• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menelaah Kembali Hilirisasi: Warisan dari Era Pak Harto dan Pak Habibie

Ali Syarief by Ali Syarief
September 23, 2024
in Feature, Layanan Publik
0
Menelaah Kembali Hilirisasi: Warisan dari Era Pak Harto dan Pak Habibie
Share on FacebookShare on Twitter

Istilah “hilirisasi” belakangan ini sering diangkat oleh pemerintahan Jokowi sebagai salah satu pencapaian besar dalam sektor industri. Narasi yang dibangun adalah bahwa hilirisasi merupakan kebijakan visioner untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. Namun, jika kita menggali sejarah kebijakan ekonomi Indonesia, konsep serupa sesungguhnya sudah ada sejak era kepemimpinan Soeharto dan B.J. Habibie. Dengan nama berbeda, ide hilirisasi ini, yang kini menjadi kebijakan unggulan Jokowi, bukanlah hal yang baru dalam konteks pembangunan nasional.

“Proses Nilai Tambah” di Era Soeharto

Pada masa pemerintahan Soeharto, kebijakan ekonomi berfokus pada pembangunan industri yang tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah tetapi juga mulai memperkenalkan konsep “proses nilai tambah”. Inti dari kebijakan ini adalah upaya untuk meningkatkan kontribusi industri dalam negeri terhadap rantai nilai global, agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah yang murah, tetapi juga produsen barang jadi yang memiliki nilai lebih tinggi di pasar internasional.

Salah satu contoh nyata dari kebijakan ini adalah larangan ekspor rotan mentah. Pada 1986, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melarang ekspor rotan dalam bentuk bahan baku. Tujuannya adalah mendorong industri lokal untuk mengolah rotan menjadi produk jadi, seperti furnitur, yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kebijakan ini sejalan dengan upaya untuk menciptakan lapangan kerja di sektor industri dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Selain itu, di sektor logam, kebijakan yang dikenal dengan “Proses Nilai Tambah” menekankan pentingnya mengolah bahan mentah dalam negeri menjadi produk setengah jadi atau barang jadi sebelum diekspor. Alih-alih menjual besi mentah, pemerintah mendorong pembuatan produk sederhana seperti baut dan mur, yang memiliki nilai lebih tinggi dan dapat mendukung pengembangan industri lokal.

Teknologi dan Industrialisasi di Era Habibie

Sementara itu, di era kepemimpinan B.J. Habibie, yang dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia, visi serupa juga menjadi pijakan kebijakan industrialisasi. Habibie tidak hanya menekankan pentingnya meningkatkan nilai tambah dalam industri, tetapi juga memperkenalkan teknologi sebagai elemen krusial dalam proses ini. Salah satu kebijakan besar di era Habibie adalah pengembangan industri strategis, termasuk industri pesawat terbang dan persenjataan. Dalam konteks ini, Indonesia tidak hanya memproduksi komponen dasar, tetapi juga mulai menguasai teknologi untuk merakit dan bahkan memproduksi pesawat terbang.

Habibie menyadari bahwa untuk menjadi negara yang maju, Indonesia tidak bisa terus-menerus bergantung pada ekspor bahan mentah. Dalam banyak pidatonya, ia sering kali menekankan pentingnya inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri untuk memproduksi barang-barang berteknologi tinggi. Dengan demikian, kebijakan yang saat ini dikenal sebagai hilirisasi telah dipraktikkan dalam bentuk industrialisasi dan transfer teknologi di era Habibie.

Hilirisasi Jokowi: Lanjutan atau Sekadar Rebranding?

Ketika Jokowi memperkenalkan konsep hilirisasi, tampaknya banyak yang melupakan bahwa kebijakan serupa telah dimulai jauh sebelum pemerintahannya. Dengan fokus utama pada sektor pertambangan dan mineral, pemerintahan Jokowi menegaskan bahwa Indonesia harus berhenti mengekspor bahan mentah seperti bijih nikel dan bauksit, melainkan mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kebijakan ini, meskipun dalam tataran implementasi mengalami peningkatan signifikan di era Jokowi, pada dasarnya merupakan kelanjutan dari visi yang sudah dibangun oleh pendahulunya.

Namun, ada perbedaan mendasar antara kebijakan hilirisasi Jokowi dan kebijakan nilai tambah yang dilakukan pada era Soeharto dan Habibie. Jokowi lebih fokus pada sektor mineral dan tambang, serta mempercepat proses hilirisasi melalui penanaman modal asing. Pembangunan smelter untuk mengolah bahan mentah menjadi produk jadi, misalnya, menjadi fokus utama kebijakan hilirisasi Jokowi. Sementara itu, di era Soeharto dan Habibie, pendekatan lebih menyeluruh mencakup tidak hanya sektor pertambangan, tetapi juga sektor-sektor lain seperti manufaktur dan teknologi.

Kesimpulan

Konsep hilirisasi yang diangkat oleh pemerintahan Jokowi memang penting dan relevan dalam upaya meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Namun, jika dilihat dari perspektif sejarah, kebijakan ini bukanlah inovasi yang sepenuhnya baru. Sejak era Soeharto, Indonesia telah berupaya meningkatkan nilai tambah melalui kebijakan-kebijakan yang melarang ekspor bahan mentah dan mendorong pengembangan industri pengolahan dalam negeri. Sementara itu, di era Habibie, kebijakan ini diperluas dengan memasukkan elemen teknologi dan inovasi industri.

Dengan demikian, apa yang sekarang disebut sebagai hilirisasi di era Jokowi sesungguhnya merupakan rebranding dari kebijakan nilai tambah yang sudah dijalankan sejak puluhan tahun lalu. Pemerintah saat ini perlu mengakui warisan kebijakan ini, sembari terus memperbaiki dan mengembangkan strategi hilirisasi agar Indonesia benar-benar mampu menjadi negara yang tidak hanya mengolah bahan mentah, tetapi juga mampu bersaing dalam industri global.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Damai Hari Lubis: Pejuang Pena dengan Orientasi Kritis

Next Post

Bahaya Triumvirat: Membaca Skenario Politik Menjelang Pelantikan Presiden 2024

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Economy

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!
Feature

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Feature

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026
Next Post
Sri Mulyani vs Prabowo, “Berantem” Terkait Penganggaran Super Jumbo di Kemenhan

Bahaya Triumvirat: Membaca Skenario Politik Menjelang Pelantikan Presiden 2024

Konvoi Diplomatik Indonesia Jadi Sasaran Bom di Pakistan, Satu Polisi Tewas

Konvoi Diplomatik Indonesia Jadi Sasaran Bom di Pakistan, Satu Polisi Tewas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

by fusilat
April 24, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Masyarakat tengah menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review (uji materiil) Undang-Undang (UU) No. 34 Tahun 2004...

Read more
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist