fokus, yang berarti memusatkan perhatian atau berkonsentrasi pada keheningan maka mendapatkan makna sesungguhnya.
- Kesadaran, yang berarti keinsyafan, mengerti dengan apa yang dirasakan dan dialami.
- Berdamai dengan diri sendiri, tidak ada perang atau kerusuhan/masalah yang membuat rumit karena diselesaikan, sebelum membantu orang lain sejatinya membantu diri sendiri dahulu.
- Produktif, kegiatan yang menghasilkan keuntungan dan manfaat bagi diri maupun orang lain.
- Berbagi, memberi dan menerima sesuatu dalam bentuk barang, cerita, kisah, ilmu, uang, makanan dan segala yang penting bagi hidup manusia.
Jika setiap individu dapat mengenal diri dengan baik maka akan menemukan kebahagiaan yang berdampak pada ruang sosial lebih damai dan berkualitas, karena dalam setiap nafas ada energi kasih (pancaran cahaya tanpa syarat). Demikianlah sejatinya masyarakat bangsa yang tinggal di iklim tropis, berorientasi pada pembentukan karakter spiritual tercermin dalam sikap sehari-hari dirasakan sejuk pada kehidupan sosial.
























