Jakarta – Fusilatnews – Pemerintah Indonesia tidak tertarik untuk menetapkan langkah pembalasan terhadap kebijakan tarif impor yang diambil Presiden Trump terhadap barang asal Indonesia dan lebih suka mengambil langkah lain yang diyakini lebih baik
Pada Minggu (6/4/2025), pemerintah menggelar rapat virtual yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Rapat membahas respons atas kebijakan tarif AS.
Rapat itu diikuti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, serta sejumlah wakil menteri dan perwakilan kementerian/lembaga.
Dalam pengumuman tersebut, produk asal Indonesia dikenai tarif sebesar 32 persen. Kebijakan serupa juga diterapkan ke 180 negara lain, dengan besaran tarif bervariasi.
Tidak ambil langkah balasan
Pendekatan ini mempertimbangkan kepentingan jangka panjang hubungan dagang kedua negara. Pemerintah juga ingin menjaga iklim investasi stabilitas ekonomi nasional. Dampak tarif AS terhadap sektor industri padat karya juga jadi perhatian. Termasuk industri apparel dan alas kaki yang dinilai rentan terhadap fluktuasi pasar global. “Pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan melalui insentif yang tepat sasaran guna menjaga daya saing dan keberlangsungan usaha,” ujar Airlangga.
Undang asosiasi dan cari pasar baru Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengiriman surat resmi ke AS terkait penerapan tarif baru. Tim pemerintah tengah merumuskan respons dalam kerangka deregulasi. Airlangga mengatakan surat akan dikirim sebelum tenggat 9 April 2025. Pemerintah juga terus mengajak asosiasi pelaku usaha untuk merumuskan strategi bersama. Forum sosialisasi dan penjaringan masukan dijadwalkan digelar Senin (7/4/2025). “Seluruh industrinya akan diundang untuk memberikan masukan, terutama yang terkait ekspor dan sektor padat karya,” kata Airlangga. Selain merespons kebijakan AS, pemerintah juga menyiapkan strategi menghadapi pembukaan pasar Eropa. Kawasan ini merupakan pasar terbesar kedua setelah China dan AS. “Ini juga bisa kita dorong, sehingga kita punya alternatif market yang lebih besar,” ujarnya. Airlangga menambahkan, kajian mendalam terus dilakukan terhadap dampak fiskal dari setiap kebijakan yang dipertimbangkan.
Evaluasi dilakukan agar kebijakan tetap sejalan dengan prinsip kehati-hatian fiskal dan menjaga stabilitas APBN jangka menengah dan panjang.






















