Jakarta, Fusilatnews – Mau dekat dengan Allah SWT? Kosongkan dirimu!
Demikian benang merah ceramah Dr KH Usman Umar MA dalam edisi perdana kajian rutin bulanan di Musholla Al Istiqomah, Peninggaran Timur, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, Senin (9/6/2025) malam.
Menurut Kiai Usman, kalau kita sedang berupaya mendekatkan diri kepada Allah, dengan salat, misalnya, kalau dalam diri kita masih ada kesombongan, rasa iri dan dengki, misalnya, maka setan akan terus menggoda, sehingga salat kita menjadi tidak khusyuk, dan upaya kita mendekatkan diri kepada Allah pun akan gagal total.
“Karena dalam diri kita masih ada makanan setan seperti sombong, iri dan dengki, sehingga setan akan terus menggoda. Misalnya saat salat, pikiran kita ke mana-mana. Ingat barang dagangan kita dan sebagainya,” jelasnya.
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu kemudian memberikan amsal atau perumpamaan.
“Kalau kita sedang berjalan sambil membawa ikan tuna, misalnya. Kalau kita berpapasan dengan anjing, maka anjing itu akan terus menggonggong sampai ikan tuna yang kita bawa itu kita lepaskan untuk dia makan. Walaupun kita lempar dengan batu, misalnya, anjing itu akan terus menggonggong sebelum ikan tuna yang dia mau dia dapatkan,” paparnya.
Begitu pun setan, kata Kiai Usman, sepanjang dalam diri kita masih ada makanan dia, seperti sifat sombong, iri dan dengki misalnya, setan akan terus menggoda. “Maka jika kita mau dekat dengan Allah, lepaskanlah makanan setan itu semua. Kosongkan diri kita dari sifat sombong, iri dan dengki,” tegasnya.
Adapun penyakit hati lainnya yang membuat kita sulit mendekatkan diri kepada Allah, kata Kiai Usman, adalah sifat kikir atau pelit. Sebab itu, katanya, kalau kita mau dekat dengan Allah, dicintai Allah, maka harus banyak berbagi alias dermawan kepada sesama.
“Salat itu dampaknya untuk kita sendiri saja. Puasa itu dampaknya untuk kita sendiri saja. Begitu pun tahajud. Tapi kalau kita berbagi rezeki, makanan, misalnya, dampaknya untuk sesama manusia. Itulah yang disukai Allah,” cetus kiai low profil atau tawadu’ ini.
Ia lalu merujuk contoh Nabi Ibrahim AS yang suka berbagi dengan sesama, bahkan rela pergi jauh-jauh hanya untuk mengajak orang-orang makan bersama. “Maka Nabi Ibrahim kemudian mendapat sebutan kholilullah, kekasih Allah,” tukasnya.
Kiai Usman kemudian mengingatkan kita jangan sampai menjadi hamba yang syirik atau menyekutukan Allah. Ini terkait rezeki yang datangnya dari Allah, bukan dari usaha manusia.
“Misalnya ada seorang profesor kendaraannya cuma sepeda motor. Sebaliknya, ada doktor junior yang kendaraannya mobil mewah. Apakah dengan demikian berarti Allah tidak adil? Bukan begitu. Allah ingin menunjukkan bahwa rezeki manusia, Dia-lah yang mengaturnya, bukan dari usaha manusia. Kalau kita menganggap rezeki berasal dari usaha kita, itu syirik namanya. Allah-lah yang memberikan rezeki kepada setiap hamba-Nya,” tandasnya.

























