Oleh: Martinus Ariya Seta, Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Pada 18 Juli 1925, buku Mein Kampf: Eine Abrechnung (Perjuanganku: Sebuah Perhitungan) diterbitkan untuk pertama kali. Ini adalah jilid pertama dari karya utama Adolf Hitler. Penerbit Franz Eher mencetak buku ini sebanyak 10.000 eksemplar. Isi dari jilid pertama adalah otobiografi Hitler dan sejarah partai NSDAP. Nama partai ini lebih dikenal dengan istilah Nazi.
Mein Kampf jilid kedua diterbitkan juga oleh penerbit yang sama pada 11 Desember 1926 dengan judul Mein Kampf: Die nationalsozialistische Bewegung. (Perjuanganku: Gerakan Nasional Sosialisme). Jilid kedua berisikan program-program politik partai tersebut. Sejak tahun 1930, dua jilid Mein Kampf tersebut disatukan dalam satu buku dalam setiap penerbitannya.
Hitler adalah seorang penulis. Mein Kampf bukanlah satu-satunya karya Hitler. Paling tidak ada 40 artikel tulisan Hitler yang diterbitkan oleh surat kabar Völkische Beobachter.
Pada 1922, pidato Hitler yang berjudul “Die Hetzer der Wahrheit” (Penghasut Kebenaran) diterbitkan sebagai buku oleh percetakan Franz Eher. Penjualan buku ini cukup berhasil. Penerbit harus mencetak sampai dua edisi.
Mein Kampf ditulis Hitler pada saat mendekam di penjara Landsberg. Pada awalnya, karya Hitler ini akan diberi judul Viereinhalb Jahre Kampf gegen Lügen, Dummheit und Feigheit (Empat Setengah Tahun Perjuangan Melawan Kebohongan, Kebodohan, dan Sikap Pengecut).
Menurut Othmar Plöckinger dalam Geschichte eines Buches: Adolf Hitlers “Mein Kampf“ (2011, hlm. 86), perubuhan judul terjadi akibat intervensi Alfred Rosenberg atau Max Aman. Konon, judul Mein Kampf ini disesuaikan dengan judul buku harian Hitler selama di penjara Landsberg.
Menurut kesaksian Julius Schaub, Gottfried Feder, dan Otto Leybold yang dipaparkan oleh Sven Felix Kellerhoff dalam Mein Kampf: Die Karriere eines deutschen Buches (2015, hlm. 212-215), kebutuhan akan uang adalah salah satu motif di balik penulisan Mein Kampf.
Schaub, Feder, dan Leybold adalah orang-orang dekat Hitler selama di penjara. Hitler memiliki tunggakan utang kepada pengacaranya yang bernama Lorenz Roder dan kepada Pengadilan Provinsi Bayern. Hitler mendapatkan royalti sebesar 2 reichsmark dari setiap eksemplar Mein Kampf yang terjual.
Selain royalti, Hitler juga mendapatkan honor penulisan buku sebesar 7.500 reischsmark dari penerbit Franz Eher. Menurut C Caspar dalam Mein Kampf- A Best Seller (Jewish Social Studies, 1958, 20(1), hlm. 3-16), sebanyak 9.473 eksemplar terjual pada tahun 1925. Pada tahun 1926, terjual 6.913 eksemplar.
Setelah tahun 1926, angka penjualan terus menurun. Pada tahun 1933, angka penjualan Mein Kampf mengalami peningkatan pesat. Pada tahun tersebut terjual 854.127 eksemplar. Hal itu tidak terlepas dari popularitas Hitler yang diangkat menjadi perdana menteri pada tahun tersebut.
Sejak tahun 1933, angka penjualan Mein Kampf sangat tinggi. Selain faktor popularitas Hitler, munculnya kebiasaan untuk memberikan Mein Kampf sebagai hadiah perkawinan dan kelulusan sekolah ikut mendongkrak peningkatan penjualan. Sampai tahun 1945, buku ini telah dicetak sekitar 12.500.000 eksemplar dan sudah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa.
Penerbitan Mein Kampf pasca 1945 Setelah Perang Dunia II berakhir, ideologi dan Partai Nazi dilarang di Jerman. Organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan Nazi juga dibubarkan. Penerbit Franz Eher ditutup karena berafiliasi dengan partai Nazi. Aset dan semua hak cipta penerbit kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Bayern.
Selama menjadi pemegang hak cipta, Pemerintah Provinsi Bayern tidak memberikan izin penerbitan ulang Mein Kampf. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran ideologi antisemitisme di Jerman.
Selain itu, pemerintah Jerman juga melarang penjualan Mein Kampf bekas. Kebijakan ini didasarkan pada Strafgesetzbuch (baca: Kitab Undang-Undang Pidana) Jerman Pasal 130 yang mengatur pelarangan tindakan-tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum dengan penghasutan rasialisme, agama, dan etnis.
Rentang hukuman dari pelanggaran terhadap pasal itu adalah tiga bulan sampai lima tahun. Tahun 1979, Pengadilan Tinggi Jerman memberikan sedikit pelunakan dengan memutuskan bahwa penjualan Mein Kampf bekas bukanlah pelanggaran hukum sejauh tidak ada tujuan propaganda.
Penerjemahan dan penerbitan Mein Kampf di berbagai negara di luar Jerman tidak dapat dicegah meskipun pemerintah Jerman sudah melakukan protes terhadap otoritas setempat. Pada 1966, terjemahan Mein Kampf diterbitkan di Denmark sebagaimana dipaparkan oleh Caesar C Aronsfeld dalam Mein Kampf, 1945-1982 (Jewish Social Studies, 1983: 45(3), hlm. 311-322).
Hal yang sama juga terjadi di Swedia tahun 1970, Inggris tahun 1969, dan San Marino tahun 1969. Tahun 1960, Mein Kampf diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dan diterbitkan di Libanon. Konflik dengan Israel merupakan salah satu daya tarik dari Mein Kampf di dunia Arab.
Tepat pada 31 Desember 2015, hak cipta Mein Kampf yang dipegang oleh Pemerintah Provinsi Bayern sudah berakhir. Ini adalah 70 tahun setelah kematian Hitler, sang pengarang Mein Kampf. Berdasarkan undang-undang, hak cipta akan berakhir 70 tahun setelah pengarang buku meninggal.
Institut für Zeitgeschichte yang berkedudukan di München dan Berlin menerbitkan edisi kritis Mein Kampf pada 8 Januari 2016. Karya Hitler itu diterbitkan dengan judul Hitler, Mein Kampf: Kritische Edition dalam dua jilid. Ini adalah untuk pertama kalinya Mein Kampf diterbitkan ulang di Jerman setelah 70 tahun.
Catatan kritis dari para ahli menjadikan buku ini cukup tebal. Jika dijumlah, kedua jilid tersebut memiliki ketebalan 1966 halaman.
Penerbitan ulang Mein Kampf menimbulkan kontroversi. Roland S Lauder, Presiden Jewish World Congress, adalah salah satu tokoh yang mengkritik penerbitan ulang ini (https://www.tagesspiegel.de/kultur/mein-kampf-aufarbeitung-ist-ein-dienst-an-der-wuerde-der-opfer/12808532.html).
Lauder mengatakan dengan nada sinis bahwa “Buku yang menjijikan dan berbahaya ini sudah dicetak lebih dari cukup.” Sikap sinis Lauder merupakan bentuk ketakutan terhadap penyebaran ideologi antisemitisme.
Komentar para ahli dalam edisi kritis Mein Kampf justru membantu pembaca untuk membongkar kebohongan yang menyelubungi otobiografi dan propaganda Hitler. Catatan kritis tersebut bahkan memberi wawasan sekaligus kritik terhadap referensi-referensi yang digunakan Hitler.
Hitler jarang sekali menyinggung secara eksplisit teks-teks referensi. Edisi kritis Mein Kampf menunjukkan teks-teks referensi yang tidak diungkapkan secara eksplisit tersebut. Menurut komentar para ahli dalam edisi kritis tersebut, Hitler banyak sekali menggunakan referensi yang tidak ilmiah.
Edisi kritis itu menelaah secara mendalam Mein Kampf. Karena itu, ketakuan seperti yang ditunjukkan oleh Lauder adalah hal yang berlebihan.
Falsafah Mein Kampf
Falsafah yang mendasari pemikiran Mein Kampf adalah pemahaman bahwa sejarah adalah pertarungan antar ras dan ras terbaiklah yang akan bertahan (hlm. 769-773). Falsafah ini tidak lain adalah prinsip dari Darwinisme Sosial. Bangsa Arya diyakini sebagai ras terbaik sekaligus pendiri dan penjaga peradaban dunia.
Kemunduran peradaban diakibatkan oleh percampuran dengan ras non-Arya. Mein Kampf menubuatkan kemenangan bangsa Jerman sebagai keturunan bangsa Arya untuk kembali menegakkan peradaban dunia.
Istilah Yahudi merupakan kodifikasi dari semua kekuatan dan ideologi yang merongrong kebesaran bangsa Jerman. Kaum Yahudi menjadi semacam proyeksi setiap musuh yang menghancurkan dan menghalangi bangsa Jerman.
Kelompok liberal, sosial demokrat, komunis, maupun marxis diidentifikasi sebagai kaki tangan Yahudi. Teori konspirasi Yahudi adalah turunan dari proyeksi semacam ini. Bangsa Yahudi menjadi kambing hitam dari setiap persoalan politik dan sosial yang terjadi di Eropa.
Di dalam Mein Kampf (hlm. 799), Hitler menyinggung secara eksplisit The Protocols of Elderly Zion untuk membuktikan keyakinannya terhadap paham antisemitisme. The Protocols adalah tulisan anonim yang memaparkan konspirasi rahasia Yahudi untuk menguasai dunia.
Isi dari buku ini adalah petuah seorang rabi terhadap pengikutnya tentang perjuangan kaum Yahudi untuk menghancurkan rezim-rezim yang berkuasa. Buku itu diterbitkan pertama kali di Rusia tahun 1903.
The Protocols bukanlah tulisan ilmiah, tetapi sebuah tulisan rekayasa. The Protocols bukanlah dokumen yang ditulis oleh orang Yahudi. Ada dugaan kuat bahwa The Protocols adalah tulisan rekayasa dengan tujuan untuk mendiskreditkan gerakan zionisme di Eropa.
Paham antisemitisme yang dianut Hitler bukanlah antisemitisme klasik, tetapi antisemitisme sekuler (modern). Antisemitisme klasik dibangun berdasarkan argumen agama. Kisah penyaliban dan penolakan terhadap Yesus Kristus merupakan fondasi dari antisemitisme klasik.
Solusi yang ditawarkan antisemitisme klasik adalah konversi dan integrasi ke dalam agama Kristen. Antisemitisme sekuler dilandasi motif rasialisme. Paham ini meyakini bahwa dunia ini adalah ajang pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.
Kekuatan baik diyakini melekat secara hakiki pada bangsa Jerman sebagai keturunan ras Arya. Sedangkan, kekuatan jahat dianggap melekat secara hakiki pada ras Yahudi. Adalah tugas mulia keturunan ras Arya untuk melenyapkan kekuatan jahat di dunia ini. Inilah yang diyakini Hitler. Hitler pun melabeli keturunan Yahudi dengan kata-kata kasar seperti “penyakit sampar“ (hlm. 213), “pembohong“ (hlm. 225), dan “parasit“ (hlm. 791).
Keyakinan semacam ini bersifat apriori dan ahistoris. Menurut Christoph Nonn dalam Antisemitismus (2008, hlm. 12f), pemusnahan keturunan Yahudi adalah konsekuensi dari antisemitisme sekuler yang dianut Hitler. Memusnahkan bangsa Yahudi diyakini sebagai sebuah panggilan sakral. Kebencian dan kebengisan antisemitisme sekuler melebihi antisemitisme klasik.
Sebagian dari keturunan Yahudi di Eropa, khususnya di Jerman, adalah penganut agama Kristen dan mereka pun tidak dikecualikan dari pemusnahan ini. Di dalam antisemitisme klasik, sikap jahat dianggap melekat pada kategori agama. Sedangkan di dalam antisemitisme sekuler, sikap jahat melekat pada kategori ras.
Antisemitisme sekuler meradikalisasi kebencian terhadap orang Yahudi karena tidak menawarkan sebuah solusi, selain penyingkiran dan bahkan pemusnahan keturunan Yahudi. Contoh kebohongan Hitler dalam Mein Kampf edisi kritis Mein Kampf yang diterbitkan oleh Insititut für Zeitsgeschichte memberikan banyak informasi untuk mengkritisi sekaligus memahami isi buku tersebut.
Mein Kampf adalah sebuah otobiografi sekaligus sebuah propaganda. Komentar para ahli di dalam edisi kritis itu dapat membantu para pembaca untuk membongkar rekayasa, pencitraan, dan kebohongan dari Mein Kampf. Salah satu rekayasa di dalam Mein Kampf adalah kisah Hitler muda di Wina Austria (1909-1913).
Hitler menggambarkan dirinya sebagai seorang pekerja keras yang harus bertahan hidup di tengah kesusahan selama berada di Wina (hlm. 133). Hitler juga menggambarkan dirinya sebagai seorang yang mulai berkomitmen dengan paham antisemitisme sejak berada di Wina (hlm. 225).
Komentar kritis dalam edisi Mein Kampf terbitan terbaru itu justru mengatakan hal yang berbeda (hlm. 132). Hitler muda hidup mengandalkan uang warisan dari orangtuanya, bantuan keuangan dari bibinya, dan bantuan dari lembaga-lembaga sosial yang ada di kota Wina.
Sosok Hitler muda tidaklah sehebat yang diceritakan di dalam Mein Kampf. Hitler adalah orang yang malas dan tidak lincah dalam bekerja. Brigitte Hamann dalam bukunya Hitler Wien: Lebenjahre eines Diktators (2012: hlm. 239-241; 498f) mengatakan bahwa Hitler juga mendapatkan bantuan dari lembaga sosial milik orang-orang Yahudi.
Bukan hanya itu saja, Hitler juga bersahabat baik dengan orang-orang Yahudi selama berada di Wina. Orang-orang yang mengenal Hitler muda di Wina juga menyatakan bahwa Hitler muda tidak menunjukkan gelagat kebencian terhadap orang-orang Yahudi.
Adalah lebih tepat mengatakan bahwa Hitler mulai mengenal paham antisemitisme di kota Wina tanpa harus menyimpulkan bahwa dia telah menjadi seorang penganut fanatik paham tersebut.
Penutup
Membaca sebuah buku tidak sekadar menelan mentah-mentah informasi yang ada di dalamnya. Edisi kritis Mein Kampf ini tidak hanya sekadar memperkenalkan sebuah pemikiran Hitler, tetapi juga menelanjanginya.
Menurut hemat penulis, kritik dengan sebuah eksplorasi jauh lebih berharga daripada kritik tanpa sebuah eksplorasi. Silahkan mengecam Hitler atau Mein Kampf setelah anda mengeksplorasi isi buku tersebut! Anda akan mendapatkan sebuah wawasan dan kedalaman. Bahkan, Anda pun dapat menertawakan isi buku tersebut.
Dikutip dari Kompas.com, Kamis 18 Agustus 2022.
























