Berita tentang kejahatan dan kedzaliman, meskipun sering kali terasa usang karena diungkapkan berulang kali, memiliki maksud dan tujuan yang lebih dalam. Pengulangan ini bukan tanpa alasan; ia bertujuan untuk mengingatkan, memberikan pelajaran, dan memotivasi perubahan. Bahkan dalam kitab-kitab suci, figur-figur zalim sering kali diabadikan, bukan untuk memuliakan kejahatan mereka, tetapi untuk memberikan peringatan yang abadi kepada umat manusia.
Dalam Al-Quran, salah satu contoh yang paling terkenal adalah Abu Lahab. Abu Lahab disebutkan secara khusus dalam Surah Al-Masad (Surah 111) sebagai seorang yang menentang keras ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Kisahnya dijadikan pelajaran tentang bagaimana kesombongan dan penentangan terhadap kebenaran dapat membawa kehancuran. Pengulangan cerita tentang Abu Lahab dalam berbagai tafsir dan kajian keislaman bukanlah upaya untuk mengabadikan kejahatannya, melainkan untuk memastikan bahwa pelajaran dari kejatuhannya tidak terlupakan.
Figur lain yang diabadikan dalam Al-Quran adalah Fir’aun. Kisah Fir’aun, yang terkenal dengan kezaliman dan kekejamannya terhadap Bani Israel, diulang berkali-kali dalam berbagai surah. Fir’aun digambarkan sebagai pemimpin yang sombong dan tidak mau menerima kebenaran, meskipun tanda-tanda kekuasaan Allah ditunjukkan kepadanya melalui nabi Musa. Kisahnya berfungsi sebagai peringatan bahwa kekuasaan dan kekayaan tidak dapat menyelamatkan seseorang dari akibat perbuatan zalim dan penentangan terhadap Tuhan.
Dalam kitab Injil, terdapat sosok Raja Herodes yang juga dikenal karena kezaliman dan kekejamannya. Salah satu tindakan terkejamnya adalah pembantaian bayi-bayi di Betlehem dalam usahanya untuk membunuh Yesus yang saat itu masih bayi. Kisah kejam ini diulang dalam berbagai narasi dan khotbah untuk mengingatkan tentang bahaya kekuasaan yang disalahgunakan dan kezaliman yang terjadi ketika penguasa merasa terancam oleh kebenaran dan keadilan.
Kitab Weda dalam agama Hindu juga memberikan contoh tentang tokoh-tokoh zalim, seperti Duryodhana dari epik Mahabharata. Duryodhana, dengan kesombongan dan kebenciannya, menjadi simbol dari kezaliman dan kejahatan yang harus dihadapi oleh Pandawa. Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran dan dharma (kewajiban moral) pada akhirnya akan menang meskipun harus melalui banyak penderitaan dan pengorbanan.
Dalam budaya dan literatur Tiongkok, terdapat kisah tentang Qin Shi Huang, kaisar pertama Tiongkok yang dikenal dengan kediktatorannya. Meskipun berhasil menyatukan Tiongkok dan membuat banyak reformasi, kekejamannya dalam menindas oposisi dan memberlakukan aturan yang keras membuatnya diingat sebagai contoh penguasa yang zalim. Kisahnya sering digunakan untuk mengajarkan tentang bahaya kekuasaan absolut dan pentingnya kebijaksanaan dalam memerintah.
Mengapa kisah-kisah ini diulang dan diabadikan dalam berbagai kitab suci dan literatur? Alasannya sederhana namun mendalam: untuk memberikan peringatan abadi tentang bahaya kezaliman dan untuk mendorong manusia menjauhi perilaku yang serupa. Berita tentang kedzaliman dalam media modern pun memiliki fungsi yang sama. Dengan terus diungkapkan, meskipun tampaknya berulang, ia mengingatkan masyarakat tentang bahaya kejahatan dan pentingnya keadilan.
Dalam dunia yang terus berkembang dan berubah, manusia memerlukan pengingat yang konstan tentang nilai-nilai moral dan etika. Pengulangan cerita tentang kejahatan dan kezaliman, baik dalam kitab suci maupun dalam berita modern, berfungsi sebagai cermin yang mengingatkan kita untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Ia juga berfungsi sebagai alat pendidikan bagi generasi mendatang, memastikan bahwa pelajaran dari masa lalu tidak terlupakan dan bahwa kita terus berusaha untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi.
Dengan demikian, berita tentang kejahatan dan kedzaliman, meskipun berulang, tidak pernah usang. Ia adalah bagian penting dari upaya kolektif kita untuk memahami, mengingat, dan mencegah kejahatan serta untuk mempromosikan keadilan dan kebenaran dalam masyarakat kita.
























