FusilatNews – Di negeri yang katanya damai ini, ironi justru hadir lewat sorotan tajam terhadap aparat keamanan—baik polisi maupun tentara—yang semakin kehilangan orientasi. Polisi yang sejatinya mengayomi rakyat justru menebar ketakutan di tengah masyarakat. Tentara yang tugas utamanya menjaga kedaulatan dan pertahanan negara justru kerap ditemukan memamerkan ototnya di hadapan warga sipil yang tak bersenjata. Kekerasan demi kekerasan mewarnai beragam pemberitaan dari berbagai pelosok Indonesia: penggusuran, demonstrasi, konflik agraria, hingga persoalan sepele di jalan raya, semua bisa berubah menjadi ajang pamer kekuasaan yang brutal.
Pertanyaannya, mengapa aparat yang semestinya menjadi pelindung justru tampil sebagai penindas?
Ada krisis mendasar dalam hal pendidikan dan penempatan peran. Polisi, sebagai wajah terdepan negara yang bersentuhan langsung dengan rakyat, sejatinya harus hidup dalam empati dan pengertian. Namun, empati tidak bisa dibentuk dari sekadar teori di ruang kelas atau jargon “presisi” yang dielu-elukan tanpa makna. Ia tumbuh dari pengalaman konkret—dan salah satu gagasan yang mungkin terdengar sederhana tapi sarat makna adalah mewajibkan anggota polisi memiliki binatang piaraan.
Memelihara binatang adalah pendidikan kasih sayang yang konkret. Dari memberi makan, merawat saat sakit, hingga memahami ekspresi non-verbal dari seekor makhluk hidup, seorang polisi akan belajar tentang tanggung jawab dan cinta yang tak bersyarat. Ketika seseorang mampu menyayangi makhluk lemah yang tidak bisa membalas budi dengan kekuasaan, maka ia akan lebih mudah menyayangi manusia yang tak berdaya. Polisi yang menyatu dengan rakyat bukanlah polisi yang dekat secara administratif, melainkan secara emosional—ia hadir bukan sekadar menegakkan hukum, tapi juga menegakkan kemanusiaan.
Contohlah Jepang. Di sana, keberadaan polisi tidak mengancam, tapi menenteramkan. Polisi Jepang tinggal di lingkungan masyarakat dalam sistem yang disebut kōban, yaitu pos kecil yang berada di tengah permukiman warga. Mereka mengenal warganya, tahu siapa yang baru pindah, dan rutin melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan. Interaksi ini membentuk kedekatan emosional dan rasa saling percaya. Seorang anak kecil yang tersesat pun tak segan mendekati polisi. Ini hanya mungkin terjadi ketika polisi benar-benar hadir sebagai bagian dari masyarakat, bukan di atasnya.
Sebaliknya, tentara harus kembali pada orientasi sejatinya: mempertahankan kedaulatan dari musuh luar. Persoalan kita hari ini, banyak prajurit TNI ditempatkan di ranah sipil yang bukan hanya membuat tumpang tindih kewenangan, tetapi juga membentuk karakter yang salah. Tentara menjadi tidak tajam kepada musuh negara, tapi malah menjadi ganas terhadap rakyat sendiri. Seharusnya, tentara ditempatkan di daerah-daerah perbatasan, medan-medan latihan berat, atau kawasan rawan infiltrasi asing. Di situlah watak militan dibentuk dan difokuskan kepada ancaman yang sebenarnya.
Ambil pelajaran dari Amerika Serikat. Tentara Amerika tidak punya peran dalam urusan sipil. Mereka tidak terlibat dalam pengamanan unjuk rasa, penggusuran, atau mengatur lalu lintas. Militer Amerika ditempatkan di pangkalan-pangkalan strategis, dalam dan luar negeri, dengan misi utama: menjaga supremasi teritorial dan geopolitik negara mereka. Interaksi mereka dengan rakyat sipil sangat terbatas dan diatur ketat oleh hukum, termasuk Posse Comitatus Act yang melarang keterlibatan militer dalam penegakan hukum sipil. Hal ini menjaga agar militer tetap fokus sebagai alat pertahanan negara, bukan alat represi domestik.
Jauhkan tentara dari interaksi sipil yang tidak perlu. Jangan biarkan mereka ikut mengatur pasar, membubarkan demonstrasi, atau menjadi aktor politik. Biarkan mereka fokus menjadi tembok penjaga negara. Dengan cara itu, kita bisa menyelamatkan karakter tentara sebagai alat pertahanan, bukan alat kekuasaan.
Esai ini bukan seruan utopis, melainkan panggilan untuk mendesain ulang cara kita membentuk karakter aparat negara. Sudah cukup banyak korban, cukup banyak air mata, dan cukup banyak luka yang tak sembuh hanya karena aparat kehilangan arah.
Sudah waktunya kita mendidik polisi untuk menyayangi, dan membentuk tentara untuk benar-benar menakuti musuh. Bukan sebaliknya.
























