Bila presidennya setara Anies dan anggota DPR RI-nya setara Tyo, yang sejahtera rakyat, yang besar bangsa.
Teriakan nyaring Prabowo yang dahulu memekakkan telinga rakyat saat kampanye, satu demi satu kini terdengar seperti gema kosong yang menjauh dari kenyataan. Janji tentang kuliah gratis, angkutan umum gratis, harga-harga murah, kesejahteraan rakyat, hingga kehidupan yang lebih mudah bagi masyarakat kecil, ternyata belum benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia.
Kini keadaan semakin diperparah dengan melemahnya nilai rupiah. Kurs yang terus tertekan menjadi pukulan besar bagi ekonomi rakyat dan sekaligus menjadi pemicu semakin jauhnya seluruh janji Prabowo dari harapan masyarakat.
Sebab ketika rupiah melemah, efeknya menjalar ke mana-mana. Harga bahan baku naik, biaya impor meningkat, harga pangan ikut terdorong naik, ongkos produksi membengkak, dan pada akhirnya rakyat kecil kembali menjadi korban utama. Kehidupan yang sudah sulit menjadi semakin berat.
Maka wajar bila rakyat mulai bertanya, bagaimana mungkin janji harga murah bisa terwujud jika rupiah terus melemah? Bagaimana mungkin pendidikan gratis dapat dijalankan secara luas bila beban fiskal negara semakin berat? Bagaimana mungkin angkutan umum gratis diwujudkan ketika subsidi membutuhkan kekuatan anggaran yang besar sementara tekanan ekonomi semakin tinggi?
Rakyat perlahan mulai memahami bahwa pidato politik ternyata berbeda dengan realitas mengelola negara. Berteriak tentang nasionalisme jauh lebih mudah dibandingkan dengan menjaga stabilitas ekonomi. Mengumbar janji populis jauh lebih ringan dibanding memastikan daya beli rakyat tetap kuat.
Melemahnya rupiah bukan sekadar angka di layar monitor ekonomi. Itu adalah cermin menurunnya kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi nasional. Dan ketika kepercayaan melemah, yang pertama merasakan dampaknya adalah rakyat kecil. Harga kebutuhan pokok naik lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan pendapatan. Tabungan masyarakat tergerus. Pelaku usaha kecil kesulitan bertahan. Lapangan kerja makin sempit.
Di tengah situasi itu, rakyat justru melihat elite politik tetap sibuk dengan konsolidasi kekuasaan dan pembagian jabatan. Seolah ada jurang besar antara penderitaan rakyat dan kehidupan para penguasa.
Indonesia sebenarnya negeri yang kaya raya. Tetapi kekayaan itu tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan bila tata kelola negara tidak berpihak kepada rakyat. Negeri ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat secara moral, matang secara intelektual, dan berani mengambil keputusan besar demi kepentingan bangsa, bukan demi kepentingan lingkaran kekuasaan.
Karena itu sebagian rakyat mulai membayangkan, bagaimana bila Indonesia dipimpin oleh sosok dengan kualitas gagasan dan keberanian seperti Anies Baswedan, dengan anggota DPR RI yang benar-benar bekerja dan berpihak kepada rakyat seperti Tyo. Pemimpin yang tidak hanya pandai menyusun slogan, tetapi mampu menghadirkan kepercayaan publik dan kestabilan negara.
Bangsa ini tidak membutuhkan pidato yang memekakkan telinga. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga nilai rupiah, menjaga daya beli rakyat, menjaga pendidikan tetap terjangkau, dan memastikan masa depan anak-anak bangsa tidak digadaikan oleh kepentingan politik sesaat.
Sebab ketika rupiah melemah dan janji-janji politik tak kunjung terwujud, rakyat akhirnya sadar bahwa yang mereka butuhkan bukan sekadar pemimpin yang lantang berbicara.
Tetapi pemimpin yang mampu bekerja dan menghadirkan kenyataan.























