• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Dari Dwifungsi Menuju Omnipresen: Ketika Tentara Mengurus Semuanya

fusilatnews by fusilatnews
May 28, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Dari Dwifungsi Menuju Omnipresen: Ketika Tentara Mengurus Semuanya
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kawan Nazar

Geliat restrukturisasi postur pertahanan domestik belakangan ini kian melompat jauh dari khitah reformasi. Melalui cetak biru yang dipaparkan Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI pertengahan Mei 2026 ini, pemerintah menargetkan pembentukan hingga 750 Batalion Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) hingga tahun 2029. Artinya, akan ada sekitar 150 batalion baru setiap tahunnya yang digelar untuk mengawal 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Di atas kertas, Yonif TP didesain sebagai mesin akselerasi. Alih-alih diisi kompi senapan konvensional, struktur internalnya dipecah menjadi kompi-kompi fungsional nonsenjata: Kompi Pertanian (padi dan jagung di bawah TNI AD, kedelai di bawah TNI AL), Kompi Peternakan/Perikanan, Kompi Zeni Pembangunan, hingga Kompi Kesehatan. Namun, cetak biru ini tidak berhenti pada urusan perut dan infrastruktur. Garis batas itu resmi dilanggar ketika pemerintah mendesain satuan ini untuk masuk ke ranah keamanan lokal: menangani begal di jalanan hingga mengurusi manajemen Siskamling di tingkat RT/RW.

Gejala Hipertropi dan Satir Kompi Warmindo

Kita tidak lagi sedang membicarakan kembalinya “Dwifungsi” gaya Orde Baru yang membatasi militer pada ranah hankam dan sosial-politik (parlemen/birokrasi). Hari ini, gejalanya telah melompat menjadi Multifungsi TNI yang bersifat omnipresen—ada di mana-mana. Militer telah ditarik ke dalam pusaran pengelolaan komoditas ekonomi, jabatan publik, logistik pangan, hingga urusan meronda di pos ronda perkampungan.

Kondisi ini memicu kritik satir yang menohok di tengah masyarakat: jika semua urusan domestik harus diselesaikan oleh seragam loreng, mengapa tidak sekalian saja dibentuk “Kompi MBG (Makan Bergizi Gratis)”, “Kompi Kafe”, atau “Kompi Warmindo”?
Sarkasme ini bukan sekadar lelucon ruang kopi, melainkan refleksi sosiologis yang valid terhadap gejala hipertropi militer—sebuah kondisi di mana fungsi suatu institusi membengkak secara tidak wajar hingga menelan dan memandulkan fungsi-fungsi institusi sipil di sekitarnya.

Anomali Tata Negara dan Tumpang Tindih Fungsi

Penugasan Yonif TP untuk mengurusi pertanian, peternakan, begal dan Siskamling adalah bentuk anomali tata negara yang nyata. Secara konstitusional dan yuridis (UU No. 2/2002), Kepolisian RI adalah pemegang mandat tunggal dalam urusan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) serta penegakan hukum berdasarkan KUHAP.

Ketika tentara diterjunkan untuk mengurusi keamanan lokal, terjadi tumpang tindih kedudukan yang berbahaya:
* Dualisme di Akar Rumput: Kehadiran Yonif TP berpotensi mengerdilkan peran Bhabinkamtibmas dan memicu gesekan ego sektoral di lapangan.
* Kekacauan Hukum Acara: Prajurit militer dididik dengan doktrin pertahanan untuk menghancurkan musuh, bukan penegakan hukum yang presisi (pengumpulan alat bukti, penangkapan prosedural, dan penghormatan hak tersangka). Menyerahkan urusan kriminalitas sipil kepada militer hanya akan menciptakan wilayah abu-abu yang rentan terhadap pelanggaran HAM.

Langkah ini seolah menjadi mosi tidak percaya implisit dari pemerintah terhadap Polri. Bukannya mereformasi kepolisian agar becus memberantas kejahatan jalanan, pemerintah justru mengambil jalan pintas populis dengan mengerahkan tentara.

Militerisme Berbaju Sipil

Ironisnya, fenomena ini tidak terjadi melalui moncong senjata atau kudeta berdarah ala Myanmar. Kita tidak sedang berhadapan dengan “Junta Militer” dalam definisi klasiknya. Yang sedang terjadi di Indonesia hari ini adalah “Militerisme Berbaju Sipil” (Civilian-Driven Militarization).

Pergeseran ini digerakkan, direkayasa, dan dilegalisasi oleh aktor-aktor sipil itu sendiri: regulasinya direvisi oleh politisi sipil di DPR, dan regulasi turunannya ditandatangani oleh otoritas eksekutif sipil. Ini adalah bentuk keputusasaan politik (politik jalan pintas), di mana para pemimpin sipil secara sukarela menyerahkan kedaulatan domestiknya kepada militer karena ketidakmampuan—atau kemalasan—mereka dalam membenahi birokrasi, membangun kedaulatan pangan, dan menjamin keamanan warga secara struktural.

Ancaman bagi Demokrasi dan Supremasi Sipil

Normalisasi kehadiran militer dalam setiap sendi kehidupan domestik membawa dampak jangka panjang yang buruk bagi masa depan demokrasi dan supremasi sipil:
* Kematian Profesionalisme Militer: Tentara yang terlalu sibuk mengurus cetak sawah, kedelai, dan ronda malam akan kehilangan waktu dan fokus untuk mengasah kemampuan tempur inti mereka. Postur pertahanan luar kita justru dipertaruhkan.
* Pelemahan Institusi Sipil: Birokrasi dan kepolisian tidak akan pernah tumbuh menjadi institusi yang mandiri dan akuntabel jika setiap kali ada masalah, tentara selalu dijadikan pemadam kebakaran.
* Penyempitan Ruang Sipil: Ketika manajemen sosial hingga tingkat RT/RW diawasi oleh instrumen militer, alam bawah sadar publik akan digiring untuk memaklumi kontrol teritorial yang ketat, yang perlahan mengikis nalar kritis dan kebebasan demokratis.

Tentara yang profesional dan kuat harusnya focus menjaga kedaulatan negara dari ancaman luar, bukan ditarik masuk ke dalam perkampungan warga untuk mengurusi pos ronda dan logistik dapur. Supremasi sipil tidak boleh digadaikan hanya demi efisiensi semu yang pragmatis.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Harapan Rakyat Kandas di Janji Prabowo

Next Post

Prabowo Tidak Berani Mengembalikan Ke UU KPK Yg Awal – Mengejar Koruptor Hingga ke Antartika: Omon-Omon Belaka?

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau
Bencana

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan
Feature

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Next Post
PSN PIK 2 Terindikasi Dugaan Korupsi

Prabowo Tidak Berani Mengembalikan Ke UU KPK Yg Awal - Mengejar Koruptor Hingga ke Antartika: Omon-Omon Belaka?

Papua dalam Sorotan Dunia

Papua dalam Sorotan Dunia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
Komposisi Pansel KPK Didominasi unsur Pemerintah, Menarik Perhatian Jaksa Agung

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist